
Raisha ikut pulang dengan Hendri ke rumah. Dia sudah tak tahu harus bagaimana lagi bersikap. Di mobil mereka saling diam, Raisha juga tak mau berdebat lagi dengan Hendri. Sesampainya di rumah Raisha memilih langsung ke kamar. Dia ingin cepat-cepat mandi, rasanya seharian ini tenaganya habis buat berhadapan dengan suaminya. Tak lama kemudian Hendri menyusul Raisha ke kamar. Dia habis menghubungi seseorang. Raisha dibuat terkejut, tiba-tiba Hendri berada di belakangnya.
"Kau tak punya banyak waktu, aku mau besok mereka mengosongkan rumah, karena rumah itu sudah jadi milikku".
"Apa?, kau keterlaluan sekali. Jadi kau ingin mengusir orang tuaku. Dimana mereka harus tinggal kalau rumah itu kau ambil?"
__ADS_1
"Itu bukan urusanku, memangnya aku harus peduli dimana mereka harus tinggal?"
"Baik kalau kamu gk peduli, aku juga akan ikut mereka tinggal di jalanan biar kamu puas."
"Haha..., aku akan puas kalau papamu menderita dan agar dia menderita adalah dengan menyiksa anak-anaknya. Kalau kamu mau aku tak mengusir mereka, kau harus tetap disini dan turuti semua perintahku. Aku dengan mudah saja mengeluarkan kakakmu asal kamu mau turuti semua perkataanku dan sekarangpun kau tak ada pilihan selain menuruti keinginanku. Karena jika kau tidak mau aku juga bisa berbuat yang lebih gila lagi yaitu dengan menjobloskan papamu ke penjaran. Mudah saja bagiku untuk menjebaknya dan menuduhnya menggelapkan uang. Dia bisa lama dipenjara dan dia juga bisa menemani kakakmu disana. Tapi yang lebih buruknya mamamu bisa mati mendadak. Hahaa...."
__ADS_1
"Terus saja membenci seperti itu, aku tak banyak waktu untukmu sekarang kau putuskan saja mau pilih yang mana" Hendri melangkahkan kaki ke ruang kerjanya, dia sangat yakin Raisha akan menuruti semua kemauannya.
Ini sudah bukan balas dendam lagi tapi lebih kepada perasaan yang dipaksakan. Kecemburuan yang tak disadarinya hingga dia bisa berbuat sedemikian rupa. Hendri sudah jatuh cinta kepada istrinya tapi dia tak menyadarinya dengan memaksa Raisha untuk terus bersamanya, mungkin juga berawal dari rasa cemburu kepada Ronal dan dia mengira kalau Raisha ingin mempermainkannya.
Sebuah kesalah pahaman yang terus menerus hingga membuat rasa dendam dan perasaan yang tak disadari sehingga membuat situasi ini menjadi rumit. Mungkin bagi pria lain mudah saja mengatakan cinta, cemburu atau lainnya tapi bagi Hendri yang pernah terluka dan awam akan cinta ini begitu menyulitkan. Dia tak tahu bagaimana mengekpresikan rasa cintanya. Rasa cemburu yang hanya bisa dia ungkapkan dengan kemarahan dan rasa ingin memiliki dengan cara mengancam sedemikian rupa. Yang lebih buruknya dia tidak menyadari kalau dia sudah jatuh cinta. Patah hati dimasa lalu mengantarkannya pada sebuah ketidak percayaan, rasa curiga yang berbalut kecemburuan. Dia sama sekali tidak bisa mempercayai seorang wanita. Mungkin dia harus membuka diri atau bila perlu menemui psikolog untuk melepaskan perasaan ketakutannya, rasa tidak percaya dan traumanya dimasa lalu. Sungguh Hendri membutuhkan seorang teman untuk bicara. Memang selama ini dia hanya memendam perasaan sakit dan kecewa seorang diri bahkan dia tak memiliki seorang temanpun untuk berbagi. Dia memang sangat tertutup, bahkan Sendi yang telah lama ikut bekerja dengannya tak bisa mengerti akan pikiran bosnya itu.
__ADS_1
***