
Raisha terkejut mendengar suara pintu yang terbuka.
"Apa mas Hendri yang pulang?".
Dilihatnya Hendri masuk ke kamar mandi. Raisha bangun dari tidurnya, dia memilih duduk di lantai tempat tidurnya. Sebenarnya dia mau menyiapkan baju ganti untuk Hendri, tapi dia teringat kalau Hendri melarang Raisha mengurus keperluannya. Akhirnya dia hanya diam dan menatap ke pintu kamar mandi. Lebih tepatnya dia menunggu Hendri. Raisha mau menanyakan pada Hendri apa yang dia perlukan, sebelum Raisha memilih tidur lagi.
Hendri keluar dengan menatap Raisha.
"Kenapa kau bangun?".
"Mas, kenapa wajahmu?". Raisha terkejut melihat pipi bagian bawah yang dekat ke bibir Hendri memar.
"Siapa yang memukulmu?".
Raisha mencoba mendekati Hendri, tanpa permisi dia memegang pipi Hendri yang kelihatan bengkak dan sedikit mengeluarkan darah.
"Mas kau berdarah?"
Merasa ada yang tegang pada dirinya, Hendri cepat-cepat menepis tangan Raisha yang memegangi pipinya.
Hendri jadi gila kalau berlama-lama dekat dengan Raisha.
"Tidak apa-apa,nanti sembuh juga".
__ADS_1
"Tapi mas...,".
"Aku bilang tidak apa-apa, kenapa kau memaksa?".
Lagi-lagi Hendri membentak Raisha. Tanpa sadar air mata yang sengaja ditahannya jatuh juga. Raisha tak mau menjadi wanita yang lemah, dia pun tau mau lagi menangisi nasibnya. Cuma kali ini..., mungkin karena sudah terlalu sering dia menahan tangis, kali ini lolos juga air mata membasahi pipi putihnya.
Raisha sudah bertekat untuk bertahan, tapi kali ini mungkin dia akan menyerah. Raisha menyakini suatu saat rumah tangganya akan baik layaknya rumah tangga orang lain. Hendri pun yang keras bisa sedikit lembut dengannya. Tapi sayang, sepertinya dia keliru dalam menilai suaminya. Hendri adalah orang yang paling keras yang pernah dia temui. Akhirnya dia memilih menyerah dengan hubungan ini.
"Aku akan mengemasi barang-barang ku, kupikir tak ada gunanya aku disini".
Raisha membalik badan membelakangi Hendri.
"Kau mau kemana?".
"Kau pikir bisa pergi begitu saja dari rumahku. Biar kau tau siapa dirimu sekarang, kau bukan lagi anak gadis orang. Kau tak bisa seenaknya pulang kerumah orang tua mu tanpa seizin ku".
"Jadi untuk apa juga aku disini?"
Tangis Raisha seketika pecah. Dia merasa dipermainkan oleh Hendri.
"Tak perlu alasan bagi mu untuk tetap berada disini".
"Kau tak akan bisa pergi dari sini, sampai aku menginginkanmu pergi".
__ADS_1
Raisha ingin mati saja mendengar penuturan Hendri. Sebegitu tak berharganya dia dimata Hendri.
"Kenapa tak ada yang menginginkan aku", dalam hati Raisha menangis. Papa pun tak menginginkan aku, dia rela menukar aku dengan uang.
Raisha hanya berdiri mematung, tercengang dengan penuturan Hendri. Tak bisa berbuat apa-apa, bila terus membuat Hendri marah, maka dia akan mengancam Raisha seperti biasanya.
Karena sudah terlalu sedih, Raisha sudah tidak peduli, bahkan kalau malam ini Hendri menginjak-injak harga dirinya, dia sudah pasrah. Dia memberanikan diri menjawab Hendri.
"Jadi aku harus bagaimana agar kau menyukaiku?. Aku harus jadi seperti apa agar kau mencintaiku?. Apa harus jadi seperti Yulis kekasihmu?".
Hendri begitu terkejut, dari mana Raisha tahu Yulis adalah kekasihnya. Hendri tiba-tiba terdiam, lidahnya kelu. Dia sangat benci dengan nama itu, dan kini Raisha berani menyebut nama itu dihadapannya.
"Tau dari mana kau nama itu?".
"Beraninya kau menyebut nama perempuan mur*h*n itu didepan ku".
"Sekali lagi kau menyebut nama itu, kurobek mulutmu".
"Kenapa kau harus marah, dia orang yang kau cintai kan? Bahkan kau selalu memanggil namanya dalam mimpi".
Hendri hanya terdiam, dia tak menyangka Raisha mendengar dia menyebut nama Yulis dalam setiap mimpinya.
Hendri tak menyangka pula Raisha sudah begitu berani menjawabnya.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana?" Raisha terus menangis, dia begitu sakit hati. Ada perasaan aneh dalam hatinya ketika menyebut nama Yulis, apa dia cemburu?.
Tak mungkin aku bisa menyukai orang yang begitu keras seperti mas Hendri.