
"Maksudmu apa, kenapa dengan perutmu?. Kau...jangan bilang....kau hamil?."
Morgan tak dapat menyembunyikan rona kebahagiaan dari matanya. Dia amat senang akan memiliki keponakan dari adik perempuannya, tapi dilain sisi dia tampak khawatir dengan hubungan adiknya dengan Hendri. Dia terdiam sejenak, tampak raut kegelisahan dalam wajahnya. Raisha yang mendapati kakaknya termenung, buru-buru membuyarkan lamunan Morgan.
"Kakak mikir apa sih, gak senang liat aku disini?."
"Tidak, kakak senang sekali, tapi kenapa kamu gak ke rumah sakit tempat kakak praktek."
"Memangnya yang dokter kandungan kakak aja?"
"Jadi kamu meragukan kehebatanku?"
"Haha...ya enggak dong, Kak Morgan paling hebat. Raisha mau kesana juga kak, tapi belum sempat. Sekalian mau buat kejutan, tapi kita malah duluan ketemu disini."
Morgan gemas sekali dengan adiknya ini, di cubitnya pipi Raisha yang sudah kelihatan cabi.
"Pantesan udah cabi sedikit pipinya, dulunya udah kayak tengkorak hidup."
__ADS_1
"Ah kakak..., perasaan Raisha gak sekurus itu deh."
"Terus selain kurus emang ada nama lainnya?. Oh kakak tahu, nama lainnya tipis. Haha..."
Raisha kesel diejek terus oleh Morgan. Mulutnya sampai komat kamit miring kekanan kekiri membalas ejekan Morgan.
"Udah cukup, kalian kalau ketemu berantam melulu. Heran deh mama, kamu juga Morgan bukannya mandi dulu pulang dari rumah sakit langsung dekat-dekat sama Raisha. Ingat dia lagi hamil, dibaju kamu ada apa-apa malah dekat-dekat."
"Baik baginda ratu, hamba mohon diri masuk ke kamar."
***
Morgan masih memikirkan Raisha. Dia ingin bicara empat mata dengan adiknya, tapi lagi-lagi dia belum punya kesempatan. Henni dan Haris sedang berbicara santai dengan Raisha di ruang tengan. Morgan dari tadi hanya mondar-mandir di taman belakang. Dia menunggu mama Henni beranjak tidur dan meninggalkan Raisha seorang diri.
Raisha ingin segera tidur tapi tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Dia tahu itu Morgan, karena tak asing lagi baginya. Kakaknya selalu begitu, dia tak kan berhenti sampai rasa penasarannya hilang. Sejujurnya Raisha takut diintrogasi oleh kakaknya sendiri karena selama ini dia tak pandai berbohong dan Morgan orang yang tak gampang percaya dengan sesuatu. Dilain sisi dia masih ragu akan perasaan Hendri kepadanya. Bagaimana dia menyakinkan keluarganya sementara dirinya sendiri belum yakin dengan hubungan ini. Kalau suatu saat Hendri meninggalkannya, dia harus siap untuk membesarkan anaknya seorang diri. Raisha takut membayanginya, tapi ini semua harus dijalani. Sebenarnya yang lebih ditakutinya adalah kesehatan Henni. Itu yang terutama baginya. Dia tak mau mamanya jadi sedih dan berujung sakit kalau hal yang tidak diinginkannya itu terjadi.
Raisha mempersilakan Morgan masuk. Seperti dugaannya Morgan mulai menanyakan hal-hal yang tak ingin dibahasnya.
__ADS_1
"Bisa kita bicara sebentar ?"
"Ya, ada apa kak?"
"Sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan Hendri?"
"Maksud kakak?"
"Kalian bertengkar?"
"Ya ampun kak, pertanyaan kakak sama persis dengan pertanyaan mama. Raisha udah capek menjelaskannya."
"Jadi buat apa kamu sampai nginap disini?"
"Memangnya ini bukan rumah Raisha lagi?. Apa Raisha gak boleh nginap lagi disini ?"
***
__ADS_1