
"maafkan ibu nak, waktu itu ibu masih sangat muda. Ibu masih kekanak-kanakan, ibu tak mengerti kenapa eyang menikahkan ibu dengan ayahmu. Padahal waktu itu ibu masih sekolah. Ibu masih ingin bermain seperti teman-teman ibu, kesana kemari bebas melakukan apa saja. Waktu itu kehidupan kita sangat memprihatinkan. Ibu sering kelaparan, dan bapakmu tak mampu berbuat banyak. Ada seorang teman ibu yang menawarkan pekerjaan dan singkat cerita ibu pergi dari rumah meninggalkan kamu bersama bapak. Ibu tahu ibu salah tapi berdiam diri begitu saja tak menyelesaikan masalah, ibu pikir dengan pergi mungkin hidup ibu akan berubah."
Marisa menangis lagi dia terus- terusan merasa bersalah. Hendri hanya mendengar dan tak menanggapi permintaan maaf dari ibunya.
"Tolong nak maafkan ibu, andai waktu bisa terulang ibu tak mau meninggalkanmu."
"Tapi kenapa ibu tidak pernah kembali, kenapa baru sekarang ibu ingin menemuiku?"
"Begitulah manusia, dikala tertimpa musibah baru dia sadar. Ibu baru sadar sekarang setelah waktu ibu tak lama lagi. Ibu menyesal tapi lebih baik terlambat dari pada ibu tak akan pernah menemui kamu lagi. Minggu depan ibu akan berangkat ke singapur ibu akan menjalani pengobatan disana. Ibu tinggal disana selama ini mengikuti suami ibu, tapi dia sudah duluan meninggalkan ibu untuk selama-lamanya. Ibu cuma mau memperkenalkan kamu dengan seseorang."
Hendri tampak heran melihat seorang wanita datang memhampiri ibunya. Dilihatnya wanita itu lekat-lekat, ada kemiripan dengan ibunya tapi siapakah wanita itu. Untuk apa ibunya memperkenalkan wanita itu kepada dirinya.
__ADS_1
"Mita duduk kemari nak!" Marisa meminta wanita tadi yang baru saja dilihat Hendri untuk duduk disampingnya.
"Hendri ini anak ibu Mita namanya. Walaupun kau tak mau tahu urusan ibu tapi untuk hal yang satu ini ibu harus jelaskan. Meski kalian tak satu ayah tapi kalian mempunyai tali persaudaraan karena kalian memiliki ibu yang sama. Ibu cuma mau memperkenalkan kamu dengan adikmu sendiri agar suatu saat ketika ibu tidak ada lagi di dunia ini dan kau bertemu dengan adikmu sendiri kalian tidak saling suka. Kalian harus tahu kalau kalian bersaudara."
Mita dan Hendri kompak saling diam. Mita baru pertama kalinya bertemu dengan kakak tirinya ini. Dia merasa kalau Hendri tak suka bertemu dengannya tapi Mita memilih tak ambil pusing yang penting baginya sekarang adalah kesehatan ibunya.
"Gak mungkin juga kami saling suka bu, Mas Hendri kan udah nikah. Masa dia ngelirik cewek lain, ya kan mas?."
Hendri hanya diam, dia tak menyahuti omongan adik tirinya itu. Baginya tak penting menjawab pertanyaan yang konyol itu.
"Hen, kok kamu diam aja?"
__ADS_1
"Apa ibu tak kembali lagi?"
"Mungkin iya, ibu memang sengaja pulang kesini untuk menemui kamu. Sudah lama ibu disini hampir dua tahun, tapi ibu tak berani menemui kamu. Ibu bolak balik dari sini ke Singapur untuk berobat. Terakhir dokter mengatakan kalau harapan untuk sembuh sangat kecil makanya ibu memberanikan diri untuk bertemu dengan kamu. Mula-mula menemui ayahmu dan akhirnya ibu bisa bertemu kamu. Ibu senang sekali akhirnya keinginan ibu bisa terwujud. Kalau boleh ibu ingin menitip Mita bersama kamu."
"Ibu bicara apa sih, emang ibu mau kemana?"
"Mita, ibu sudah bilang sama kamu, umur ibu gak lama lagi. Kau anak gadis tak bisa hidup seorang diri. Ibu mau kamu tinggal bersama kakakmu."
"Tapi bu?"
"Emm..., sebenarnya apa yang kalian ributkan? Memangnya aku pernah mengatakan akan menjaga dia?."
__ADS_1
Marisa dan Mita saling pandang, mereka tercengang.
***