
Sudah lima belas menit Hendri berdiri di taman, dadanya naik turun menahan amarah. Biasanya dengan menghindar seperti ini, kemarahaanya akan lenyap dengan sendirinya tapi kali ini tidak. Dia tak tau bagaimana lagi menghadapi Raisha. Kalau dia tak menghindar seperti tadi, Raisha bisa mati ditangannya. Sebenarnya dia juga bingung dengan sikapnya terhadap Raisha. Kadang dia tak tega, kadang pula dia ingin membuat hidupnya bagai di neraka.
Alasannya ingin menikah dengan Raisha adalah untuk menghancurkan Haris, tapi malah akhir-akhir ini dia terlena dengan perasaanya terhadap Raisha. Seperti hari ini, seharusnya dia akan membuat Raisha menyesal telah menemui Ronal. Malah berakhir dengan dia meninggalkan Raisha seorang diri di kamar dan dia menjauh memilih berdiri di taman di kegelapan malam dibawah rintihan hujan. Hendri benar-benar tidak sadar kalau rintik-rintik hujan membasahi dirinya yang berdiri merenung dibawah pohon akasia di taman rumahnya. Baru setelah terdengar suara dering di saku celananya dia tersadar kalau hujan sudah membasahi sebagian bajunya.
Hendri memilih masuk dan duduk diruang santai di samping taman. Yang menelponnya ternyata Sendi, asisten pribadinya.
"Oke, sisanya biar aku yang urus." Hendri sudah tau apa yang akan diperbuatnya terhadap Ronal kekasih Raisha. Dia sudah menyuruh Sendi memata-matai Ronal. Sungguh Hendri terbakar cemburu setiap mendengar nama Ronal disebut, seperti sore ini ketika Sendi melaporkan hasil kerja anak buahnya.
__ADS_1
***
Raisha terduduk di lantai bersandar di pinggir ranjang. Dia hanya termenung, dia tak menangis bukan karena bekas tamparan Hendri tidak sakit tapi lebih kepada rasa lelah yang melandanya. Dia sudah capek terus-terusan menangis dan kali ini dia memilih untuk diam. Darah segar yang keluar dari sudut bibirnya bekas tamparan Hendri tak digublisnya. Dia hanya menyapu dengan punggung tangannya. Pipi kirinya nampak memar, kontras sekali dengan pipi sebelah kanannya. Tampak warna hitam kebiruan, sudut bibirnya pecah akibat kerasnya tamparan yang diterimanya.
Raisha memilih tidur dengan memar di pipinya, dia tak berniat mengobati atau bahkan setidaknya mengompres pipinya. Dia hanya ingin tidur berharap ketika bangun ini hanya sebuah mimpi. Bahkan malam itu dia tidur dengan perut kosong. Dia belum makan sejak siang dan malamnya Hendri mencercalnya dengan tuduhan palsu.
"Sudah jam 7 saja," Raisha melirik ke atas ranjang, tapi dia tak menemukan Hendri.
__ADS_1
"Mas Hendri tidak tidur disini semalam. Apa dia pergi lagi."
Hendri sengaja memilih tidur di ruang kerjanya, dia tidak bisa berada diruangan yang sama dengan istrinya. Dia bisa membunuh Raisha kalau habis kesabaran. Lebih baik dia menghindar malam itu. Sebenarnya dia begitu gelisah, tangan yang digunakan untuk menampar Raisha berkali-kali dia tinjukan ke dinding. Sampai dia memecahkan cermin di wastafel kamar mandi di ruangan kerjanya. Dia menyesal telah menampar istrinya. Tapi dia pikir itu lebih baik agar istrinya takut dan menggapnya serius kali ini.
Pagi sekali sebelum berangkat ke kantor Hendri ingin menemui Raisha, dia ingin melihat keadaan istrinya. Tapi niatnya cepat-cepat ditepisnya. Dia tidak boleh kelihatan lunak, kalau Raisha tau dia mengkhawatirkanya bisa besar kepala dia. Akhirnya Hendri langsung berangkat ke kantor berhubung dia juga punya janji dengan Haris.
***
__ADS_1