
Sudah dua minggu Raisha hanya berbaring di tempat tidur. Rasa mual yang sertiap harinya datang membuat dia semakin lemah. Pagi itu ketika Hendri hendak berangkat ke kantor Raisha mengantarnya sampai ke garasi.
"Kau tidur saja tak perlu mengantarku sampai depan."
"Mas, kamu pulang jam berapa?"
"Kenapa, kamu kangen ya gak bisa jauh dari aku?"
"Siapa juga yang kangen, nanti malam kita makan diluar bisa gak?"
"Emangnya kamu mau makan apa?"
"Aku pengen makan yang pedas-pedas?"
"Bagaimana kalau nanti malam kita makan bakso?"
"Aku gak suka bakso?"
"Mas, aku yang pengen makan bakso. Kalau kamu gak suka, ya gak usah dimakan. Nemenin aku aja."
"Jadi aku liatin kamu aja, mending di tempat tidur saling liat-liatan dari pada di tempat bakso?"
"Mas..., aku serius"
"Aku juga serius"
Hendri sengaja membuat kesal istrinya. Entah mengapa wajah cemberut Raisha begitu menggemaskan di matanya. Sekarang membuat kesal Raisha sudah menjadi hobinya dan dia sangat menikmati ini.
"Mas udah ah"
__ADS_1
"Udah apanya, kok belum diapa-apain udah geli?"
Akhirnya Raisha tak tahan, yang tadinya dia mau marah jadi malah tertawa.
"Udah cukup becandanya, nanti kamu telat."
Hendri melirik jam tangannya, benar saja dia bisa telat kalau terus bercanda dengan istrinya.
Raisha merasa sangat bosan kalau hanya berbaring saja, dia pikir mungkin akan sangat menyenangkan kalau dia bisa mengunjungi mama Henni.
Pak Diman mengantarkan Raisha ke rumah mama Henni. Sesampainya disana mama Henni terkejut bukan main melihat Raisha sudah berada di rumahnya.
"Sayang kamu kok gak kabarin dulu mau datang?"
"Memangnya ini bukan rumah Raisha lagi mesti kalau mau pergi kasih tahu dulu?"
"Raisha bosan di rumah terus. Pengen ketemu mama."
"Iya mama juga pengen main ke rumah kamu. Tapi gak boleh sama papa. Sebenarnya ada masalah apa sih papa kamu sama nak Hendri?"
"Ya gak ada masalah apa-apa ma. Seperti yang Raisha bilang tadi, mungkin ada masalah pekerjaan."
"Setiap mama tanya papa jawabnya gak da masalah apa-apa sama kayak kamu ini jawabannya. Waktu mama tanya kenapa gak boleh ke rumah kamu, papa bilang nanti perginya sama-sama waktu papa gak sibuk. Nyatanya sibuk terus mama sampai bosan."
"Kan mama tinggal telpon Raisha aja suruh kemari. Gak perlu mama yang kesan."
"Mama pengen juga lah liat rumah kamu."
"Kalau gitu mama ajak aja Kak Morgan. Dia bisa temani mama."
__ADS_1
"Kakak kamu juga sibuk gak menentu. Padahal pacar pun dia gak punya tapi tiap malam minggu keluar. Mama Heran dah umur segitu apa lagi coba yang dicarinya. Mama pengen nimang cucu."
Raisha jadi senyum-senyum sendiri. Dia sengaja datang kerumah orang tuanya untuk menyampaikan kabar gembira ini. Pas banget mama udah memancing seperti itu.
"Ma, sebentar lagi keinginan mama akan terwujud?"
"Maksud kamu...?"
"Iya ma," Raisha mengangguk tanda apa yang sedang dipertanyakan mamanya adalah benar.
"Raisha hamil ma, udah tujuh minggu."
"Alhamdulillah...," Henni begitu senang dia sangat terharu sampai-sampai matanya berkaca-kaca. Dia begitu bahagia, hingga memeluk Raisha begitu erat.
"Kamu kok baru bilang sih sayang?. Mama senang sekali, sebentar lagi ada yang panggil oma."
"Raisha baru tahu juga ma, dua minggu ini Raisha cuma tidur aja di rumah."
"Kenapa juga kamu kemari, kan mama bisa kesana. Kamu harus banyak istirahat jangan capek-capek."
"Iya ma, tu kan mulai deh cerewetnya."
"Kamu harus jaga baik-baik cucu mama. Kamu mau makan apa nanti mama masakin."
"Raisha masi mual ma, lagi gak pengen makan tapi kalau pancake yang biasa mama buat kayaknya enak ni."
"Kamu mau?, sekarang juga mama buat."
***
__ADS_1