Pengorbanan Raisha

Pengorbanan Raisha
Kegelisahan Hendri


__ADS_3

Mobil telah terparkir di garasi. Raisha mengajak Hendri masuk kedalam rumah. Diambilnya es dilemari pendingin untuk mengompres luka lebam diwajah suaminya. Hendri hanya diam saja melihat Raisha mondar-mandir kebingungan mengambil sesuatu untuk mengompres lukanya. Ditekan-tekannya handuk kecil yang telah dicelupkan kedalam air es ke wajah Hendri.


"Apa kau sengaja menyuruhnya datang?" Hendri membuka pembicaraan dengan menanyakan kehadiran Ronal di kampus. Sejujurnya dia sudah tak peduli dengan masalah tadi. Entah mengapa kemarahannya sirna setelah mendengar Raisha mengatakan kalau dia sudah bahagia dengan pernikahannya yang sekarang. Hendri hanya ingin menghilangkan rasa canggung yang ditimbulkan karena berdekatan seperti ini dengan Raisha. Tak lebih dari lima senti meter wajah Hendri hampir menyentuh wajah istrinya. Raisha menghentikan aktivitasnya, dia mencoba mencerna pertanyaan yang diajukan oleh Hendri. Kegugupan yang tadi sudah mereda sekarang muncul kembali.


"Sungguh mas, aku tak menyuruhnya menemuiku"


"Putuskan hubunganmu dengan dia!"


"Memang aku tak pernah memiliki hubungan dengan dia, jadi tak perlu ada kata putus"


"Aku pegang kata-katamu" Hendri bangkit dari duduknya. Berlama-lama satu ruangan dengan istrinya membuatnya jadi serba salah. Perasaan campur aduk memenuhi pikiran Hendri. Dia memilih kembali ke kantor.


***


Jam menunjukkan pukul 00.00 wib, tapi Hendri belum juga tampak akan datang. Raisha belum juga tidur, dia sedikit gelisah.

__ADS_1


"Mas Hendri kenapa belum pulang juga, apa sebaiknya aku hubungi saja dia" tak lama kemudian suara Hendri terdengar ditelinga Raisha.


"Mas kau kemana saja, kenapa belum pulang?"


"Aku tidak pulang, jangan tunggu aku" Hendri langsung menutup telepon begitu saja tak mau mendengar suara Raisha lagi. Dia memilih tidur di kantor malam ini, kepalanya benar-benar dibuat pusing, rencananya sudah melenceng jauh dari yang seharusnya. Dia harus cepat-cepat bertindak.


***


Hendri bahkan tak pulang untuk sekedar mengganti baju. Dia menyuruh asistennya Sendi menyiapkan baju ganti untuknya. Sendi ikut bingung dibuatnya, "Apa bos lagi pisah ranjang dengan istrinya, kenapa tidak pulang ke rumah saja?. Wajah bos juga sedikit lebam, apa bos habis berkelahi, tapi dengan siapa?, tak mungkin dengan istrinya"


"Kau sudah menyuruh pengacara datang ke kantor Haris?"


"Sudah bos, sudah saya selesaikan semuanya seperti perintah bos"


"Bagus," Hendri tersenyum bahagia, apa yang direncanakannya akan segera terwujud, dan kini semua ada dalam genggamannya.

__ADS_1


***


Dering telpon membangunkan Raisha, dia tak menyangka bisa bangun kesiangan. Uti menghubungi Raisha karena penasaran dengan kejadian kemarin.


"Sa, kamu ke kampus gak hari ini? Anak-anak pada nanyain tuh?, sebenarnya ada masalah apa sih kak Ronal ama mas Hendri?" Uti memberondong Raisha dengan sejuta pertanyaan.


"Entar aja kita ngomongnya ya, aku ke kampus kok nanti. Bilangin anak-anak gak usah khawatir, aku baik- baik aja"


"Oke deh Sa, sampai jumpa nanti" Raisha menutup telepon dan segera ke kamar mandi.


Benar saja ketiga sahabatnya sudah menunggunya di kantin tempat biasa mereka nongkrong. Melihat kedatangan Raisha, ketiga sahabatnya pun merasa lega.


"Kamu baik-baik aja Sa, sebenarnya ada apa sih kak Ronal ama suami kamu sampai adu jotos gitu?" Risna membuka percakapan diantara mereka.


"Ceritanya panjang, nanti aja ceritanya ya, aku harus nemuin pak Bambang dulu soalnya udah janji." Raisha meninggalkan ketiga temannya di kantin dan pergi menemui dosen pembimbingnya.

__ADS_1


***


__ADS_2