
"Ada apa kak, kenapa kita harus bicara disini?"
"Aku tidak mau mama sampai tahu masalah kemarin."
"Iya, aku maunya gitu juga. Sebenarnya kakak mau ngomong apa?"
"Apa Hendri mengancammu?"
"Kenapa dia harus mengancam?, maksud kakak apa?"
"Kau jangan pura-pura, sebenarnya apa yang telah kalian sepakati, kau membuat sebuah kesepakatan dengannya?"
"Kak, aku dan Mas Hendri baik-baik aja tak ada masalah."
"Maksudmu aku yang bodoh disini, yang salah menafsir keadaan?"
__ADS_1
"Kak, memang Mas Hendri ada masalah dengan papa, tapi itu dulu. Kakak pasti udah dengar dari papa kan?"
"Lantas dia sudah berdamai begitu saja maksudmu, cuma karena kau memintanya memafkan papa. Bukanya dia menikahimu karena ingin membalas sakit hatinya ke papa?"
Raisha terdiam, belakangan ini dia begitu bahagia hingga melupakan kesepakatannya dengan Hendri. Dia sedang larut dalam perasaannya sendiri.
"Kau tak bisa menjawab?"
"Kak aku..., Raisha tak bisa melanjutkan kata-katanya, dia menangis tak bisa menahan lagi kegalauan hatinya."
Kamu harus berhenti menjadi tameng dalam keluarga ini, pergi lah Raisha. Tak perlu memikirkan kami sepanjang hidupmu, sudah cukup kamu mengalah. Kau tak perlu khawatir dengan mama, aku akan menjaganya. Kali ini dengarkan kakak, pergi dan cari kebahagiaanmu. Biar kakak yang mengurus semuanya disini untukmu.
Bukan tampa alasan Morgan menyuruh Raisha pergi. Dia tahu Raisha tak bahagia dengan pernikahannya. Morgan sudah menduga kalau Raisha telah menukarkan dirinya untuk dijadikan pelampiasan kemarahan Hendri kepada papanya. Dan ini tidak boleh terjadi lagi, adiknya harus bahagia.
Aku sudah menyiapkan semua keperluanmu. Kau bisa pergi kapanpun kau siap. Pergilah dari laki-laki gila itu. Kau berhak untuk bahagia. Jangan pikirkan kami. Percayalah kakak mampu mengatasi ini semua.
__ADS_1
Raisha menjadi bimbang, dia ragu akan perasaannya. Dia belum mengenal betul siapa suaminya, dari mana dia berasal dan apa yang membuatnya menjadi laki-laki berkepribadian ganda. Mungkinkah dia seorang pria gila. Kalau seandainya yang dia rasakan saat ini hanya perasaan sesaat dan bahkan dia tak tahu kalau suaminya mencintainya. Raisha harus bangun dari mimpi dan angan-angan yang belum tentu menjadi nyata. Dia tidak boleh terlena dengan perlakuaan Hendri saat ini. Seandainya itu cuma bahagian dari rencana Hendri untuk menyakiti papanya, bagaimana dia akan menjalani kehidupannya yang akan datang. Kalau sampai dia jatuh cinta dan pada akhirnya akan menderita lebih baik dia pergi dari sekarang menjauh dari suaminya. Tapi bagaimana kalau Hendri malah menyakiti keluarganya karena Raisha sudah melanggar kesepakatan yang telah mereka buat.
"Tapi kak, Mas Hendri itu gila. Aku takut dia akan berbuat yang lebih nekat lagi dari yang kemarin."
"Kau tak perlu takut, aku sudah punya rencana."
***
Dering suara HP terdengar samar-samar dari dalam tas Raisha. Dia lupa memberitahu Hendri kalau akan pulang terlambat. Raisha baru sadar ketika melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 7 malam. Baru dia mencari Hp-nya didalam tas. Lima belas panggilan tak terjawab dan dua pesan belum dibaca. Raisha begitu terkejut dan jantungnya dag dig dug waktu melihat siapa yang menelponnya. Buru-buru dibacanya pesan yang dikirim oleh Hendri.
"Kau dimana?
"Beraninya kau tak mengangkat telpon dariku"
***
__ADS_1