
Pagi itu setelah sarapan Hendri berbicara dengan Mita di ruang tengah. Raisha tak ikut mendengar, pikirnya ini pembicaraan antara adik dan kakak sebaiknya dia tak ikut campur. Setelah meletakkan kopi di meja, Raisha memilih ke dapur untuk membantu Bik Inah.
"Kau pilih saja mau pindah ke kampus mana, berkas kepindahanmu segera dikirim kesini."
"Maksud Mas Hendri aku harus pindah kesini?, Mas aku kan sudah bilang kalau aku tak mungkin tinggal disini."
"Kenapa?"
"Itu karena..."
"Kita tidak terlalu dekat?"
"Maksudku..."
"Kalau sampai hari ini kau belum memutuskan mau kuliah dimana, aku yang akan memutuskannya."
Hendri berlalu begitu saja, dia bergegas berangkat ke kantor. Ada tamu yang menunggunya disana.
Mita tercengang dibuatnya, dia tak habis pikir bisa mempunyai kakak seperti Hendri. Raisha yang melihat Mita masih duduk di ruang tengah ikut menghampiri dan duduk disampingnya.
"Ada apa, kamu sama Mas Hendri berantem lagi?"
"Emmm...entah, pusing mikirnya."
"Haha...,kamu harus terbiasa mulai sekarang."
__ADS_1
"Mbak Raisha kok bisa betah sih sama Mas Hendri, heran deh."
"Gak tahu juga, tapi mungkin ini udah nasib mbak."
"Maksudnya?"
Raisha berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia tak mau membicarakan masalahnya kepada Mita adik dari Hendri. Rasanya tak pantas membicarakan ini dengannya. Dia memilih memendamnya di dalam hati.
***
Sore harinya Mita hendak keluar rumah, dia harus berbelanja beberapa baju karena dia tak membawanya ke rumah Hendri. Mungkin sebagian akan dia ambil dari rumahnya.
"Kamu udah cantik gitu mau kemana?"
"Aku...,"
"Kenapa, Mas Hendri gak ngizinin?, udah pergi aja, lagian perginya kan sama aku bukan sama cowok, haha..."
"Mbak pengen ikut sih, tapi nanti Mas Hendri..."
"Udah sekarang Mbak telpon Mas Hendri bilang mau beli baju hamil, baju mbak udah pada kekecilan dan perginya bareng aku. Bilang sama dia gak usah khawatir kita perginya diantar supir."
"Kamu kayaknya udah tahu betul gimana Mas Hendri. Sampai ngerti banget kalau dia posesif."
"Ya mudah aja kita mengenali laki-laki yang seperti Mas Hendri."
__ADS_1
"Sepertinya kamu pengalaman sekali menghadapi laki-laki. Jangan-jangan kamu play girl lagi,haha..."
"Play girl sih enggak mbak, tapi lumayanlah cowokku ada beberapa orang."
"Beberapa itu banyak lo, kamu sampai bingung nyebutin jumlahnya."
"Tapi yang paling aku hindari cowok yang seperti Mas Hendri itu. Membosankan dan membuat kita gak betah. Aku suka cowok yang humoris dan yang pasti ganteng."
"Ah kamu ini, nanti kalau dah selesai kuliah selera kamu bakal berubah pasti nyarinya yang mapan."
"Ya siapa juga yang mau sama cowok kere, pasti kita nyarinya yang mapan mbak."
"Tapi yang penting baik, kalau cuma mapan tapi jahat gimana, kita gak kuat juga menjalaninya."
"Jangan-jangan Mas Hendri ini pacar pertama mbak ya, terus dia buru-buru ngajak mbak nikah takut ketahuan kalau dia orangnya membosankan, haha..."
"Kamu ini ada-ada aja. Mbak gak pernah pacaran sama Mas Hendri, kami dijodohkan."
"Pantesan, terus sekarang mbak nyesal nikah sama dia?"
"Ya enggaklah, kok kamu ngomong gitu sih. Dia itukan kakak kamu."
"Iya, haha...betul juga. Ya udah mbak telpon Mas Hendri sekarang biar kita berangkat. Aku suruh siapin mobil dulu ya."
***
__ADS_1