Pengorbanan Raisha

Pengorbanan Raisha
sudah habis kesabaran


__ADS_3

Sudah dua puluh lima menit Raisha hanya memandangi jendela kamar yang berkabut bekas rintik-rintik hujan yang tiba-tiba turun. Langit menjadi gelap setibanya dia dari kampus. Sungguh kali ini hujan mewakili perasaannya. Semenjak pertama kali mendengan nama Hendri Gunawan disebut oleh papanya, semenjak itulah air mata Raisha tak pernah kering. Ada saja hal yang membuat Raisha harus menangis, semua berkaitan dengan nama itu. Sungguh hidupnya identik dengan air mata. Tiada hari yang dilewatinya tanpa air mata. Seakan kebahagian enggan dekat dengannya. Tak kala seperti ini muncul rasa putus asa yang mendalam, tapi lagi-lagi dia berhasil menyakinkan diri bahwa Tuhan takkan memberi cobaan kepada hambanya diluar kemampuaannya. Akhirnya keyakinan akan suatu saat nanti pasti akan bahagia muncul dan itulah yang membuat dia bersemangat untuk melewati hari-hari ini.


Sore itu Hendri buru-buru pulang setelah menerima laporan dari asisten pribadinya. Kali ini Hendri tak akan luluh lagi dengan air mata buaya Raisha. Dia sudah cukup dipermainkan oleh anak kemarin sore yang belagak polos yang menjelma bak bidadari. Dia sudah bertekat tak kan lemah lagi dan mau memberi pelajaran pada Raisha.


"Beraninya dia menemui laki-laki itu. Dia kira aku main-main selama ini. Akan kubuktikan semua omonganku."


Hendri tergesa-gesa memarkirkan mobilnya di garasi. Dia masuk kerumah dengan berteriak memanggil nama Raisha.


Raisha...Raisha...Raisha...


Raisha yang sedang melamun dari tadi terkejut mendengar namanya disebut.


"Mas Hendri, ada apa ya mas Hendri teriak-teriak?." Raisha bertanya-tanya dalam hati apa lagi kesalahan yang diperbuat. Dia tak ingan tadi dia menemui Ronal.


Hendri tiba-tiba muncul di kamar. Kali ini siapa pun yang melihat wajah Hendri pasti akan merasa hal yang sama. Sungguh menakutkan. Raisha bergidik ngeri, jantungnya tiba-tiba seperti terhenti, dia benar-benar ketakutan.

__ADS_1


Plakkk..., suara tamparan terdengar nyaring beriringan dengan darah segar yang keluar dari sudut bibir kecil Raisha.


Raisha begitu terkejut, Hendri datang langsung menamparnya. Kakinya yang kecil tak sanggup menyeimbangkan badannya hingga dia terhuyung ke lantai. Ini kali pertama Hendri memukul seorang wanita dan ini bukan kemauannya. Dia sudah tersulut emosi dan tak sanggup menahan diri lagi. Bukan cuma sampai disitu, Hendri menarik Raisa agar bangkit dari lantai dan mencengkeram dagu kecilnya dengan satu tangan.


"Aku sudah peringatkan kamu agar jangan main-main denganku. Sudah cukup kau bersenang-senang. Sekarang kau rasakan bagaimana rumah ini kubuat menjadi neraka bagimu."


Raisha hanya bisa menangis, mulutnya kaku. Dia sudah pasrah kali ini, tak ada satu orang pun yang akan menolongnya.


"Beraninya kau menemui laki-laki itu lagi. Apa kau belum putus dengannya?."


"Apa? kau mau bilang apa lagi, tak kuijinkan kau berbicara walau sepatah katapun sekarang. Aku bukan orang bodoh kau tak bisa membohongi aku lagi."


"Kau tak mengindahkan perkataanku tempo hari, sekarang kau lihat saja apa yang bisa aku lakukan kepada pacarmu itu."


"Jangan mas, kak Ronal gak salah apa-apa. Aku bisa jelasin. Tolong jangan libatkan dia dengan masalah kita."

__ADS_1


"Waw, kau begitu takut pacarmu kenapa-napa. Beraninya kau membela dia didepan suamimu sendiri."


Raisha tak berani menjawab lagi. "Mas Hendri lagi marah besar, apa pun yang kukatakan saat ini percuma. Dia tak kan percaya."


Raisha hanya bisa menangis.


"Jangan kau pikir air matamu kali ini bisa menyelamatkanmu. Aku sudah terbiasa melihat air mata dari orang munafik sepertimu. Kucing kecil sepertimu harus diberi pelajaran."


Raisha hanya bisa pasrah. "Apa mas Hendri akan menceraikan aku malam ini."


"Kau bisa ceraikan aku bila tak bisa percaya lagi. Aku juga sudah lelah dengan sandiwara ini. Untuk apa menikah kalau hanya untuk saling menyakiti."


"Beraninya kau bicara begitu. Hendri hendak melayangkan satu tamparan lagi ke pipi Raisha tapi berhasil dia tahan. Dia berbalik badan dan menjauh dari Raisha. Dia bisa membunuh istrinya kalau seperti ini."


***

__ADS_1


__ADS_2