
Hendri yang sedang menyetir melirik ke arah ponselnya yang bergetar satu kali tanda ada pesan yang masuk. Diliriknya siapa pengirim pesan tersebut. Raisha meminta izin kepadanya untuk berangkat ke kampus. Hendri menghentikan mobilnya, dia coba memahami maksud dari pesan Raisha yang dikirim padanya.
"Mau apa lagi dia?"
Hendri yang penasaran memutar arah kemudi dan segera menyusul Raisha ke kampus. Dia masi tak percaya dengan istrinya. Hari ini dia akan lihat sendiri apa yang dilakukan Raisha.
Tiba di kampus Raisha menemui ketiga sahabatnya. Dia begitu bahagia hari ini, sudah lama tidak duduk bersama dengan mereka. Raisha melirik ponselnya tak ada tanda-tanda kalau suaminya akan membalas pesannya. Dia cuek saja, dia pikir suaminya sedang sibuk tak sempat membalas pesannya.
Tapi apa yang terjadi, Hendri malah muncul didepan matanya. Raisha terbangun dari duduknya. Mulutnya sedikit terbuka, dia tak percaya Hendri menyusulnya ke kampus.
"Demi apa Tuhan, semoga mas Hendri tak membuat kekacauwan disini." Raisha yang kebingungan hanya diam saja sampai Ike menyadarkannya dengan menyenggol bahunya.
"Sa, suami kamu tu, kok kamu bengong aja."
"Mas, kamu kok nyusul aku kemari?"
"Memangnya aku gak boleh nyusul kamu?."
__ADS_1
"Emmm... boleh kok"
"Cie...cie....kita masi ada disini lo, jangan lupain kita." Ike ikut nimbrung aja melihat Raisha salah tingkah di depan Hendri.
"Emm, kenalin ni Ike, Uti dan Risna." Raisha memperkenalkan ketiga temannya kepada Hendri.
"Kita kan udah kenalan waktu pernikahan kalian, masak lupa sih, Risna ikut bicara."
Ya, saya ingat. Kalian trio kwek kwek waktu pesta pernikahan kami kan." Hendri berusaha melucu dan Raisha tak menyangka dia bisa bersikap manis. Seratus delapan puluh derajat berbanding terbalik dengan sikapnya yang pemarah.
"Bagaimana kalau kita pergi makan." Hendri mencoba berbasa basi dengan mengajak mereka pergi.
"Pas banget kita belum sarapan nih." Uti ikut bicara, membuat yang lain tertawa.
"Malu-maluin banget sih Tik," Risna ikut menimpali.
"Kamu bilang tadi lapar ngajak kita duduk di kantin."
__ADS_1
Hendri ikut tertawa, "kalian lucu-lucu ya. Mau makan disini atau kita cari tempat lain."
"Disini aja mas," Raisha meminta Hendri untuk duduk di kantin saja. Sebentar lagi aku harus jumpain dosen pembimbing buat acara sidang hari senin."
"Oke kalau gitu kita pesan makan disini aja." Hendri membuka menu di kantin kampus. Kebetulan dia udah sangat lapar berhubung dia belum sarapan.
"Kamu gak masak tadi di rumah?. Suami kamu antusias banget tu ngeliat menu." Ike berbisik ditelinga Raisha.
Raisha hanya diam, dia tak tau harus menjawab apa. Mana mungkin dia bilang kalau mas Hendri gak mau makan masakan dia, sementara sikap Hendri di depan temannya sangat baik.
Raisha hanya diam saja, seakan waktu berjalan lambat. Dia ingin cepat-cepat mengajak Hendri pulang. Dia benar-benar takut kalau sampai Ronal menemuinya di kampus. Tapi apa yang paling dihindarinya malah terjadi. Ronal tiba-tiba muncul dihadapannya dan apa yang terjadi sudah ada dikepalanya.
Tiba-tiba keringat dingin membasahi sekucur tubuhnya, Raisha begitu ketakutan. Melihat Ronal datang menghampiri Raisha, Hendri seketika naik darah. Dia bangun dari duduknya.
"Sudah kuduga, dia pasti datang menemui laki-laki itu."
***
__ADS_1