Pengorbanan Raisha

Pengorbanan Raisha
mungkin dia jodohku


__ADS_3

Raisha tak ikut sarapan pagi ini, dia sedikit pusing dan memilih makan di kamarnya. Mia pembantu mereka baru saja membawakan sarapannya.


Haris yang sedang sarapan, menanyakan kehadiran Raisha. "Kenapa Raisha tidak kelihatan pagi ini?"


"Dia sedikit pusing mas". Haris mengangguk tanda mengerti.


Morgan juga belum kelihatan pagi itu. Haris sudah lama tak menggublisnya. Memang sejak lama Morgan sengaja membuat Haris marah. Dia memutuskan sarapan di kamar. Dia tak ingin berdebat lagi dengan Haris.


Haris memilih keluar pagi itu. Seperti biasa setiap hari minggu dia berkumpul dengan rekannya di lapangan golf.


Henni yang merasa ada yang tak beres dengan anak gadisnya memilih melihatnya ke kamar.


"Sayang, apa kau menangis semalam?" Raisha memilih diam, dia masi berbaring di tempat tidur.


"Aku tidak apa-apa ma, hanya sedikit pusing"


"Apa yang bisa mama lakukan?, mama merasa tak berguna sekarang"

__ADS_1


"Kenapa mama berkata seperti itu, Raisha baik-baik saja ma. Mungkin dia memang jodoh Raisha. Aku akan menikah". Dalam hati kecilnya ingin berteriak, tapi tak mau Henni khawatir.


Morgan yang mendengan pembicaraan mereka di pintu kamar, langsung menerobos masuk.


"Kau tak perlu khawatir, kali ini papa tidak bisa berbuat seenaknya. Aku akan melakukan apa saja agar pernikahan ini dibatalkan"


"Jangan kak, sudah cukup. Aku mau sehari saja kau tak berdebat dengan papa. Keluarga kita sudah lama tidak melewati sarapan dengan tenang. Kau terus-terusan melawan papa. Bagaimana kalau darah tingginya naik lagi. Aku cuma ingin kita hidup tenang dan kompak seperti orang lain"


"Tapi tidak dengan menghancurkan masa depanmu Raisha"


"Memangnya apa yang salah dari tuan Hendri?, dia laki-laki dewasa dan mapan. Tentu aku akan bahagia menikah dengannya"


Sebuah kesepakatan yang dibuat ayahnya dengan calon suaminya benar-benar membuatnya hancur. Tapi dia memilih menerima takdir ini.


"Ya Tuhan, aku ingin keluarga ini bisa rukun dan damai sehari saja tanpa perdebatan"


Morgan tak habis pikir, dia pun akhirnya diam.

__ADS_1


"Baiklah kalau itu sudah keputusanmu. Aku ingin kau bahagia"


"Aku akan bahagia, kakak tenang saja ya"


Raisha berusaha tersenyum pagi itu. Henni hanya diam mendengar percakapan kedua anaknya. Firasatnya tak enak, tapi dia memutuskan untuk tidak berdebat lagi. Dia hanya pasrah saat ini.


"Semoga Allah melindungi anak ku dan jalan yang dipilihnya ini adalah benar. Dia sudah banyak menderita, semoga kali ini anak ku bahagia"


"Pagi itu Hendri menghubungi Sendi asisten kepercayaannya.


"Aku mau kau mengawasinya, cari tau apa yang dilakukannya, dan laporkan padaku"


Sebenarnya Hendri sudah lama mengawasi Raisha, dia menyewa orang untuk mengikutinya sepanjang hari. Bukan tanpa alasan, dia punya rencana yang besar setelah ini.


Dia memang sengaja mendekati Haris, kebetulan sekali Haris gila akan uang..Dia bekerja sangat keras dari waktu ke waktu.


Hendri merasa mereka punya kesamaan dalam hal ini. Uang akan membuat orang takluk padanya. Baginya tak ada guna menjadi baik, pada akhirnya orang akan meninggalkan kita karena uang. Seperti yang dilakukan ibu pada ayahnya. Dia tak peduli meski Raisha tak mencintai dan terpaksa menikahinya, toh uang juga yang akan membuat dia bertahan dengannya. Wanita cantik sangat menyukai uang, dan dia akan menghujani Raisha dengan uang. Pikirnya rasa sakit hatinya bisa terbalaskan dengan menikahi putri Haris orang yang telah menampar dan menghinanya waktu itu.

__ADS_1


***


__ADS_2