
Raisha tak mau berlama-lama menangisi nasibnya. Setelah Hendri berangkat ke kantor Raisha pun naik taxi menuju kampus. Dia sedikit menebalkan make up-nya supaya tak terlihat matanya yang sembab karna habis menangis.
Dia harus menyelesaikan urusannya dengan dosen pembimbing. Niatnya setelah ini mau pulang ke rumah orang tuanya. Raisha sangat merindukan kelurganya terutama mama Henni.
Raisha sangat bersyukur, doanya terkabul. Dosennya telah meng-ACC skripsinya. Dia bisa segera sidang. Tinggal mengatur jadwal.
Raisha pengen buru-buru pulang, dia mau ke rumah orang tua nya. Padahal Ike mengajak dia ke mall, karena sudah lama mereka gak ngumpul. Tapi Raisha menolak ajakan Ike karena sudah ada rencana lain.
Di parkiran Raisha mendengar seseorang memanggil. Dipalingkan wajahnya, ternyata Ronal. Raisha ingin menghindari Ronal karena tak mau memancing kemarahan Hendri.
"Kalau sampai mas Hendri tau aku bertemu dengan kak Ronal dikampus, nanti dia pikir aku janjian sama kak Ronal". "Lebih baik aku segera pergi".
Ronal menarik tangan Raisha menahannya disana.
"Kenapa kau menghindar dari ku?".
"Aku lagi buru-buru ni kak, lagi ada urusan".
"Kau mau kemana?, biar ku antar".
__ADS_1
Ronal menawarkan tumpangan pada Raisha.
"Gak usah kak, aku naik taxi aja".
"Udah biar ku antar, katanya kau buru-buru". "Ayok cepat naik, biar ku antar".
Ronal bersikeras ingin mengantar Raisha.
Ronal membuka pembicaraan dengan menanyakan kejadian kemarin malam.
"Sebenarnya laki-laki yang bersama mu semalam siapa?".
Bak disambar petir, Ronal begitu terkejut, dia tidak menyangka orang yang ditunggunya selama ini telah menjadi milik orang lain. Dia tidak bisa terima.
Dulu Raisha menolaknya dengan alasan tidak ingin pacaran karena mau melanjutkan kuliah S2 dan dia ingin berkarir dulu baru setelah itu menikah. Tapi sekarang malah dia belum tamat S1 sudah menikah. Ronal merasa dipermainkan dan hatinya tiba-tiba sakit. Dia sangat sedih, dia telah patah hati. Selama ini dia menunggu Raisha. Lebih tepatnya saat Raisha ingin menikah, dia akan menunggu saat itu tiba. Tapi sekarang Raisha telah menghancurkan mimpinya.
Ronal terdiam begitu lama dia tak melanjutkan kata-katanya. Raisha menyadari perubahan mimik wajah Ronal.
"Antarkan aku ke rumah ya, kak Morgan masih ingatkan rumahku?".
__ADS_1
"Iya, tentu saja aku ingat".
Lima belah menit kemudian Raisha sudah sampai di kediaman orang tuanya. Ronal langsung pamit pulang. Raisha merasa tak enak dengan Ronal. Seperti merasa..., Raisha ingat betul bagaimana dulu dia menolak Ronal.
"Apa kak Ronal marah?
"Dia pasti sangat kecewa dengan ku. Pasti dia pikir aku cewek plin-plan". Membolak-balikkan kata-kata.
"Maaf kak Ronal, aku tak kuasa melawan papa. Aku harus menikah demi kedamaian dalam keluargaku".
Siapa yang tidak akan jatuh cinta dengan Ronal, dia laki-laki yang sangat tampan. Kulitnya putih bersih, dia memiliki rambut yang indah. Hidung yang mancung, bahkan senyumnya yang menawan membuat cewek-cewek di kampus tergila-gila padanya. Raisha pun suka dengan Ronal, hanya saja dia tak ingin pacaran karena papa dan kakaknya Morgan tak suka dia dekat dengan laki-laki. Raisha tak ingin membuat orang lain dalam masalah. Akhirnya dia sedikit menjaga jarak dengan laki-laki.
Morgan tak suka dengan Ronal, dia bilang kalau cowok ganteng seperti Ronal biasanya play boy dan gk bisa dipercaya.
"Buktinya aja dia deket sama semua cewek itu tandanya dia emang suka menebar cinta kemana-mana".
Raisha cuma geleng-geleng kepala melihat kakaknya sampai segitunya tak suka dengan Ronal.
"Berarti kakak play boy juga dong, secara kakak ku paling ganteng, haha....
__ADS_1
"Nah terkecuali kakak, kalau kakak ganteng dan baik hati".