Pengorbanan Raisha

Pengorbanan Raisha
menemui Raisha di kampus


__ADS_3

Ronal nekat menemui Raisha di kampus. Dia sudah tak tahan lagi, sungguh hatinya tak bisa diajak kompromi. Semenjak tau Raisha menikah, malam itu dia begitu sedih. Laki-laki setampan Ronal bisa patah hati dengan wanita biasa. Memang Raisha cantik, tapi wanita cantik bukanlah dia seorang.


Ronal sudah hilang akal, begitu lama menunggu wanita yang di pujanya, kini harus ia relakan menikah dengan laki-laki lain.


"Memangnya siapa laki-laki itu. Apa kelebihan dia, sehingga Raisha memilih dia dari pada aku?."


Begitu banyak pertanyaan yang terlintas dikepalanya. Tak dapat juga ia menemukan alasan kenapa Raisha tak memilihnya. Bahkan dia pikir, laki-laki itu tak lebih tampan darinya.


Hendri memang tak lebih tampan dari Ronal, dia juga tak lebih keren dari Ronal, tapi wajahnya tak bisa juga dianggap bisa. Dia sangat menawan. Hendri memiliki mata yang indah, hidung yang mancung dan juga rambut yang tebal. Alisnya tertata rapi dan kulitnya agak kecoklatan semakin kontras bila berdekatan dengan Raisha yang putih pucat.

__ADS_1


"Apakah dia kaya raya, sehingga Raisha lebih memilihnya?."


Rasanya tidak mungkin, Ronal begitu mengenal Raisha. Dia bukan cewek matrealistis. Ronal juga bukan orang biasa, meski tak kaya raya tapi dia tergolong orang berada.


Ronal sengaja menunggu Raisha di parkiran, dia tau Raisha bakal datang hari ini. Menurut info dari sahabat Raisha yang dihubungi Ronal semalam. Raisha hari ini ada janji dengan dosen pembimbingnya. Lebih tepatnya hari ini Raisha mau mempersiapkan acara sidangnya minggu depan. Ada banyak hal yang harus dia urus hari ini.


Tebakan Ronal tak meleset, sepuluh menit kemudian Raisha muncul seorang diri. Dengan menggunakan dress merah maron sungguh sangat kontras dengan warna kulitnya. Dia semakin terlihat putih, dipadu padan dengan sepatu teplek putih dan tas selempang itu sudah ciri khas dia dari masa ke masa. Raisha memang tak pernah mau ribet dengan segala urusan baju dan perlengkapan yang dikenakan wanita pada umumnya. Dia biasa menguncir rambut panjangnya. Tapi hari ini dia memilih menggerai rambut hitamnya. Dimata Ronal, Raisha sungguh luar biasa. Seperti hari-hari yang telah lalu, jantung Ronal tetap berpacu lebih cepat dari biasanya ketika bertemu dengan wanita pujaannya. Sungguh tak berlebihan bila menyebut dia cantik, memang wajahnya yang teduh sungguh menggetarkan jiwa.


Setelah kejadian hari itu, Raisha benar-benar ingin menghindari Ronal. Bukan karna ingin melupakan, tapi lebih kepada keadaan yang tak mungkin lagi dia berhubungan dengan laki-laki lain. Teringat bagaimana papanya menampar malam itu, rasanya Raisha ingin menangis, dia begitu sedih. Itu kali pertama Haris memukul anak gadisnya.

__ADS_1


Dia juga merasa malu terhadap Hendri, seolah apa yang dituduhnya benar, Raisha tak ingin Hendri salah paham lagi. Dia benar-benar tidak ingin menemui Ronal.


"Maaf kak, aku...."


"Hanya sebentar, kumohon...aku tidak akan mengganggumu lagi. Bisa kita bicara sebentar?". Ronal terlihat sangat serius.


Raisha tak tega melihat Ronal memasang wajah yang sangat menyedihkan. Nampak guratan hitam di pelupuk matanya, bukti dia tak tidur di ketika malam.


Raisha mengangguk tanda setuju.

__ADS_1


"Kita bicara disitu saja kak," sambil menunjuk kantin yang biasa mereka singgahi.


Raisha sengaja memilih tempat yang ramai, agar tak ada yang salah paham ketika melihat dia bersama Ronal. Memang dia sedikit khawatir, kalau orang suruhan Hendri memantaunya di kampus lagi seperti kemarin.


__ADS_2