
"Kamu jangan coba-coba mengelabui kakak. Sebenarnya apa yang sedang kalian rencanakan?. Dari awal aku sudah merasa aneh dengan pernikahan kalian. Hari ini dia mengancam papa keesokan harinya kalian tampak mesra dan dia meminta maaf kepada papa. Apa ini tidak aneh?, kalian jangan membodohi kami. Asal kamu tahu papa gak suka kamu bersama Hendri lagi."
Raisha terdiam, dia ingin menangis, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Dia tak mampu berpura-pura lagi. Selama ini dia sudah sering berpura-pura bahagia, tapi dengan kehadiran anak ini dia memang sangat bahagia.
"Aku harus bagaimana kak?"
Raisha tampak putus asa. Selama ini dia bertahan demi keluarga, tapi nyatanya sampai saat ini dia tak juga dapat membahagiakan keluarganya. Malah sekarang seluruh keluarganya mencemaskan dia.
Morgan terdiam sejenak, dia sedang berpikir. Semua pilihan tak ada yang menguntungkan adiknya. Tetap disini yang akan menanggung derita adalah Raisha. Morgan menarik nafas dalam-dalam dia sedikit sesak mengingat nasib adiknya.
"Kau tak perlu takut, bila dia meninggalkanmu pulanglah kemari. Kami akan membuatmu bahagia. Tak usah pikirkan anak ini, kami akan menyayanginya."
Raisha tak sanggup membendung air matanya lagi. Dia menumpahkan di pelukan kakaknya. Dia terisak dalam, sudah terlalu lama menanggung beban ini. Meski hubungannya dengan Hendri baik-baik saja tapi ini belum ada jaminan kalau mereka akan seperti ini selamanya. Bahkan dia belum tahu siapa Hendri sebenarnya. Dia begitu misterius tak pernah mau membuka diri apa lagi membicarakan masa lalu.
Malam itu Raisha tertidur dengan lelap setelah berbicara dengan Morgan hatinya sedikit lega.
***
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Hendri datang menemui Raisha. Bahkan dia memilih menunggu Raisha di luar. Raisha begitu heran dengan sikap Hendri. Dia pun keluar dan menemui Hendri di halaman depan.
"Ada apa mas, kenapa gak masuk dulu?"
"Naiklah ke mobil"
Raisha mengikuti Hendri masuk kemobil. Dia semakin penasaran, mau kemana Hendri membawanya. Bahkan Raisha belum sempat mengatakan kepada mamanya akan keluar sebentar dengan Hendri.
"Kita mau kemana mas?"
"Aku harus menemani ibuku berobat ke Singapur. Keadaannya serius, mungkin kali ini terakhir aku bisa melihatnya."
Hendri tampak putus asa, dia tampak begitu gelisah. Raisha berusaha menenangkan Hendri dengan tidak membuatnya mencemasi dirinya.
"Ya, kapan mas berangkat?"
"Malam ini"
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mengantar kalian ke bandara."
"Tak perlu, kau disini saja. Jaga kesehatanmu, aku akan kembali secepat mungkin."
"Mas gak usah pikirkan aku, disini aku aman ada papa, mama dan Kak Morgan."
Raisha berusaha tersenyum, sebenarnya dia juga ikut gelisah. Tapi dia tak mau membuat Hendri khawatir.
"Selama aku tak ada disini kau jangan coba-coba menemui pacarmu."
"Ya ampun mas, Kak Ronal bukan pacarku. Berapa kali aku harus menjelaskan." Raisha tampak kesal.
"Ya udah, aku antar kamu pulang."
"Ngapain juga kita kemari cuma mau ngomong ini aja." Raisha berbicara dalam hati, belakangan ini moodnya sering berubah-ubah. Mudah marah, mudah sedih dan kadang-kadang bisa senang cuma karena hal-hal kecil. Sejujurnya dia merindukan suaminya, rasanya begitu janggal dia tidur sendiri seperti semalam. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran Hendri, bahkan dia jadi merindukan sikap Hendri yang suka marah-marah. Tampak lucu sekali dimatanya.
***
__ADS_1