Pengorbanan Raisha

Pengorbanan Raisha
bertemu ibu


__ADS_3

Hendri hanya diam dan enggan menjawab pertanyaan dari mertuanya.


"Apa kau mau menceraikan Raisha sementara dia lagi hamil?"


"Aku pikir itu pertanyaan yang tidak masuk akal."


"Bagus, ku pegang kata-katamu."


"Ini antara kita berdua, kuharap kau cukup jantan untuk tidak melibatkan wanita dalam permainan ini."


"Semoga saja."


Haris langsung pergi setelah berbicara singkat dengan Hendri. Dia masih kesal kepada menantunya itu tapi Haris memilih tak menampakkannya dimata anak dan istrinya.


Henni mendapati Hendri duduk seorang diri di ruang tengah. Dia heran akan sikap Haris yang seperti tak menghormati tamu.


"Dimana papa, apa dia sudah berangkat?"

__ADS_1


"Iya, katanya buru-buru ada rapat."


Hendri berusaha menyembunyikan kenyataan yang terjadi. Dia tak mau Henni sampai curiga.


"Kalau begitu, saya pamit juga mau langsung ke kantor."


"Buru-buru sekali, kalau begitu diminum dulu kopinya, mama udh buat ni."


Hendri meneguk kopinya dia tampak sangat terburu-buru. Akhirnya dia pamit kepada Henni dan Raisha. Dia langsung menuju ke rumah ibunya.


Suara bel menggema di dalam ruangan. Seorang wanita paruh baya membuka pintu dan mendapai orang yang sangat dirindukannya datang menemuinya.


Hendri terdiam, dia tak mampu berkata-kata. Dia sudah lupa dengan wajah ibunya, berhubung ibunya dulu meninggalkannya saat masih terlalu kecil.


Marisa tak percaya, anak yang selama ini di rindukannya datang menemuinya. Dia tahu ini berat bagi Hendri menerimanya kembali, tapi dia tak mau melewati hari-hari ini dengan penyesalan. Mungkin hidupnya tak lama lagi, dia pun memberanikan diri menemui Baskoro ayah dari anaknya.


Selama ini Marisa menjauh dari kehidupan anaknya dan kini dia datang kembali memberikan luka bagi Hendri. Marisha menangis, dia tak sanggup menahan diri. Dipeluknya anak yang telah lama dirindukannya. Di meminta maaf, dia tak bisa memendam lagi perasaan bersalahnya.

__ADS_1


Hendri tampak bingung, apa benar ini ibu yang melahirkannya. Dia tampak terkejut tatkala Marisa memeluknya. Dia juga tak bisa berkata-kata. Walau dia amat membenci ibunya tapi di hati kecilnya dia sangat merindukannya.


Mungkin ini akhir dari semuanya, dia harus mengakhiri perasaan yang terus menggrogotinya. Ada banyak pertanyaan yang mengganggu pikirannya ingin ditanyakan kepada Marisa wanita yang telah melahirkannya.


Marisa akhirnya menangis dipelukan anaknya. Dia menangis sambil meminta maaf. Hendri tak tahu harus menjawab apa, dia sejujurnya belum siap bertemu dengan ibunya. Masih ada perasaan yang mengganjal dihatinya.


"Aku..."


"Ayo kita duduk dulu nak" Marisa mempersilahkan Hendri masuk dan dia duduk bersebelahan dengan anaknya.


"Ibu...,ibu tak tahu harus bagaimana memulainya. Tapi ibu ingin disisa hidup ini bisa mendapat maaf dari kamu."


"Ibu dengar kamu sudah menikah, bapak yang bilang sama ibu. Apa benar?"


"Iya," Hendri enggan menjawab dia masih tak percaya setelah sekian lama akhirnya bertemu dengan wanita yang telah menelantarkannya. Dia ingin bertanya kenapa ibunya tega meninggalkannya, tapi mulutnya sulit diajak bicara. Dia hanya menatap ibunya tampa ekspresi. Marisa masih tampak sangat cantik, hanya saja dia tampak lebih kurus. Maklum saja setelah penyakit itu menggrogotinya dia semakin tak bernafsu makan. Dia putus asa dan hampir menyerah. Setelah Baskoro membantunya berbicara dengan Hendri, Marisa akhirnya bersemangat kembali karena dia bisa bertemu dengan anak laki-lakinya.


"Kenapa ibu meninggalkan aku dengan bapak?"

__ADS_1


__ADS_2