
menjelang sore Raisha pamit pulang. Pak Diman sudah menunggunya di depan. Raisha mencium kedua pipi mama Henni dan menitip salam kepada kakak dan juga papanya.
"Kamu ke tempat praktek Kak Morgan saja kalau mau jumpain dia. Mana ada dia di rumah. Mama sekarang makin kesepian semenjak kamu pindah."
"Iya ma, Raisha juga mau periksa kandungan sama Kak Morgan. Mama jangan kasih tahu dia dulu ya, biar kejutan. Nanti Raisha pura-pura ambil nomor ditempat prakter kakak."
"Oke...oke...mama gak kasih tahu. Tapi kalau sama papa gak perlu rahasia-rahasia segala kan?."
"Iya ma, cukup sama Kak Morgan aja."
***
Di rumah Raisha sedang menunggu Hendri. Sudah jam 11 malam tapi Hendri belum juga pulang. Raisha akhirnya menghubungi Hendri dengan ponselnya.
Tut...tut...,Hendri tak menjawab panggilan telpon Raisha.
"Apa Mas Hendri lagi di jalan, sebaiknya aku tunggu saja." Raisha memilih menunggu dan tidak menghubungi lagi dia takut Hendri terganggu saat sedang menyetir. Berbahaya sekali menjawab telpon sambil menyetir.
__ADS_1
Malam itu Raisha menunggu Hendri sampai tertidur disofa kamarnya. Hendri tak kunjung pulang.
Paginya Raisha terbangun dan tak mendapati Hendri disampingnya.
"Kenapa aku tidur disini, Mas Hendri kemana, apa dia gak pulang semalam?"
Raisha mengambil ponselnya ada panggilan tak terjawab. Hendri menghubunginya dan sepertinya baru saja. Raisha langsung menghubungi Hendri kembali dan sayangnya Hendri tak menjawab telponnya.
"Sepertinya Mas Hendri sedang sibuk, dia tidak mendengar panggilan telponnya."
Raisha mandi dan membantu Bik Inah menyiapkan sarapan di dapur. Menjelang siang Raisha dikejutkan dengan beberapa gambar yang dikirim dari WA nomor yang tak dikenalinya. Raisha tak menyangka Hendri mengkhianatinya disaat dia hamil. Dalam foto itu Hendri dan seorang wanita tidur dalam satu ranjang. Yang lebih membuat Raisha terkejut ternyata wanita tersebut adalah Yulis. Raisha tak menyangka Hendri begitu tega tak terasa air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. Raisha tak dapat berkata-kata. Diambilnya beberapa baju dan diletakkannya dalam koper. Dia sudah tak tahan dan dia bisa gila kalau terus berada di rumah ini.
"Ya ada apa Pak Diman?"
"Maaf tuan mengganggu, tapi ini darurat."
"Ada apa, nyonya pingsan lagi?"
__ADS_1
"Tidak tuan, tapi..."
"Tapi kenapa?"
"Nyonya pergi dari rumah sambil menangis tuan"
"Kenapa dia bisa menangis?"
"Saya tidak tahu, tapi nyonya membawa koper."
"Apa"?
Hendri begitu terkejut, dia langsung meninggalkan meja kerjanya. Diambilnya kunci mobil dan langsung tancap gas menuju rumah untuk mengintrogasi asisten rumah tangganya.
Diperjalanan dia terus menghubungi istrinya tapi Raisha tak mau menjawab panggilan telponnya. Hendri berpikir keras kemana kira-kira istrinya akan pergi. Rasanya tak mungkin Raisha pulang ke rumah orang tuanya karena itu akan membuat mamanya syok dan bisa-bisa kesehatannya terganggu seperti waktu Morgan terkena masalah.
Dia pasti ke rumah sahabatnya. Hendri mencari tahu alamat ketiga sahabat Raisha dan mendatanginya satu persatu tapi sayang dia tak menemukan istrinya disana.
__ADS_1
***