Pengorbanan Raisha

Pengorbanan Raisha
bertemu teman-teman


__ADS_3

Hendri, Mita dan ibunya berangkat menuju Singapur. Awalnya Marisa menolak ajakan Hendri untuk menemaninya berobat ke Singapur. Dia teramat malu dengan Hendri yang dulu pernah ditinggalkannya, tapi Hendri memaksa untuk ikut. Dia jadi lebih posesif dengan ibunya. Kemarin Marisa meminta Hendri menjaga adiknya ketika dia meninggal nanti, dan Hendri menyanggupi keinginan ibunya dengan syarat Marisa akan serius berobat. Meski dia pernah kecewa dengan ibunya, tapi Hendri adalah manusia biasa. Dia tak mampu terus-menerus membenci ibunya.


Dia memaksa untuk ikut, dan Marisa sangat senang. Inilah yang selama ini dia inginkan. Bertemu dengan anaknya dan bersama-sama menghabiskan sisa umurnya.


***


Sudah tiga hari Hendri barada di Singapura. Raisha sudah sangat suntuk berada di rumah terus. Semua anggota keluarganya menjadi sangat posesif. Dia bahkan tidak sebebas di rumahnya. Ketiga sahabatnya sudah beberapa kali mengajaknya keluar tapi lagi-lagi dia menolak karena mama Henni melarangnya keluar rumah. Menurutnya keadaan Raisha belum baik, dia masih sering muntah.


"Ma, jadi Raisha tidur aja ni ceritanya. Raisha bosan ma."


"Iya, lagian kamu belum sehat betul. Nanti kalau kenapa-napa gimana?"


"Aduh ma, Raisha kan perginya gak sendiri. Bentar aja ma, pikiran dah buntu ni berputar-putar di kamar aja."

__ADS_1


"Oke, tapi gak lama-lama. Kamu di antar supir ya."


"Gak usah ma, nanti teman-teman Raisha jemput kok. Nanti Raisha bareng mereka aja."


***


Hendri tak menyangka kebersamaan dengan ibunya berlangsung sangat singkat. Pagi ini Marisa sudah pergi menghadap Tuhan. Air mata mengalir deras diwajah Mita. Bagaimana tidak, ibu yang selama ini bersamanya telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Tinggallah dia seorang diri. Dia terduduk di lantai rumah sakit. Bagaimana dia akan melewati hari-hari ini seorang diri. Dia termenung cukup lama. Hendri yang sedang sibuk mengurus administrasi dan kepulangan jenazah melihat Mita terduduk dilantai dengan lesu ikut menghampirinya.


"Ayo cepat bersiap kita akan pulang."


***


Hendri mencoba menghubungi Raisha, tapi tak ada jawaban. Hendri mulai kesal, dia benar-benar lelah dalam beberapa hari ini. Banyak yang harus dibereskannya. Belum lagi urusan kantor yang sudah beberapa hari dia tinggalkan.

__ADS_1


Raisha sangat senang bisa berkumpul dengan ketiga sahabatnya. Mereka sudah lama tidak ngumpul. Hari ini mereka memilih untuk belanja dan akhirnya makan siang. Dia tak tahu kalau Hendri telah menghubunginya beberapa kali.


"Kita harus sering-sering begini. Biar mood kita balik lagi." kata Ike sambil merebahkan diri di kursi.


"Iya, betul kata Ike. Bentar lagi Raisha lahiran, dia udah gak bisa jalan-jalan bareng kita. Makanya sekarang waktu yang tepat buat kamu jalan-jalan Sa." Uti ikut menimpali.


"Iya, kapan kita jalan lagi. Aku juga bosan di rumah terus. Sekali-kali kita nonton dong. Dah lama kita gak nonton sama-sama." Raisha juga antusias sekali menanggapi ajakan Ike.


"Kita sih gak masalah, kapan kamu bisa aja. Kalau kamu gak pening, besok pun kita bisa pergi lagi."


"Haha...kalian ini kalau bagian pergi-pergi cepat banget."


"Ya dong"

__ADS_1


"Besok kita liat dulu ya, abisnya susah nih minta izin sama mama. Peraturan lebih ketat disana sama di rumah sendiri. Haha..." Raisha membayangkan mamanya bakalan mengomel lagi kalau dia jadi pergi lagi besok bareng teman-temannya.


__ADS_2