Pengorbanan Raisha

Pengorbanan Raisha
sudah sepantasnya


__ADS_3

Bik Mur menghubungi Raisha, dia mengatakan kalau Hendri menyuruhnya berhenti bekerja. Raisha bingung kenapa Hendri tiba-tiba menyuruh bik Mur berhenti.


"Emank bibik salah apa, kau mas Hendri mecat bibik?."


"Saya bukan dipecat nyonya, tapi saya disuruh kerja di rumah tuan Sendi asisten tuan. Katanya dia lagi butuh pembantu. Tuan Hendri bilang dia butuh pembantu yang full time. Dia akan cari orang lain untuk nyonya."


"Oh gitu, yaudah kalau gitu bik. Makasi banyak selama ini udah membantu saya."


Raisha membereskan rumah seorang diri hari ini. Dia juga sudah mencuci baju dan menjemurnya. Dia juga sudah siap memasak dan mengepel lantai. Dia tampak berkeringat menjelang sore dia menyiram semua tanaman dan membersihkan kolam renang. Dia begitu lelah hari ini. Tapi dia merasa senang dengan melakukan banyak kegiatan seperti ini setidaknya dia bisa melupakan sedikit masalahnya.


Menjelang sore tampak mobil Hendri terparkir di garasi. Raisha buru-buru turun dari lantai dua kamarnya dan hendak menemui Hendri.


Hendri hanya berlalu tanpa memandang Raisha, padahal Raisha sudah memasang senyum semanis mungkin.


"Mas Hendri sepertinya lelah sekali."


Raisha menyusul Hendri ke kamar.


"Mas mau mandi dulu, biar aku siapkan baju ya."


Hendri hanya menatap Raisha dan tak menjawab pertanyaannya. Melihat Hendri hanya diam Raisha membuka lemari dan mengambil baju rumahan yang biasa dikenakan Hendri.


Hendri memilih masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air. Rasa kesalnya tiba-tiba hilang melihat wajah istrinya yang berseri-seri ketika tersenyum.

__ADS_1


"Aku tidak boleh terlena dengan perlakuan manisnya. Ingat Hendri mereka sekeluarga adalah musang berbulu domba."


Hendri menyudahi ritual mandinya setelah lima belas menit. Dia melihat kesana kemari mencari keberadaan Raisha. Diambilnya baju yang telah disiapkan oleh istrinya di atas tempat tidur lengkap dengan ****** ********. Hendri tertegun, sampai selengkap ini dia menatanya di tempat tidur. Hendri tak abis pikir, permainan apa lagi yang sedang dimainkan oleh istrinya.


Hendri sudah sangat lapar, dia mencium bau makanan yang memenuhi ruang makan.


"Mas kau mau makan sekarang?, duduklah biar aku ambil nasinya dulu."


Raisha sibuk menata makanan dimeja makan. Hendri hanya diam saja, dia duduk dan memperhatikan istrinya bolak balik mengambil makanan di dapur.


Hendri menatap wajah istrinya, memar diwajah Raisha belum juga hilang. Hendri memilih menunduk dan menyantap lahap makanannya. Dia tak mau berlama-lama menatap wajah istrinya takut muncul rasa kasihan dihatinya. Dalam hati Hendri berkata "dia pantas menerima semua itu, karena berani berbuat curang dibelakangnya."


"Tak perlu aku merasa kasihan, sudah sepantasnya kau menerima pelajaran dariku. Biar kelak ketika kau berniat curang dariku kau akan ingat kejadian hari ini."


Hendri melirik sekilas ke arah istrinya.


"Aku nanti saja mas."


"Kau mau berdiri disitu sampai kapan? Duduk dan makanlah. Aku tak mau orang berpikir aku tak memberimu makan. Lihat dirimu sudah tinggal tulang belulang."


Raisha mencoba mengamati tubuhnya sendiri. Memang dia tampak lebih kurus sekarang. Ya memang dia jarang makan belakangan ini. Selain setres memikirkan sekripsinya dia juga sibuk menangis seharian meratapi nasibnya. Wajar saja berat badanya turun drastis.


Raisha masi tak bergeming ditempat dia berdiri.

__ADS_1


"Kubilang makan, kau tak dengar?."


"Iiii...ya mas."


"Cepat duduk".


Raisha cepat-cepat duduk disamping Hendri dan mengambil nasi untuk dimakannya.


Hendri melirik sekilas ke arah istrinya. Semenjak menikah ini kali pertama mereka makan semeja.


Kuperintahkan kau untuk menambah berat badanmu yang sudah terlampau kurus itu. Jangan sampai membuat aku malu pada semua orang. Awas saja kau tidak makan."


"Bik Mur sudah kusuruh berhenti, sekarang semua pekerjaan rumah kau yang kerjakan. Jangan kau enak-enakan dirumah ini. Ini hukuman bagimu karena telah berani membuat aku marah. Kau sudah kuperingatkan sebelumnya, tapi masi berani juga menemui kekasihmu itu."


Raisha hanya diam, dia tidak melanjutkan makannya.


"Kenapa berhenti, cepat makan! atau kamu tak mau makan selamanya?"


"Iiiya...mas."


Raisha sangat ketakutan, dia memilih mengikuti kemauan suaminya.


Hendri memutuskan meninggalkan meja makan. Terlalu lama bersama dengan istrinya membuat dia lemah dan tak kuat menyakiti Raisha seperti yang telah direncanakannya.

__ADS_1


***


__ADS_2