Pengorbanan Raisha

Pengorbanan Raisha
siapa wanita yang bersamamu tadi


__ADS_3

Raisha ingin marah tapi bagaimana lagi dia sedang berperan menjadi wanita matrealistis seperti yang dia katakan kepada Hendri tempo hari. Dia terpaksa diam dan memilih mengabaikan ucapan Hendri yang menyakiti hatinya. Jujur Raisha merasa bahagia Hendri menyiapkan segalanya untuk dia malam ini, dia tak mau munafik, Hendri berhasil membuatnya berbunga-bunga tapi disela-sela kebahagiaannya dia harus mendengar ucapan Hendri yang menyakiti hatinya. Seakan takdir terus mempermainkannya, enggan memberinya sedikit kebahagiaan. Raisha sadar posisinya kini, mereka hanya sedang memerankan tokoh utama dalam dalam filem. Sementara dimata Hendri dia hanya sebagai permainan balas dendamnya kepada Haris. Itu yang ada dipikirannya saat ini. Bahkan dia tak berani mengbayangkan kalau yang dilihatnya malam ini nyata. Memang Hendri menyiapkan ini untuknya tapi Raisha tetap pesimis kalau Hendri hanya ingin mengejeknya dengan memberikan segalanya malam ini.


"Kau hanya ingin melihatnya saja?"


"Biar kucoba pasangkan, sepertinya ini pas dengan ukuran jarimu." Hendri langsung memasangkan cincin yang dibelinya dijari manis Raisha. Benar saja begitu pas dijarinya. Raisha hanya diam, hatinya sebenarnya sakit andai saja pernikahan ini sungguhan, betapa bahagianya dia malam ini.


Raisha permisi untuk ke toilet, dia sudah tak tahan, air matanya hampir saja jatuh. Dia tak mau menangis didepan Hendri. Raisha merapikan riasanya yang sedikit berantakan. Dia ingin menangis lagi tapi ini bukan waktu yang tepat dia harus kembali kemeja, karena Hendri sudah menunggunya.


Raisha melihat Hendri berbicara dengan seorang wanita, dia sangat cantik dan seksi. Raisha bingung, apa dia langsung kesana menghampiri Hendri atau membiarkan mereka selesai berbicara. Dari kejauhan Raisha tidak bisa mendengar percakapan mereka. Dia memilih diam dan tak bergerak ditempatnya hingga Hendri melihatnya berdiri begitu saja. Dia pun datang menghampirinya.


"Ayo kita pulang"


Raisha merasa bingung, bahkan dia belum menyelesaikan makan malamnya. Hendri malah mengajaknya langsung pulang. Dia melihat wajah Hendri begitu serius, dia ingin menanyakannya tapi dia juga sedang tak ingin bicara dia masi merasa sedih. Hendri buru-buru mengajaknya pulang, menyeretnya ke mobil.

__ADS_1


Raisha masih penasaran, dalam hatinya bertanya-tanya siapa wanita itu.


Di rumah Hendri begitu gusar dia mondar mandir di balkon kamar. Dia mencoba menghubungi seseorang. Sepertinya dia sedang kesal, Raisha hanya memperhatikannya dari dalam kamar.


Raisha memilih duduk di ranjang dengan pandangan kosong dia sedang melamun. Bahkan dia belum mengganti bajunya.


Hendri masuk ke kamar dan melihat Raisha hanya duduk termenung di ranjang.


"Kau tidak bertanya kenapa kita buru-buru pulang?"


"Maksudmu apa?, memangnya kapan aku tidak menjawab pertanyaanmu?"


"Kamu tadi sedang kesal, apa mungkin kamu akan menjawab pertanyaanku?"

__ADS_1


"Ya terserah kau saja. Bisa kita tidur sekarang?" Hendri begitu kesal mendengar jawaban Raisha yang begitu ketus. Dia memilih tidur dengan kemejanya yang dipakai tadi.Dia enggan menggantinya.


Raisha mengganti baju dan langsung tidur disebelah Hendri. Hatinya masih sakit, dia tidak bisa tidur. Hendri tidur membelakanginya, dan Raisha masih ingin bicara lebih tepatnya dia ingin berdebat.


"Mas, siapa wanita tadi yang bersamamu?"


Hendri tak langsung menjawab. Raisha pikir Hendri sudah tidur. Raisha memilih diam.


"Dia mantan pacaraku" Hendri akhirnya menjawab pertanyaan Raisha setelah beberapa saat diam".


Raisha terkejut dia memilih duduk dan bersandar. "Apa itu Yulis?"


"Kau tau Yulis?"

__ADS_1


"Tentu saja, kau selalu memimpikan dia. Apa dia begitu spesial?"


"Tidak"


__ADS_2