Pengorbanan Raisha

Pengorbanan Raisha
ingin mengakui semuanya


__ADS_3

Hendri buru-buru pulang ke rumah dia sudah tidak sabar ingin menjumpai istrinya. Rasanya dia kangen betul seperti sudah lama tak bertemu. Bahkan dia sudah lupa tujuannya menikahi Raisha.


Hendri mencari Raisha kesetiap sudut rumah dan tak mendapatinya disana. Bik Inah memberitahu Hendri kalau nyonyanya sudah berangkat dari tadi pagi di antar oleh Pak Diman. Hendri naik pitam, "Kenapa dia tidak minta izin aku dulu?"


Hendri menghubungi Raisha dan tak ada tanda-tanda dia akan menjawab telponnya. Hendri begitu kesal dan terus terusan menelpon. Sudah lima belas panggilan tapi Raisha tak kunjung mengangkat telpon darinya. Hendri mengirim pesan tapi Raisha tak juga membalas. Dia tak mau menunggu lama, diambilnya kunci mobil dan dengan cepat menyusul Raisha ke rumah orang tuanya.


Raisha yang berusaha menghubungi kembali suaminya tapi semuannya sudah terlambat Hendri sudah berada di depannya saat ini. Raisha terdiam diposisinya saat ini tak mampu berkata-kata.


"Bisa kita pulang sekarang?"


"Mas, aku..."


"Aku akan menunggumu diluar" Hendri tak ingin berlama-lama disana. Dia memilih menunggu Raisha di mobil. Raisha menemui mamanya di kamar untuk pamit pulang.

__ADS_1


"Kamu mau pulang sekarang, gak nginap disini aja. Udah malam ni"


"Lain kali aja ma, Mas Hendri udah jemput tuh"


"Dimana?, kok kamu gak suruh masuk?"


Udah masuk tadi ma, dia abis dari kantor belum ganti baju. Raisha pulang terus ya kasian dia belum mandi, belum makan lagi."


Ya udah, kamu hati-hati ya.


Hendri sudah tidak sabar ingin memarahi istrinya. Dia sudah berusaha memberikan kebebasan kepada Raisha tapi bisakah dia sedikit menghargainya selaku suami.


"Mas aku tadi..."

__ADS_1


"Kau sudah makan?, bagaimana kalau kita makan diluar?"


Raisha tak percaya Hendri tak memarahinya dia malah mengajaknya makan di luar. Raisha menjadi takut sebenarnya ada apa dengan suaminya.


"Mas kenapa kamu mengajak aku kesini?"


"Ya untuk makan, bagaimana kalau setiap malam kita makan diluar di tempat yang berbeda dan setelah itu kita belanja apa yang kamu suka. Kau suka apa, berlian, tas atau sepatu?"


"Mas, maksud kamu apa?" Raisha merasa sedih, Hendri menganggapnya seperti perempuan matrealistis. Memang waktu itu dia ingin Hendri mengganggapnya demikian tapi sekarang tak bisa kah Hendri melihat yang sebenarnya, Raisha mencintainya dan bukan kemewahan yang diinginkannya sekarang.


Hendri sengaja menyindir Raisha sedemikian rupa agar istrinya sadar dimana posisinya. Jujur Hendri tak tahu kenapa dia bisa bersikap melunak kepada istrinya. Sekarang malah dia menyesal telah mengatakan hal yang melukai hati istrinya dengan melihat mata Raisha yang tampak sedih karena perlakuannya saat ini.


"Kalau begitu kita pulang saja"

__ADS_1


"Mas kita udah disini lebih baik kita makan dulu."


Raisha berusaha mencairkan suasana. Jujur dia tak ingin bertengkar lagi dengan suaminya. Dia ingin berdamai dan sekarang saatnya dia jujur. Dia harus mengatakan yang sebenarnya. Dia ingin Hendri tahu kalau dia mencintainya dan tak perlu bersandiwara lagi karena dia sudah lelah.


__ADS_2