
"cuma apa?"
"Dari mana kamu tahu kalau aku bersama Kak Ronal?"
"Itu bukan hal yang sulit buatku."
"Emmm...maksudku kenapa Kak Ronal memberitaumu dimana keberadaanku?"
"Apa pentingnya, apa kau sudah berencana kabur dengannya?. Kau jangan lupa dengan kesepakatan kita. Kalau kau sampai kabur dengan laki-laki itu, aku akan penjarakan papamu dengan tuduhan penipuan."
"Maksudmu apa, papaku orang baik. Bagaimana kau bisa penjarakan dia dengan tuduhan semacam itu. Memangnya siapa yang pernah ditipunya?"
"Tentu saja aku. Aku akan meminta dia mengembalikan uangku. Memangnya dia sanggup mengganti semuanya. Dia sudah menanda tangani kontrak, dan kamu tahu berapa uang yang harus digantinya padaku?."
Raisha tak habis pikir, Hendri masih mengungkit masalah yang telah lalu. Raisha memilih diam, dia tak mau melanjutkan pembicaraan ini. Mungkin dia yang salah, bukan saatnya membicarakan masalah ini dengan Hendri. Dia masuk ke kamar dan berbaring di ranjang. Dia kelelahan, tapi matanya tak bisa terpejam. Dia termenung sejenak, mungkin dia terlalu berharap kepada Hendri. Dipikir hubungannya sekarang sudah membaik dan Hendri sudah melupakan masalah yang lalu dengan papanya. Ternyata tidak, Hendri masih sakit hati dan terus mengungkit kesepakatan mereka.
Hendri melihat istrinya terdiam dan memilih masuk ke kamar membuat hatinya sedikit tak enak. Dia pikir mungkin ini sedikit berlebihan. Istrinya sedang hamil dan mungkinkah ini bisa berpengaruh dengan kondisi bayinya. Dia tak mau ambil resiko. Dengan cepat didatanginya Raisha yang sepertinya sedang dalam keadaan tak baik.
"Kau tak ingin makan sesuatu?"
__ADS_1
"Tidak"
"Bagaimana kalau bakso?"
"Aku tak mau lagi"
"Emmm...aku pikir wanita yang sedang hamil biasanya menginginkan sesuatu yang asam."
"Gak jamannya lagi ngidam rujak mas, sekarang wanita hamil ngidamnya tas, sepatu sama berlian."
"Oh gitu, kayaknya anak kita dari dalam perut ibunya aja udah matre ya."
"Kalau begitu kamu liat-liat aja dulu tas model mana yang mau kamu beli. Besok kita pergi sama-sama untuk membelinya."
"Memangnya siapa juga yang mau beli tas."
"Trus bumil yang kurus ini mau apa?"
"Aku gak kurus lagi mas, dah naik 3 kilo."
__ADS_1
"Wow, luar biasa sekali ya," Hendri masi terus menggoda Raisha.
"Kok kamu jadi cemberut gitu?"
"Habisnya mas gak menghargai usaha aku. Gimana aku bisa gemuk, mas bikin masalah melulu."
"Aku?"
"Ya, jadi siapa lagi?"
Nada dering yang terdengar nyaring menghentikan candaan keduanya. Muka Hendri terlihat tegang, Raisha ikut penasaran dan berfikir siapa yang menghubungi suaminya malam-malam begini. Hendri tak langsung mengangkat dia seperti sedang berfikir. Panggilan itu akhirnya dibiarkan begitu saja oleh Hendri. Raisha ingin bertanya tapi Hendri buru-buru keluar dari kamar dia hendak masuk ke ruang kerjanya.
Hendri mengamati lagi HP-nya yang tak lagi berdering dan tak lama setelah itu masuk pesan dari nomor yang tadi menghubunginya.
"Kenapa tak mengangkat?, ini belum apa-apa, aku masih punya kejutan lain buat istrimu."
Hendri tak menggublis pesan dari seseorang yang dikenalnya. Dia sedang berpikir keras, apa maunya Yulis. Sebenarnya dia tak peduli dengan ancaman dari Yulis tapi mengingat istrinya yang sedang hamil dia tak mau ambil resiko. Kalau sampai istrinya syok dan memutuskan pergi dari rumah lagi Hendri tak tahu harus berbuat apa seperti yang telah terjadi hari ini.
***
__ADS_1