Pengorbanan Raisha

Pengorbanan Raisha
makan bersama lagi


__ADS_3

Ronal kelihatan kebingungan, papa Raisha tiba-tiba menemuinya.


"Apa Raisha benar-benar tak ingin menjumpainya lagi sehingga dia sampai memberitahukan kepada papanya." Ronal tak percaya.


"Maaf om, saya tak bermaksud merusak rumah tangga Raisha. Saya kira tanpa saya merusak pun rumah tangganya memang sudah tidak baik. Dia tidak bahagia dengan laki-laki pilihan om."


"Kurang ajar beraninya kau mengajari orang tua. Apa maksudmu mengatakan dia tidak bahagia?"


"Pernikahan paksaan ini telah membuat Raisha menderita om. Semestinya om tau apa yang paling diinginkan Raisha."


"Kau sudah sangat lancang." Kuperingatkan kau, jangan dekati Raisha lagi !"


Haris meninggalkan apartemen Ronal dengan perasaan gusar. Apa yang dikatakan Ronal tadi membuatnya bertanya-tanya.


"Apa benar Raisha tidak bahagia dengan pernikahannya?"


Haris semakin dibuat bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Akhirnya dia memilih pulang kerumah.


***


Hendri yang telah meracuni pikiran Haris merasa senang setelah mendapat laporan dari Sendi kalau Haris menemui Ronal di apartemennya. Dia telah berhasil membuat Haris marah sekaligus tak tenang.

__ADS_1


"Oke sekarang tinggal menjalankan rencana kedua." Haris ingin segera pulang kerumah dia sudah tak sabar ingin mengerjai Raisha.


Di rumah Raisha sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti sidang. Dia sudah latihan dan sedang menyusun apa saja yang diperlukannya di hari sidang.


Hendri sudah berada di kamar dan Raisha tak menyadarinya sangking serius menata barang-barang yang akan dibawanya hari senin depan.


Hendri memperhatikan istrinya dari jauh. Raisha begitu sexy dimatanya. Dia memperhatikan istrinya dari ujung kaki sampai ke kepala, tampak dari belakang saja sudah bikin Hendri bergairah. Membayakan bagaimana dia menghabiskan malam di atas ranjang bersama Raisha membuat miliknya tiba-tiba mengeras. Hendri buru-buru menarik nafas dan membuang kasar. Dia harus segera mandi untuk menetralkan pikirannya yang sudah tak mengikuti hatinya.


Semakin lama dia bersama istrinya pikirannya semakin kacau. Niatnya pulang dari kantor untuk mengerjai Raisha membuat hidupnya bagai di neraka tapi apa yang terjadi, sekarang dia malah bergairah hanya dengan melihat istrinya dari belakang.


"Aku benar-benar sudah gila, ini tidak bisa dibiarkan."


Raisha yang baru menyadari kehadiran Hendri pun menyapanya dengan menampakkan senyuman termanisnya.


Hendri yang masi betah berdiri menatap istrinya dari jauh pun ikut terkejut karena tak menyangka Raisha sudah berbalik arah menghadapnya dan dia bisa-bisanya tak sadar karena sibuk dengan pikirannya sendiri.


Emmm....ya, aku lapar bisa kah kau menyiapkan makan sekarang?" Hendri mencoba menetralkan pikirannya. Dia ingin segera menghindari tatapan Raisha.


"Iya bisa, mas mau mandi dulu?


"Ya"

__ADS_1


Raisha merasa aneh dengan tingkah Hendri, sekali baik, kadang tiba-tiba marah. Kemarin katanya gak mau dilayani sekarang udah minta disiapkan makan.


"Apa mas Hendri memiliki dua kepribadian?" atau jangan-jangan...Ah sebaiknya aku tidak berpikir seperti itu"


Raisha buru-buru menata makanan di meja, dia merasa tidak ada yang kurang. Tak lama kemudian Hendri sudah berada di meja makan. Sepertinya dia benar-benar kelaparan. Raisha membantu Hendri mengambil nasi dan menata lauk didalam piring.


Hendri melahap makanan yang disediakan Raisha dengan cepat.


"Kau tidak makan?"


"Iya, aku akan makan juga mas"


Raisha takut Hendri marah lagi, dia buru-buru mengambil nasi dan melahapnya juga sama seperti Hendri.


Hari ini Raisha memasak ayam bakar madu, ini menu favorit dirumahnya. Mama Henni sering memasaknya dan Raisha sudah hafal betul bumbunya. Raisha teringat malam itu waktu Hendri pertama kali makan malam di rumahnya, sepertinya Hendri menyukai masakan ini. Makanya hari ini dia sengaja memasak ayam bakar madu lagi.


"Semoga saja mas Hendri suka". Ternyata benar, Hendri begitu lahap. Dia merasa makan di rumah begitu nikmat. Sudah lama dia tidak merasa seprti ini. Hidup dalam sebuah keluarga yang utuh. Menyantap makanan rumahan. Seketika dia teringan masa kecilnya. Dulu dia begitu bahagia bersama ibu dan ayahnya, makan bersama walau tak bisa makan enak setiap harinya. Tapi dia begitu merindukan masakan ibunya. Semua hanya sementara, akhirnya ibu meninggalkan Hendri dengan ayahnya dan sekarang ayahnya menjadi gila. Hendri berhenti makan. Dia tiba-tiba larut dalam perasaannya.


"Kenapa berhenti mas, mas udah siap makannya?"


"Aku sudah kenyang." Hendri berlalu begitu saja, dia meninggalkan Raisha di meja makan. Raisha begitu kebingungan, sebenarnya ada apa, kenapa mas Hendri tiba-tiba pergi padahal dia belum menghabiskan makanannya. Dia begitu lahap tadi, apa jangan-jangan...? Begitu banyak pertanyaan yang timbul dikepalanya.

__ADS_1


***


__ADS_2