
Hendri segera pulang, dia begitu cemas. Mendengar istrinya jatuh pingsan, dia sangat khawatir akan kesehatannya. Mengingat badannya yang makin kurus semenjak menikah, Hendri miris membayangkan nasib istrinya yang jadi sasaran kemarahannya. Bukan salahnya mempunyai ayah seperti Haris. Hendri harus merubah pola pikirnya, yang semula menjadikan Raisha sebagai pelampiasan kemarahannya kepada Haris.
Hendri sampai di rumah bertepatan dengan kedatangan dokter yang sengaja ditelponnya tadi sewaktu perjalanannya pulang.
"Silahkan masuk Om."
Dokter Bagas sudah seperti saudara bagi Hendri. Dia dokter keluarga pamannya, bukan paman kandungnya , tetapi laki-laki yang menolongnya dulu yang memberi tempat untuk berteduh dikala malam dan yang memberinya makan serta menyekolahkannya hingga jadi seperti ini.
Sudah lima belas menit, dokter Bagas akhirnya keluar dari kamar yang ditempati Raisha.
"Dia sakit apa Om?"
"Istri kamu baik-baik aja, dia gak sakit dan udah sadar sekarang."
"Jadi kenapa juga dia pingsan?"
__ADS_1
"Karena tekanan darahnya rendah, dia sedang hamil. Lebih baik besok kamu bawa dia ke rumah sakit biar dicek lagi ya."
"Hamil?"
"Kenapa Hen, kamu kok jadi terkejut gitu?"
"Enggak Om, aku cuma bingung aja karena dia gak muntah-muntah. Tadi pagi juga baik-baik aja waktu aku berangkat."
"Ya gak semua orang hamil harus muntah-muntah. Ya udah Om pulang dulu mau balik ke rumah juga ini."
"Makasih ya Om." Hendri mengantar dokter Bagas sampai ke gerbang.
"Iya, Om udah cerewet banget sekarang."
"Bukan sekarang aja, tapi dari dulu juga udah seperti ini, haha...ya udah Om gak jadi berangkat dari tadi ngomong terus sama kamu."
__ADS_1
"Hati-hati Om"
Hendri sedikit cemas. Istrinya telah hamil sedangkan hubungan mereka saat ini tidak seperti selayaknya pasangan suami istri yang sedang menyambut kehadiran anak. Bukan Hendri tak menginginkan anak, tapi dia belum berpikir ke arah itu. Mengingat hubungannya dengan Raisha yang masih sedikit kaku dan dia belum tahu bagaimana kedepannya perjalanan rumah tangga mereka.
Mempunyai anak harus dipersiapkan secara matang, dan bagaimana kedepannya dengan nasib anak tersebut. Bukan sekedar ingin punya anak lantas kamu harus memiliki anak, ini lebih dari pada itu dituntut tanggung jawab dan Hendri belum siap menjadi seorang ayah. Dia hanya ingin bersenang-senang dengan Raisha yang sudah dinikahinya. Tak salah kan menurutnya kalau dia meniduri istrinya dan tentang memiliki anak dia belum kepikiran ke arah itu.
Hendri menemui Raisha yang sedang terbaring ditempat tidur. Dia tampak bingung sama seperti Hendri dia begitu terkejut. Sebenarnya dia sangat bahagia tapi mengingat kejadian tadi, Yulis yang mendatanginya hatinya menjadi tak karuan.
"Om Bagas bilang kamu harus banyak istirahat."
"Raisha tidak menggublis omongan Hendri, dia sedang larut dalam pikirannya sendiri."
Hendri memutuskan untuk meninggalkan Raisha seorang diri di kamar. Dia memilih duduk di balkon yang berada di kamarnya juga. Dia tampak berpikir keras. Dihisapnya rokok berulang-ulang berharap mendapat jawaban dari semua pertanyaan yang ada dikepalanya.
Raisha yang melihat Hendri seperti tidak senang akan kehamilannya, mencoba turun dari ranjang dan menemuinya di balkon.
__ADS_1
"Kamu tak perlu khawatir, setelah anak ini lahir kamu boleh segera menceraikan aku. Kami berdua akan menghilang dari pandanganmu. Aku berjanji kamu tak kan melihat kami lagi dan kamu bisa kembali dengan Yulis.
***