Pengorbanan Raisha

Pengorbanan Raisha
Agar kalian merasakan


__ADS_3

Raisha menyusul Hendri ke kamar. Dia ingin menjelaskan semua kekeliruan yang terjadi selama ini. Dia sudah membulatkan tekat, "kalau terus-terusan diam begini mas Hendri makin salah paham."


"Aku harus mengatakan yang sebenarnya, kalau tidak kak Ronal bisa ikut terbawa-bawa dalam masalah ini."


Hendri terlihat menyendiri di balkon kamar mereka. Dia sudah menghabiskan beberapa batang rokok. Raisha dengan ragu-ragu mencoba mendekati Hendri. Dia ingin bicara, selama ini sudah terlalu banyak kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka.


"Mas, bisa kita bicara sebentar?"

__ADS_1


"Tak ada yang perlu dibicarakan."


"Sebentar saja mas, aku mohon."


"Aku sedang tidak ingin bicara, apa kau tidak dengar?"


Raisha ingin menangis, rasanya dia tak pernah sesedih ini sebelumnya. Bahkan ketika papanya menamparnya waktu itu dia tak sesedih ini. Dia harus bersikap bagaimanan lagi dengan Hendri. Selama ini dia sudah cukup sabar, tapi masi saja tak dianggap. Bukan cuma sekali Hendri bersikap kasar kepadanya. Rasanya dia sudah tak sanggup dan ingin menyerah tapi lagi-lagi wajah ibu yang melahirkannya hadir membayang-bayangin pikirannya.

__ADS_1


"Sekarang aku juga harus melakukan hal yang sama untuk mama. Tidak boleh ada air mata lagi yang menghiasi wajah mama. Kali ini mama harus bahagian. Tenang saja ma, aku akan bertahan. Raisha kuat kok seperti mama."


Raisha memilih tidur, dia menggelar tikar dilantai dilapisi selimut tebal. Semenjak menikah inilah tempat dia merebahkan tubuhnya yang lelah. Seakan dia sudah terbiasa, tak ada rasa mengganjal lagi. Diselimutinya tubuhnya yang semakin kurus, dia berusaha memejamkan mata hingga kantuk menghinggapinya. Selama ini dia tidur dalam keadaan menangis dan bangun dengan harapan esok segala kesedihan dimalam hari akan sirna dengan munculnya matahari.


Hendri larut dalam lamunannya, perasaannya tiba-tiba tak enak. Karena masakan itu dia jadi begitu merindukan ibunya. Di ingin melupakan segala kepahitan yang dialaminya dimasa lalu. Sungguh miris nasibnya, bahkan dulu dia tidak bisa makan ayam. Jarang sekali dia bisa makan seperti ini. Cuma momen lebaran saja dia bisa makan enak. Hidupnya sangat berbeda dibandingkan sekarang. Kadang dia mengutip makanan sisa di warung, bekas makanan yang dibuang oleh pemilik warung. Kalau ingin makan ayam dia cuma bisa memakan tulangnya saja. Kadang pun hanya dapat nasi basi. Bahkan dia harus mencuri ketika kelaparan. Hari itu dimana dia bertemu dengan Haris. Sampai saat ini dia belum bisa melupakan penghinaan yang dilakukana Haris terhadapnya.


"Aku bersumpah, akan membuat kau merasakan hal yang sama. Dihina dan dicaci maki orang kau akan mengais makanan sisa seperti yang kulakukan dulu bahkan bila perlu aku akan membuatmu terpaksa mencuri makan."

__ADS_1


Hendri sudah bertekat tidak akan bersikap lunak kepada Raisha selaku bagian dari keluarga Haris.


"Semua yang berurusan dengan Haris akan ku buat menderita. Supaya mereka tau bagaimana rasanya menjadi orang miskin yang kelaparan dan tak punya apa pun untuk dimakan. Hingga kau dan keluargamu memohon untuk dikasihani olehku."


__ADS_2