
"Kenapa kalian bisa menikah?, setahu bapak Hendri tidak punya pacar selama ini. Dulu ketika dia masih berpacaran dengan Yulis, Hendri sering membawanya menemui bapak. Tapi dia tak pernah membawa nak Raisha kesana, tahu-tahu hari itu dia bilang mau menikah. Bapak terkejut, apa Yulis yang menjadi calon pengantinnya?, tapi dia bilang bukan."
"Raisha gak tahu juga pak, semua serba cepat. Bahkan Raisha tak kenal siapa Mas Hendri. Sepertinya Mas Hendri tidak suka bapak sampai tahu masalah ini, sebaiknya bapak tanyakan saja sama Mas Hendri."
"Baiklah kalau kalian belum bisa cerita, bapak cuma mau Hendri bahagia. Berjanjilah nak jangan pernah tinggalin Hendri, kalau sampai kejadian dulu terulang lagi, bapak gak tahu bagaimana nasib anak itu." Baskoro menghapus air mata yang sempat keluar dari pelupuk matanya. Dia memilih mengakhiri pembicaraan tentang anaknya malam itu.
Raisha yang mulai mengantuk akhirnya masuk ke kamar. Dilihatnya Hendri masih di ruang kerjanya. Dia ingin menyusul Hendri di ruang kerja, diketuknya pintu.
"Masuk!"
"Mas, kau masih lama disini?"
"Kau tidur saja duluan"
"Aku akan menemanimu disini. Apa boleh aku bertanya ?"
__ADS_1
"Kamu mau nanya apa?"
"Kamu masih cinta sama Yulis?"
"Itu aja yang ingin kamu tahu?, apa dia sangat mengganggu pikiranmu?."
"Kamu tinggal jawab ya atau tidak"
"Aku sedang tidak ingin berdebat. Bapak masih ada disini, jangan sampai dia tahu."
"Kau jangan coba-coba mengatakan semua ini kepada bapak, ku harap kau belum lupa dengan kesepakatan kita."
"Kenapa, kau mau mengancam ku lagi?, aku sudah muak dengan semua ini."
"Kau..," Hendri berusaha menahan amarahnya, dia sudah cukup sabar belakangan ini. Dia benar-benar sedang tak ingin bertengkar.
__ADS_1
Raisha meninggalkan Hendri di ruang kerjanya, dia sedang sangat kesal. Dari tadi dia hanya menangis dalam diam, matanya tak bisa terpejam. Dia tak tahu dengan perasaannya, kenapa belakangan ini dia sering merasa kesal dan kenapa dia terlalu berlebihan menanggapi semua ini.
Hendri akhirnya masuk ke kamar, dia tak bisa berkonsentrasi lagi setelah berdebat dengan istrinya. Dilihatnya Raisha tidur membelakanginya.
"Kau sudah tidur?"
Raisha tak menjawab, Hendri memeluknya dari belakang. Raisha terisak akhirnya dia tak sanggup menahan lagi tangisnya pecah. Melihat Raisha menangis Hendri malah bahagia, akhirnya ada juga orang yang menangisinya.
"Kau menangis untuk apa?, apa karena cemburu? Hendri sengaja menggoda istrinya. Kau tak perlu takut, dia cuma bagian dari masa lalu."
"Raisha membalik badan menghadap kearah suaminya. Tapi aku juga bukan masa depanmu"
Hendri hanya diam, dia tak bisa menjawab. Dia tak mau memberi harapan kepada Raisha karena dia pun belum yakin dengan perasaannya kini. Dia masih takut untuk mencintai. Lebih tepatnya dia takut dikhianati seperti dulu. Hendri kini lebih berhati-hati dalam bersikap dan menjaga persaannya sendiri. Sebenarnya dia ingin mencintai dan dicintai oleh istrinya tapi dia selalu takut untuk melangkah kearah itu.
"Bahkan kau tidak bisa menjawab".
__ADS_1
***