
Raisha tak melanjutkan tidur, dia memilih duduk di balkon kamarnya. Hingga pagi datang Raisha terbangun dia baru sadar kalau semalam dia tertidur di kursi balkon. Buru-buru dia masuk ke kamar. Hendri terlihat masi tertidur pulas. Raisha merasa lega, dia pun segera mandi dan berberes. Hari pertama dia menjadi istri, Raisha tak mau membuat Hendri kecewa. Buru-buru dia menyiapkan sarapan.
Di dalam kamar Hendri terbangun, kepalanya sedikit pusing.
Dia merasa heran, "siapa yang membawa ku pulang?".
Diliriknya jam sudah pukul 8 tepat. Dia pun bersiap untuk ke kantor. Seharusnya dia masi cuti, tapi tak ada guna dia menghabiskan waktu dengan wanita seperti Raisha.
"Dia dan keluarganya pasti sudah berencana menghancurkan aku, apa lagi Haris si musang berbulu domba".
Hendri sudah siap berangkat ke kantor. Raisha heran melihat Hendri sudah rapi dengan kemeja dan jas. Bukan kan mereka baru saja menikah,? dan hari ini dia sudah ke kantor.
__ADS_1
"Mas, kamu mau kemana?, gak sarapan dulu ?".
"Lain kali gak usah repot-repot siapin makanan untuk aku. Kamu urus aja urusan kamu sendiri".
Hendri berlalu begitu saja, Raisha terdiam. Dia tak habis pikir, kenapa Hendri memperlakukannya seperti ini. Raisha ingin menangis, tapi dia sudah kehabisan air mata. Dia sudah terlalu banyak menangis. Raisha sudah pasrah kali ini, dia akan memikirkan dirinya sendiri.
Akhirnya dia habiskan hari ini dengan mengerjakan skripsi. Seharusnya pengantin baru menghabiskan waktu berdua dengan pergi berbulan madu. Nyatanya kisah hidupnya tak seperti dalam film. Dia berusaha tegar bagaimana pun sekarang statusnya adalah seorang istri. Dia mesti banyak bersabar.
Melihat Raisha yang cuma diam, Hendri semakin marah.
"Apa kau bisu sekarang?.
__ADS_1
" Ma...maaf mas, aku cuma.., a... aku pikir kau lapar dan...Raisha lagi-lagi terdiam, dia gugup dan gemetar. Tak tau harus bicara apa lagi. Akhirnya dia memutuskan untuk diam dan membiarkan Hendri memarahinya.
Hendri pun kehabisan kata-kata, dia memilih masuk ke kamar dan mandi. Raisha buru-buru menyiapkan Hendri handuk dan baju ganti. Hendri kembali marah dilemparnya baju yang sudah di siapkan Raisha, dia memilih baju lain di lemari. Raisha tercengang melihat perlakuan Hendri padanya. Kali ini dia tak mampu membendung air matanya. Kedua matanya yang sayu basah oleh air mata yang sejak tadi di tahannya. Dia merasa sangat hancur, hatinya sakit. Sungguh dia tak menyangka Hendri memperlakukannya seperti ini.
Apakah dia begitu menjijikkan, apakah dia sebuah kotoran.
Hendri tak membiarkan dia menyentuh barang-barangnya.
Kau tak perlu repot menyiapkan keperluanku. Besok aku akan mencari pembantu untuk membantu mu mengerjakan pekerjaan rumah. Raisha hanya diam, buru- buru dia menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya.
Setelah berganti baju Hendri naik ke tempat tidur dan membelakangi Raisha. Raisha yang sejak tadi hanya berdiri tak juga pindah dari posisinya. Melihat Hendri yang begitu membencinya, nyalinya semakin menciut dia tak berani tidur disamping Hendri.
__ADS_1
Diambilanya bantal dan selimut di gelarnya selimut tebal di lantai. Kemudian tanpa bersuara dia baringkan tubuhnya di lantai. Malam itu dihabiskannya dengan menangis dalam diam. Tak terdengar suara, hanya air mata yang mengalir membasahi batal tidurnya.