
Mungkin benar dia sedang jatuh cinta, Raisha sudah tak peduli statusnya saat ini, mau itu istri bohongan atau istri sementara yang jelas dia sedang bahagia. Dia akan berusaha menjadi istri yang sesungguhnya, bahkan dia tak peduli kalau Hendri tak mencintainya. Kebersamaan yang telah dilaluinya bersama Hendri mau tidak mau menjadi sebuah kebiasaan. Diketika malam dia akan menunggu Hendri pulang dan dipagi harinya dia akan menyiapkan sarapan. Rutinitas yang dilaluinya selama ini menjadi sebuah kebiasaan hingga memikirkan suaminya saja sudah menjadi sebuah kebutuhan. Sudah barang tentu dia akan jatuh cinta kepada suaminya. Meski Hendri kerap memarahinya entah mengapa Raisha bisa menyukainya.
Malam ini terasa begitu singkat, rasanya baru sebentar matanya terpejam. Pancaran sinar matahari masuk dari ventilasi kamar menyilaukan matanya. Hendri tak membiarkannya tidur semalaman. Menjelang pagi Raisha baru bisa tertidur nyenyak. Dia terpaksa bangun, hari ini dia mau menjenguk mamanya. Dipungutnya baju yang berserakan di lantai. Dia tampak acak-acakan, mengingat kejadiaan semalam membuat mukanya memerah. Bisa-bisanya dia keceplosan begitu, seharusnya dia jual mahal sedikit. Ah dia sudah tak peduli, kelemahannya tak bisa menyembunyikan perasaan. Dia benar-benar payah dalam hal menyimpan perasaan.
Pagi ini dia ingin menyiapkan sarapan untuk suaminya, dia akan berperan menjadi istri yang sesungguhnya. Kalau pun Hendri tak mencintainya dia sudah bertekat akan berusaha membuat Hendri menerimanya sebagai istri yang sesungguhnya bukan istri sementara.
Di dapur bik Inah sudah mencuci sayur, merajang bawang dan cabai. Raisha akan membuat menu spesial hari ini. Dia akan memasak ayam. Dia tahu Hendri menyukai masakannya.
"Biar saya saja nyonya"
"Gak apa-apa bik, bibik kerjakan yang lain ya, ini biar saya yang masak."
"Kalau begitu saya akan menggoreng kerupuknya"
"Iya, silahkan bik"
Bik Inah senang bisa memiliki majikan yang baik seperti Raisha. Sebelumnya Bik Inah bekerja di rumah Hendri yang lama. Sekarang dia disuruh oleh Hendri pindah kesini untuk membantu Raisha.
__ADS_1
"Anak bibik dimana?"
"Anak bibik udah pada nikah, sekarang tinggal dirumah mereka masing-masing."
"Jadi bibik sekarang berdua saja sama Pak Diman?"
"Iya nyonya"
Hendri terbangun dan tak melihat Raisha disampingnya. Dia berteriak seperti anak kecil yang kehilangan ibunya.
"Raisha...,Raisha..."
"Ada apa lagi sih Mas Hendri?, kayaknya kumat lagi dia." Raisha cepat-cepat berlari ke kamar takut Hendri marah lagi. Dia tak ingin bertengkar pagi-pagi.
"Ada apa mas, kok kamu teriak-teriak?"
"Kamu kemana aja?"
__ADS_1
"Aku kan lagi di dapur"
"Untuk apa kamu di dapur, siapa yang suruh kamu kesana?"
"Ya gak ada yang suruh, aku sedang masak mas."
"Siapa yang suruh kamu masak?, kan udah ada Bik Inah."
"Aku mau masak untuk kamu mas, kan gak ada salahnya."
"Oh ya udah kalau gitu, kamu lanjut aja. Aku mau mandi dulu"
"Udah, gitu aja?" Raisha merasa heran dengan sikap Hendri yang seperti anak kecil. Dia teriak-teriak sambil marah-marah memanggil Raisha hanya untuk menanyai itu dan ini sangat kekanak-kanakan menurut Raisha.
"Ya, memang kau mau apa lagi? atau jangan-jangan kau mau kita mengulang kejadian semalam diranjang. Aku masi kuat"
"Mas, kau..." Raisha kesal digoda oleh Hendri terus, dia memilih cepat-cepat keluar kamar dan melanjutkan kegiatannya memasak di dapur.
__ADS_1
***