
Ronal masih tidak percaya kalau ini akhir dari sebuah pengharapannya. Bahkan setelah tahu Raisha menikahpun dia masih mengharapkannya. Mungkin ini saatnya dia menyerah tapi hatinya masih saja tidak terima. Dering suara telpon mengejutkannya, dia enggan mengangkat tapi melihat siapa yang menghubunginya dia terpaksa menjawab panggilan tersebut.
***
"Mas, bagaimana kalau aku pulang ke rumah mama saja. Aku bosan sekali disini, lagian belakangan ini aku sering mual. Hanya beberapa bulan saja sampai aku gak muntah-muntah lagi."
"Aku sama siapa disini?."
"Kan ada Bik Inah sama Pak Diman."
"Terus aku tidurnya sama mereka?"
"Haha...,memangnya mas anak kecil perlu ditemenin tidur."
"Terus kalau mau ngapa-ngapain gimana?"
"Kan bisa suruh Bik Inah"
"Kalau mau dimandiin juga suruh dia?"
"Haha...,jadi sekarang gak bisa mandi sendiri?" Raisha tak tahan ingin tertawa.
"Sebenarnya mas kenapa sih?. Nanti kalau kangen, mas kan bisa kesana nyusul aku. Boleh ya..."
__ADS_1
"Oke tapi dua minggu saja."
"Yah..."
"Emang kamu gak takut aku di godain orang."
"Emang ada yang godain?"
"Banyak"
"Siapa, Yulis?"
"Emang dia aja perempuan di dunia ini?"
"Oke, bisakah kita mengakhiri pembicaraan ini?"
Hendri tidak mau memperpanjang obrolan yang membuatnya naik darah. Memikirkan ancama dari Yulis yang tak beralasan membuat Hendri muak. Dia sudah memutuskan untuk menemui ibunya hari ini. Sendi telah menemukan dimana keberadaan ibu Hendri dan ini membuat Hendri bingung, apa dia harus mendengarkan perkataan ayahnya.
"Kau mau kemana, kenapa sudah rapi begitu?"
"Mas lupa, aku kan mau ke rumah mama. Aku perginya bareng mas ya."
"Ya baiklah, ayo kita berangkat."
__ADS_1
Di mobil Hendri hanya diam saja. Raisha melihat ekpresi Hendri yang sedikit tegang membuatnya ingin bertanya, tapi mengingat kejadian yang lalu dimana dalam keadaan yang tidak tepat terlalu banyak bertanya memicu pertengkaran diantara mereka. Raisha memutuskan untuk diam.
Hendri mengantar Raisha menemui orang tuanya. Di rumah tampak Haris yang hendak berangkat ke kantor. Dia melihat Hendri dengan pandangan tidak suka. Dalam hatinya bertanya-tanya, ada apa ini kenapa anaknya membawa koper ke rumahnya. Apakah mereka memilih berpisah?.
Henni ikut terkejut dengan kedatangan Raisha yang mendadak dan apa lagi dia membawa koper. Jantungnya dag-dig dug. Mungkinkah...?" Hanni reflek menutup mulutnya, dia tampak ketakutan.
"Emmm...kalian. Pagi-pagi begini...ada apa?" Hanni tak bisa berkata-kata. Tenggorokannya tiba-tiba kering. Dia ketakutan.
"Emangnya Raisha gak boleh kemari?"
"Enggak, maksud mama kamu membawa koper begitu..."
"Oh...kejutan...,aku berencana menginap disini sama mama beberapa minggu. Aku kangen mama dan belakangan ini aku sering gak enak badan ma. Mas Hendri sibut sekali belakangan ini, dari pada aku sendiri di rumah mending aku pulang kesini."
Oh, tentu saja boleh. Henni masih tidak percaya. Dia merasa aneh dengan kepulangan Raisha, tapi dia berusaha tenang dan seolah percaya.
"Duduklah dulu, nak Hendri bagaimana kabarmu. Sudah lama mama tidak melihat kamu?"
Ya, aku baik seperti yang mama lihat. Raisha memintaku mengantarnya kemari. Kupikir tidak ada salahnya dia tinggal disini sementara waktu, karena belakangan ini aku sedikit sibuk.
"Yaya,..papa kenapa hanya berdiri ayo duduk dulu dengan Hendri, jangan buru-buru berangkat. Kalian minum kopi dulu ya. Mama panggilkan Bik Yem dulu untuk membuat kopi."
Henni meninggalkan Haris dengan Hendri di ruang tengah. Raisha menyusulnya ke dapur. Tampak kecanggungan diantara mereka.
__ADS_1
"Apa maksudnya dari semua ini?"