
Raisha menyiapkan sarapan seperti biasanya. Rasa mualnya berkurang secara tiba-tiba. Semenjak sore kemarin pulang dari pemakaman dia sudah lupa dengan rasa mual yang menderanya setiap hari. Mungkin karena dia sedang fokus memikirkan Hendri suaminya.
Hendri menuju ke meja makan untuk sarapan. Raisha menyiapkan piring dan gelas yang dibantu oleh Bik Inah.
Mita akhirnya keluar kamar dia terlihat kurang sehat. Raisha menyuruh Bik Inah memanggil Mita untuk sarapan bersama. Sama seperti kemarin Mita tampak murung, dia terlihat seperti orang yang kurang tidur. Wajar saja, baru kemarin ibunya meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Hendri menyuruh Raisha mempersiapkan segalanya untuk acara nanti malam tahlilan untuk mendoakan ibunya. Beberapa orang dari kantor Hendri akan datang dan tadi pagi juga tim dari katering sudah datang untuk mempersiapkan tempat dan alat-alat makan.
Mendengar Raisha dan Hendri sibuk membicarakan rangkaian acara untuk nanti malam, Mita hanya diam saja tak sepatah katapun keluar dari mulutnya hingga Hendri menanyakan perihal rencana Mita kedepan.
"Apa rencanamu setelah ini?"
"Belum tahu."
"Kalau begitu kau tak perlu kembali lagi ke Singapur."
"Maksudnya?" Mita tak mengerti mengapa Hendri melarangnya kembali ke Singapura, padahal dia harus kembali kuliah disana.
__ADS_1
"Aku akan urus kepidahanmu kemari."
"Maksudnya Mas Hendri, aku...?"
"Ya, aku sudah berjanji sama ibu buat menjaga kamu. Sekarang kamu tanggung jawab aku."
"Tapi, Mas Hendri gak bisa begitu. Lagian kita juga tidak dekat. Aku pikir..."
"Aku tidak akan mengubah keputusanku." Hendri meninggalkan meja makan begitu saja. Mita tercengang dibuatnya. Dia tak menyangka Hendri bisa memutuskan hal yang penting dalam hidup Mita secara sepihak.
Raisha yang melihat perdebatan antara Mita dan Hendri tak dapat mengatakan apa-apa. Dia hanya terdiam. Mita tak melanjutkan makan dia ingin bergegas masuk kamar tapi berhasil dicegah oleh Raisha.
"Iya aku tahu, Mas Hendri hanya ingin menepati janjinya kepada ibu, tapi kami tidak dekat bahkan kami baru saling mengenal. Lagian aku ini cuma adik tirinya."
"Emmm...aku baru tahu kalau Mas Hendri punya seorang adik. Karena yang kudengar dari ayahnya, Mas Hendri anak tunggal."
"Memang benar, kami memiliki ibu yang sama, tapi berbeda ayah. Dulu ibu sering menceritakan kehidupannya yang dulu. Ibu bilang aku punya seorang kakak, Mas Hendri namanya. Ya cuma itu yang aku tahu, dan kami baru bertemu beberapa waktu yang lalu. Bagaimana dia bisa memutuskan hal yang penting dalam hidupku seperti ini. Tanpa bertanya dulu dia sudah main ambil keputusan begitu, siapa yang tidak gondok."
__ADS_1
Raisha ingin tertawa melihat adik iparnya yang kesal dibuat oleh Hendri.
"Jangan ditahan-tahan mbak kalau mau ketawa."
"Haha...,mbak cuma merasa kalau kalian sangat berbeda ya."
"Maksud mbak apa?, ya jelaslah kami beda kan kami gak satu bapak."
"Bukan itu maksud mbak, tapi sifat kalian."
"Justru aku yang heran, kok mbak mau sih sama dia?"
Raisha terdiam sejenak, dia teringat akan hubungannya dengan Hendri yang awalnya sangat kaku dan sekarang seperti mengulang kembali seperti pertama ketemu. Memang semenjak kemarin Hendri tak berbicara banyak dengannya, hanya beberapa hal penting saja yang mereka bicarakan. Raisha tak terlalu mengkhawatirkan sikap Hendri yang kembali kaku dengannya. Raisha hanya berpikir kalau Hendri sedang banyak urusan dan pemakaman ibunya cukup banyak menguras pikirannya.
Mita mencoba membuyarkan lamunan Raisha. "Mbak kok diam, ada apa?"
"Enggak ada apa-apa kok, ayo kita duduk di ruang tengah. Mbak mau menghubungi beberapa orang untuk acara nanti malam, kamu bisa bantu mbak kan?"
__ADS_1
"Tentu"
***