
Pagi-pagi sekali Raisha sudah bangun. Dia sudah membuat janji dengan dosen pembimbingnya. Semoga saja hari ini skripsinya sudah di ACC.
Raisha sedang bersiap di kamar mandi. Terdengar jelas dering dari hp-nya. Sudah dua kali hp-nya berdering tapi Raisha tak mendengarnya. Suara kucuran air dari dalam kamar mandi menghalangi pendengaran.
Hendri yang masi tidur merasa kesal, "kenapa dia tak mengangkat telponnya. Kemana dia?".
Hendri melihat hp Raisha di atas meja, dilihatnya no yg tak bernama. Siapa yang menelpon istrinya pagi-pagi. Dan no-nya tak tersimpan di hp Raisha. Hendri langsung mengangkat karena hp Raisha tak kunjung diam.
"Halo...,ini siapa?.
" Maaf ini bukanya no hp Raisha?.
Iya, ada perlu apa?".
Terdengar suara laki-laki yang menelpon di seberang sana. Hendri naik darah, pagi-pagi sudah ada laki-laki yang menghubungi istrinya. Hendri pikir dia terlalu memberi kelonggaran pada istrinya, sehingga Raisha sudah terlalu berani bermain api dibelakang Hendri.
"Jadi dia diluar bertemu dengan laki-laki itu, awas saja kali ini tak kan ku biarkan kalian bersenang-senang".
Di seberang sana Ronal pun merasa heran kenapa suara laki-laki yang mengangkat telpon. Ronal tau Raisha punya saudara laki-laki dan dia pernah bertemu dengan Morgan. Tapi itu bukan suara Morgan pikirnya. Ronal pernah mengantar Raisha ke rumahnya dan Morgan memandang Ronal dengan pandangan yang tak suka. Ronal juga pernah bertegur sapa dengan Morgan di tempat biasa mereka bermain futsal tapi Morgan acuh tak acuh terhadapnya.
__ADS_1
"Bisa saya bicara dengan Raisha?, ini dengan saya Morgan".
"Tidak bisa".
Hendri langsung menutup telpon. Dia begitu kesal, darahnya tiba-tiba naik dan dia siap meledak.
Raisha baru saja keluar dari kamar mandi, dia melihat Hendri berbicara di telpon. "Siapa yang menelpon pagi-pagi?".
Suhu ruangan tiba-tiba menjadi panas, Raisha jadi merinding.
"Kenapa mas Hendri menatapku seperti itu?, aku salah apa lagi ya?".
Beribu pertanyaan muncul dikepala Raisha. Hendri tak membuang pandangannya, dia terus menatap Raisha. Rasa takut pun hinggap di hati Raisha. Kali ini Hendri benar-benar marah. Kesabarannya sudah habis. Dilemparnya hp Raisha ke luar jendela. Hendri sengaja melempar di depan Raisha, biar dia tau betapa seriusnya kemarahan Hendri kali ini.
Raisha hanya bisa terdiam dan tak percaya apa yang dilihatnya barusan.
"Mas, sebenarnya ada apa?"
Raisha begitu penasaran ingin tau apa yang terjadi. Meskipun takut dia memberanikan diri bertanya.
__ADS_1
"Kau tau siapa yang menelpon-mu?".
"Memangnya siapa yang menelpon, kenapa mas membuang hp ku?".
"Karena yang menelpon barusan adalah pacarmu".
"Pacar, siapa pacarku, maksud mas siapa?".
"Ronal, dia pria yang kau jumpai semalam bukan?.
" Ronal..."
"Kau terkejut?. Apa kau belum mengatakan padanya kalau kau sudah menikah?".
"Wau...kau pandai memainkan peran". Jadi kau ingin mengambil keuntungan juga dari dia.
"Sekali kayuh dua pulau terlampowi. Ayah dan anak sama saja".
Hendri mencengkeram dagu Raisha, dia begitu marah. Terdengar gemurutuk giginya menahan amarah.
__ADS_1
"Jangan mimpi kau bisa lepas dari ku. Kalau aku mau, detik ini juga aku bisa menghancurkan keluargamu. Akan ku buat kalian mengemis dijalanan. Biar kalian tau dengan siapa kalian berurusan".
Hendri meninggalkan Raisha yang berlinang air mata. Raisha begitu syok, dia menangis dalam diam. Dia sangat ketakutan.