
Hendri melihat Raisha tak juga naik ke ranjang. Mencari-cari keberadaannya, dia tak sadar kalau Raisha tidur dibawah beralaskan selembar selimut. Diliriknya kebawah tampak Raisha tidur membelakanginya.
Dalam hatinya, "kasian juga dia tidur di lantai".
Tapi hati dan pikirannya bertolak belakang.
"Dia cuma mau menarik simpatiku saja, seolah-olah dia korban dari semua permainan ini". "Aku tidak boleh percaya begitu saja. "Bisa jadi ini semua rencananya untuk menipu ku".
Hendri bersikeras tidak akan memperdulikan Raisha yang tidur di lantai.
Malam itu dia begitu gelisah, dia tak bisa tidur. Akhirnya dia memilih merokok di balkon kamarnya.
Raisha langsung tertidur, dia begitu lelah. Seharian hanya meratapi nasib dan tadi baru saja Hendri memarahinya. Dia tertidur dengan mata yang basah. Tampak jelas dia tidur dalam keadaan menangis. Dia sedih bukan karena harus tidur di lantai, tapi dia menangisi sikap Hendri yang begitu keras kepadanya.
Pagi pun datang, silau matahari masuk melalui fentilasi membangunkan Raisha dari tidurnya. Dia melihat Hendri tidak ada di tempat tidur. Buru-buru dia keluar melihat ke luar. Mobil Hendri tidak ada di garasi.
__ADS_1
"Mas Hendri sudah berangkat ke kantor".
Hendri memutuskan berangkat pagi-pagi sekali. Dia tak bisa tidur semalaman. Di tatapnya muka istrinya pagi tadi. Timbul rasa kasihan di hatinya, tapi buru-buru di tepisnya. Dia memutuskan tidak pulang malam ini. Mengurangi frekwensi bertemu itu lebih baik menurutnya, agar tak timbul perasaan yang macam-macam.
Malam itu Raisha menunggu Hendri di ruang tamu. Sudah jam 12, Hendri belum pulang juga. Pembantu yang dikirimnya tadi pagi juga sudah pulang. Bik Mur namanya, dia wanita berumur 50 tahun. Tinggal dengan seorang anaknya. Dia hanya datang pagi untuk beres-beres, sorenya dia langsung pulang karena anaknya tak berani tinggal sendirian.
Raisha memilih untuk tidur di kamar. Digelarnya kembali selimut seperti semalam dan dia memilih tidur di lantai.
"Mungkin mas Hendri sengaja tidak pulang, dia begitu membenciku". "Untuk apa juga mempertahankan pernikahan ini".
"Dia bilang papa seorang penipu, kami sekeluarga ingin mengambil keuntungan dari dia". Lantas kenapa juga dia mau berinvestasi di perusahaan papa yang jelas-jelas dia tau papa seorang penipu. Ini tidak masuk akal, semakin memikirkannya, kepala Raisha semakin pusing. Akhirnya dia tertidur.
Jam menunjukkan pukul 4 pagi. Hendri akhirnya memutuskan untuk pulang. Dia sengaja pulang telat, agar waktu dia pulang Raisha sudah tidur dan tak perlu bertegur sapa. Dilihatnya Raisha tertidur di lantai.
"Sebenarnya apa yang mau dia buktikan, dia tau aku tak pulang, untuk apa dia harus tidur di lantai ?". "Apa dia sengaja, supaya orang tau aku menyiksa dia". Baiklah, aku ikuti permainanmu. Bahkan kau tak tau siapa lawanmu. Sekarang kita lihat, siapa yang terjerat.
__ADS_1
Tanpa mengganti baju Hendri langsung merebahkan diri di tempat tidur. Dia begitu lelah hari ini. Tak butuh waktu lama, dia langsung masuk dalam alam mimpinya.
Dalam mimpinya dia melihat Hendri waktu kecil sedang menangis. Dia memanggil
"ibu...,ibu...,jangan tinggalkan aku. Ibu aku mohon....
Tampak ibu di matanya yang pergi meninggalkan Hendri seorang diri. Kemudian muncul wajah Yulis yang tersenyum tiba-tiba dia melihat Yulis bergandengan tangan dengan sahabatnya Hendri. Kejadian yang lalu masuk di mimpinya.
Hendri memanggil "Yulis. Yulis....Yulis..."
Raisha yang mendengar Hendri mengigau dalam tidur mencoba mendekati Hendri.
"Mas,...mas...,mas Hendri...kau tidak apa-apa?".
Hendri pun terjaga, dia kelelahan sampai mengeluarkan keringan. Melihat keringan yang membasahi kening Hendri, disapunya keringat itu oleh Raisha menggunakan tangannya. Hendri langsung menepis tangan Raisha. Aku tidak apa-apa, lanjutkan saja tidurmu. Hendri bangkit dari tidurnya kemudian masuk ke kamar mandi. Raisha tercengang, dia tak habis pikir. Apa yang dilakukannya selalu salah di mata Hendri.
__ADS_1