Pengorbanan Raisha

Pengorbanan Raisha
pergi dan jumpai dia


__ADS_3

Hendri begitu takut tatkala mendengar ayahnya kabur dari rumah sakit. Hari ini dia tidak bisa berkonsentrasi, dia sangat khawatir terhadap kondisi kejiwaan ayahnya. Kalau terjadi apa-apa di jalan dan seandainya ayahnya kumat lagi dan memukul orang dijalanan Hendri tak tahu harus mencari kemana lagi ayahnya. Apa wanita yang menemui ayahnya itu benar orang yang melahirkannya. Jujur dia rindu ingin melihat ibunya, tapi perasaan kecewa yang teramat dalam terus saja menghantui dirinya. Mendengar kabar kalau ayahnya berada di rumah, Hendri begitu senang.


Hendri memacu kendaraannya begitu cepat tak sampai lima belas menit dia sudah sampai di pintu gerbang rumahnya. Hendri buru-buru masuk dan mencari sosok ayahnya. Dia begitu cemas dan benar saja ayahnya sedang duduk di ruang tamu dengan istrinya Raisha.


Melihat Hendri datang, Raisha bangun dari duduknya dan menyapa Hendri dengan senyuman manisnya. Dia begitu senang Hendri sudah berada di rumah sekarang dan bisa menemui ayahnya.


"Mas, bapak mau pulang. Aku sudah bilang suruh nginap dulu disini. Biar besok mas yang ngantarin bapak ke rumah sakit."


Hendri hanya melirik istrinya sesaat dan kemudian beralih dengan menelisik keseluruh anggota tubuh ayahnya.


"Bapak gak pa-pa?, bapak dari mana saja? Kenapa baju bapak bisa kotor begini, apa bapak jatuh dijalan?"


Kalau nanyak ya satu-satu. Bapak gak bisa jawab kalau ditodong pertanyaan beruntun gitu.


"Bapak kemana saja, aku nyari bapak kesana kemari. Bapak kok gak bilang pergi kemana, main pergi-pergi aja."

__ADS_1


"Ya namanya aja kabur, kalau kabur kan gak bilang-bilang. Bapak baik-baik aja, tadi bapak cuma kecipratan air dipinggir jalan. Ini bapak mau balik ke rumah sakit lagi."


"Besok aja pak, biar aku yang antar bapak. Sebenarnya bapak dari mana?"


"Kemarin ibu kamu datang menemui bapak. Dia sakit sekarang kena penyakit kangker kalau gak salah. Bapak lupa, dia datang cuma mau minta maaf. Dia minta tolong sama bapak buat jumpain dia dengan kamu. Bapak kemarin mencoba mencari dia, bapak pergi ke rumahnya. Bapak cari tahu apa benar ibumu sedang sakit. Tetangganya bilang dia udah dua tahun ini sakit-sakitan."


"Untuk apa dia menemui aku, bukannya dulu dia yang meninggalkan kita. Sekarang apa maunya?, dia mau uang?"


"Hendri, kamu gak boleh ngomong gitu. Dia itu ibu kamu." Raisha hanya duduk terdiam mendengarkan pembicaraan ayah dan anak. Dia begitu terkejut mendengar cerita masa lalu suaminya.


"Jadi aku harus apa sekarang?"


Hendri hanya diam saja mendengarkan nasehat dari ayahnya. Dia tak ingin berkomentar tentang itu. Hatinya sakit dan masih meninggalkan trauma yang mendalam.


"Berarti bapak udah sehat sekarang sudah bisa menasehati aku seperti ini. Sebaiknya bapak jangan balik lagi ke rumah sakit."

__ADS_1


"Gak bisa, bapak udah betah disana. Bapak banyak teman dan disana banyak yang membutuhkan bapak."


"Bapak bukan dokter, untuk apa bapak berteman dengan orang yang tidak waras?"


"Kan mereka sama dengan bapak"


"Iya, tapi bapak udah sembuh."


"Kenapa, kamu malu kalau orang tahu bapak tinggal disana sama-sama jadi orang gila?"


"Untuk apa aku malu pak?, aku pengen kita ngumpul seperti dulu."


"Bapak bosan tinggal disini, rumah kamu besar sekali tapi sepi. Bapak gak suka tinggal ditempat yang sepi, gak da orangnya kek gini. Memang kalian gak bosan apa cuma berdua aja, kok gak buat anak banyak-banyak gitu."


"Memangnya kalau aku udah punya banyak anak bapak mau tinggal disini?"

__ADS_1


Ya pasti, bapak gak suntuk bisa main bareng cucu. Punya anak cuma satu, dah tua gini belum juga dikasi cucu. Hen...Hen...kerjamu apa cari uang saja?"


***


__ADS_2