Pengorbanan Raisha

Pengorbanan Raisha
kedatangan bapak


__ADS_3

Hendri tertidur di ruang kerjanya, Raisha tak melihat Hendri disampingnya. "Mungkinkah Mas Hendri sudah berangkat ke kantor pagi-pagi?"


Raisha menyiapkan sarapan bersama Bik Mur di dapur.


"Bik, apa Mas Hendri udah berangkat?"


"Sepertinya belum nyonya, itu mobilnya masih di garasi."


Raisha baru teringat kalau Hendri belum masuk ke kamar ketika dia hendak tidur. "Apa Mas Hendri tidur di ruang kerjanya?"


Raisha menaiki tangga dan masuk ke ruang kerja Hendri yang berseblahan dengan kamar mereka.


"Mas, kamu tidur disini?"


Hendri yang terkejut mendapati Raisha menemuinya di ruang kerja, segera bangkit dari sofa panjang yang berada tak jauh dari meja kerjanya.


"Ya aku istirahat sebentar semalam, rupanya aku tertidur disini. Aku mau mandi dulu udah telat ni."


Raisha menyiapkan pakaian Hendri sambil menatap kearah suaminya. Sebenarnya ada yang ingin ditanyainya, tapi dia mengurungkan niat karena Hendri seperti mencoba menghindarinya.


"Mas kamu gak sarapan dulu?"

__ADS_1


"Aku sudah telat, nanti aku sarapan di kantor aja" Hendri benar-benar pusing dia sedang tak ingin berbicara dia lebih baik menghindar dari istrinya. Raisha pun tak ingin menanyakan perihal yang membuat suaminya sedikit gelisah. Apa yang sebenarnya terjadi?" Raisha begitu penasaran tapi lagi-lagi dia mengurungkan niatnya untuk bertanya.


***


Raisha sedang minum teh di taman belakang. Hari ini dia tak berencana kemana-mana. Ketiga sahabatnya sudah sibuk mengajak keluar untuk jalan-jalan. Katanya ingin menghirup udara segar. Tapi Raisha memilih menolak karena keadaan sedang tidak memungkinkan. Baru kemarin dia bersitegang dengan suaminya, dia tak mau hari ini bertengkar lagi karena telat pulang. Biasanya kalau pergi dengan ketiga sahabatnya dia bisa lupa waktu.


Bik Inah memberitahukan Raisha kalau ada tamu yang mencarinya.


"Siapa tamunya bik?"


"Saya gak tahu nyonya, bapak-bapak gitu pokoknya."


Raisha merasa aneh, apa itu papanya?. Raisha langsung menuju ruang tamu dia penasaran ingin tahu siapa tamu yang datang menemuinya. Seorang laki-laki berumur lima puluhan. Bisa dibilang sebaya dengan papanya, mungkin laki-laki itu nampak lebih tua karena rambutnya yang seluruhnya memutih. Kulitnya sawo matang kira-kira tingginya 175 cm. Raisha yang merasa tak mengenal laki-laki tersebut sedikit kebingungan.


"Saya ingin menemui anak saya"


"Anak?, yang mana anak bapak?" Raisha makin kebingungan. Apa mungkin bapak ini salah alamat?.


"Hendri...Hendri Gunawan anak saya"


"Mas Hendri?"

__ADS_1


"Apa kamu istrinya?"


"Iya, kalau begitu saya telpon Mas Hendri dulu ya biar dia pulang."


"Gak perlu, saya mau pulang sekarang. Nanti bilang saja sama Hendri bapak udah kembali ke rumah sakit."


"Rumah sakit, memangnya bapak sakit apa?"


"Bapak gila nak, bapak harus kembali ke rumah sakit biar sembuh seperti sedia kala."


"Tapi, bapak bisa menunggu Mas Hendri sebentar saja, saya akan menghubunginya sekarang. Mas Hendri pasti cemas, dari semalam dia tak bisa tidur memiikirkan bapak." Raisha baru tahu apa yang menyebabkan suaminya gelisah.


"Mas Hendri pasti udah nyari bapak kemana-mana. Bapak tunggu disini dulu ya, saya telpon Mas Hendri."


Raisha buru-buru berlari ke kamar. Secepat kilat diambilnya HP dan segera menghubungi suaminya.


"Mas, pulang dulu sebentar"


"Ada apa, aku lagi sibuk di kantor" Hendri yang sedang pusing di kantor merasa terganggu menerima telepon dari istrinya. Dia sedang tak ingin diganggu. Anak buah yang diutusnya untuk mencari ayahnya tak kunjung memberinya kabar baik.


"Mas, bapak ada di rumah?"

__ADS_1


"Apa?" Hendri langsung menutup telpon, hatinya begitu dag dig dug, Apa benar ayahnya ada di rumah. Kenapa ayahnya tahu alamat rumahnya?.


***


__ADS_2