
Hendri tak mengerti dengan sikapnya sendiri. Dengan mudahnya dia percaya dengan ucapan istrinya. Lebih tepat hatinya sedang bahagia. Dia tak menyadari akan perasaanya sendiri.
Raisha memilih mengakhiri pembicaraan dengan Hendri. Dia begitu lelah dan ingin segera tidur. Tapi Hendri tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Kau mau kemana?"
"Aku mau tidur"
"Bisakah kau pijat pundakku, rasanya pegal sekali"
Raisha sedikit tercengang, "Ada apa dengan Mas Hendri dalam sekejap sikapnya berubah?"
"Kenapa?, kamu gak mau?"
__ADS_1
"Enggak mas, aku mau kok. Ayo di kamar saja biar mas bisa berbaring"
Jantung Hendri berdetak sedikit lebih cepat. Mendengar Raisha mengajaknya ke kamar, perasaanya tak karuan. Terbersit di hatinya ingin melewati malam yang panjang dengan istrinya.
Raisha sudah duluan ke kamar dia mengambil minyak gosok yang biasa digunakannya bila sedang kelelahan atau ada kala kakinya pegal-pegal. Menurutnya minyak itu sangat mujarab tapi baunya sedikit menyengat kalau di pakai malam hari tak masalah karena akan hilang keesokan harinya.
Rasa kantuk mulai mendatangi tak kala terlihat Raisha sudah menguap untuk kesekian kalinya. Hendri belum juga menyusulnya ke kamar.
"Mas, kamu dimana?" Raisha memanggil Hendri tapi tak ada jawaban. Dia mencari Hendri ke ruang kerjanya tapi tak menemukannya. Raisha baru menyadari sepasang tangan memeluknya dari belakang. Pinggangnya yang ramping begitu mudah untuk digapai. Raisha merinding, dia tahu siapa yang memeluknya. Raisha hanya diam seolah kakinya lumpuh. Dia tak mampu bergerak, Hendri semakin mengencangkan pelukannya. Dia sengaja merebahkan kepalanya bersandar dibahu istrinya. Deru nafasnya sangat terasa di leher putih Raisha. Raisha membiarkan Hendri menghirup aroma tubuhnya. Raisha pun tak mengerti dengan sikapnya saat ini, seolah ini momen yang ditunggunya. Buru-buru dikembalikannya kesadaran yang hilang dalam beberapa menit yang lalu. Dia membalik badan dan melepaskan pelukan Hendri. Raisha sedikit gugup tapi dia merasa kalau ini tak boleh terjadi. Dia dan suaminya tak saling mencintai bagaimana dia akan menghabiskan malam yang panjang bersama. Kalau cuma ***** sesaat yang nantinya timbul penyesalan diakhir Raisha tak mau itu terjadi. Ini terlalu beresiko sementara hubungannya dengan Hendri tak seperti pasangan lainnya. Rumah tangganya hanya rekayasa dan orang yang memainkannya sangat kejam tak mungkin akhirnya berbuah manis seperti hanyalan Raisha. Dia tak ingin menahan luka seorang diri kalau pada akhirnya dia jatuh cinta kepada suaminya sendiri.
"Kenapa, kau tak suka kupeluk?" Hendri sedikit marah, dia merasa tersinggung.Gairah yang semula muncul berubah menjadi kemarahan.
"Tidak, hanya saja hubungan kita..."
__ADS_1
"Kau berharap menikah dengan pacarmu dan aku telah mengacaukannya, itu yang kau maksud?"
Bukanya ini rencanamu juga. Sekarang begini saja, aku penuhi keinginanmu dan kau penuhi keinginanku."
"Maksudnya, keinginan yang mana?"
"Kau gila akan uang, aku akan memberimu banyak uang dan fasilitas mewah yang kamu inginkan. Aku ingin kamu temani tidurku malam ini."
Raisha tak percaya suaminya bisa berkata seperti itu. Hendri menganggapnya bak perempuaan m*r*h*n dengan menawarkan uang untuk memuaskannya malam ini. Semula Raisha pikir Hendri menginginkan dirinya karena memang ada rasa suka dihatinya meskin bukan cinta tapi dalam sekejap perasaan yang hinggap dihatinya mendadak hilang. Dia semakin membenci suaminya.
Walau tak setampan Ronal tapi Hendri adalah pria yang sangat menarik. Wajahnya berkharisma dan dia memiliki tubuh yang atletis. Wajar kalau Raisha juga bisa tertarik terhadap Hendri apa lagi mereka telah menghabiskan beberapa hari dalam rumah bahkan dalam kamar yang sama. Seorang wanita dan seorang pria dewasa meski tak saling mengenal kalau ditempatkan dalam satu ruangan yang sama berhari-hari bakal saling suka juga, apa lagi sepasang suami istri yang sah dimata agama dan negara tentu dengan mudah itu terjadi.
***
__ADS_1