
Hendri terbangun ketika Raisha memindahkan kakinya. Melihat Raisha dengan malu-malu berjalan ke kamar mandi timbul niat dihatinya ingin mengerjai istrinya.
"Kau mau kemana kelinci putih?" Hendri hampir tertawa ketika mengatakannya, dia membayangkan istrinya imut seperti kelinci yang menggemaskan.
Raisha merasa malu diperhatikan seperti itu oleh Hendri. Dia tak menjawab hanya mencoba menutup tubuhnya sebagian dengan baju yang dipungutnya tadi. Hendri semakin senang, ditariknya baju yang menutupi sebagian tubuh istrinya.
"Seperti ini keliatan lebih bagus", Hendri ingin mengulang kejadian semalam dia menarik istrinya masuk ke kamar mandi.
"Kalau kau menjadi penurut seperti ini, aku akan memberimu hadiah."
"Kau harus tepati janjimu, bebaskan Kak Morgan hari ini dan kembalikan perusahaan papa."
"Baiklah, apa bisa kita lanjut permainannya"
__ADS_1
Hendri merasa sangat senang, bahkan dirasa pikirannya lebih jernih. Dia telah dibuat senang semalaman oleh istrinya dan hari ini dia akan menepati janjinya.
Raisha meminta izin untuk menemui mamanya di rumah sakit. Sejak kemarin dia tak tenang, karena telalu lelah akhirnya dia bisa tidur nyenyak semalam. Hendri mengizinkan Raisha pergi tapi dia sendiri yang mengantarnya.
Di mobil Hendri terus tersenyum dan melirik ke arah istrinya. Raisha menjadi salah tingkah, dia tak tahu harus bersikap bagaimana. Disatu sisi dia belum bisa percaya dengan suaminya yang bersikap begitu buruk terhadap keluarganya dan disisi lain Hendri itu adalah suaminya dan sekarang mereka sudah seperti pasangan lainnya saling berbagi ranjang. Mengingat apa yang telah dilaluinya semalam, muka Raisha menjadi memerah seketika. Hendri yang melihat perubahan wajah istrinya ikut menggodanya.
"Kenapa, kau sedang membayangkan kejadian semalam? Bagaimana kalau kita mengulangnya disini?" Hendri sengaja mengatakan demikian dia sudah tak tahan ingin menggoda istrinya. Lagian wajar saja itu terjadi, mereka adalah pengantin baru.
Raisha langsung salah tingkah dan memukul tangan Hendri mengharap dia tak melakukan hal yang gila di mobil.
"Kau tenang saja, aku sudah membereskannya, sebentar lagi kakakmu akan bebas dan mengenai perusahan papamu, aku sendiri yang akan mengatakan padanya nanti. Kau pun harus mengatakan padanya apa yang kukatakan padamu semalam."
Raisha mengangguk, dia ingat betul apa yang dikatakan Hendri semalam sebelum dia tertidur. Dia akan melakukan apa saja demi kebahagian keluarganya meski dia harus mengorbankan dirinya.
__ADS_1
Di rumah sakit, Raisha melihat Morgan sedang berbicara dengan papanya. Raisha begitu senang kakaknya sudah bebas. Ini berarti Hendri tak membohonginya, dan tampa sengaja di menggenggam tangan suaminya. Hendri ikut bahagia, dia tak menyadari bahwa kebahagiannya datang dengan melihat istrinya bahagia. Sungguh dia tak sadar kalau dia telah jatuh cinta.
"Aku sudah menepati janjiku, sekarang gikiran kamu" Raisha mengangguk dia tau betul apa yang harus dilakukannya.
"Pa, bagaimana keadaan mama?"
"Mamamu baik-baik saja, kau sendiri bagaimana, apa suamimu menyakitimu?"
"Aku baik pa, kenapa dia harus menyakitiku. Mas Hendri sudah membebaskan Kak Morgan dan dia akan mengembalikan perusahaan papa. Kami sudah membicarakan semuanya, ada sedikit kesalah pahaman diantara kami dan kami memutuskan untuk mengakhiri semua ini. Kita harus kembali seperti dulu, Mas Hendri ingin minta maaf kepada papa dan Kak Morgan. Iya kan mas?"
Ya, aku ingin minta maaf. Belakangan ini aku sedikit cemburu dan menuduh Raisha macam-macam. Aku kesal dan tak tahu harus melimpahkan kemana. Aku merasa papa mendukung Raisha berbuat curang dengan Ronal. Aku ingin mengembalikan perusahaan papa, kupikir papa masi kuat menjalankan perusahaan ini seorang diri."
Haris masih tak percaya kalau pria didepannya ini sedang meminta maaf. Sikapnya kemarin dan hari ini sangatlah berbeda. Tapi satu hal yang tidak dimengertinya Raisha pun dalam keadaan baik-baik saja bahkan dia tampak segar hari ini. Apa mungkin Hendri mengancamnya?, rasanya tak mungkin. Pancaran wajah Raisha memang menggambarkan seseorang yang sedang jatuh cinta.
__ADS_1
Haris memilih untuk percaya, dia merasa tidak ada pilihan selain mendukung anaknya. Dia telah memaksa anaknya menikahi Hendri dan sekarang tak mungkin dia memisahkan anaknya dari suaminya apa lagi melihatnya menjadi janda. Itu hal yang paling dihindarinya.
***