Pengorbanan Raisha

Pengorbanan Raisha
kamu nikah kontrak


__ADS_3

Raisha yang dari tadi serius mendengarkan obrolan mereka jadi salah tingkah ketika mertuanya mengatakan ingin bermain dengan cucu. Hendri melirik ke arah Raisha persekian detik. Terlihah wajah istrinya yang memerah. Hendri ingin tertawa melihat Raisha yang tampak salah tingkah.


"Kok kalian jadi liat-liatan, sebenarnya kalian gak mau punya anak dulu ya?. Walaupun kalian gak sempat pacaran sebelum menikah, tapi jangan jadikan alasan untuk menunda punya anak. Bapak udah tua Hen, pengen nimbang cucu."


"Siapa juga yang menunda pak?. Mending bapak mandi dan ganti baju dulu. Biar kita makan bereng udah lama kan kita gak makan sama-sama."


Raisha dan Bik Inah menyiapkan makan malam di dapur. Hendri sedang duduk santai di ruang tengah bersama ayahnya.


"Hen, kamu gak bilang sama istrimu tentang bapak?"


"Memangnya aku harus bilang?"


"Ya jadi gimana, dia kan perlu tahu, kalau kamu masih punya bapak juga ibu. Memangnya kamu malu kalau sampai istrimu tahu bapak ini gila dan ibumu meninggalkan bapak waktu kamu masih kecil?"


"Kenapa mesti malu?"


"Jadi?"

__ADS_1


"Bapak gak tahu, ini bukan pernikahan yang seperti bapak bayangkan."


"Maksudnya gimana, kamu nikah kontrak?"


"Ya enggak juga, nantilah pak aku gak bisa cerita sekarang"


"Kok bapak jadi tambah bingung, ini sebenarnya nikah apaan?, nikah bohongan gitu?"


"Ya bukan juga pak, nikah sungguhan tapi bukan yang seperti bapak pikirkan"


"Hen...,Hen...bapak udah tua, kamu juga udah bukan ABG lagi ngapain sih main-main gini. Bapak gak ngerti dengan jalan pikiran kamu, kok kamu masih suka main-main dengan perempuan."


"Kamu gak serius sama dia?"


"Gak tahu lah pak. Bapak dari mana tahu alamat aku disini?"


"Ya bapak nanyak sama si Anton yang jaga di rumah sakit. Bapak bilang mau kirim paket buat kamu. Trus bapak pergi jumpain ibu kamu baru deh kesini."

__ADS_1


Hendri sengaja memotong pembicaraan, dia tak mau ayahnya tahu apa yang sebenarnya terjadi karena dia sendiripun masih bingung dengan perasaannya sendiri. Mau dibawa kemana hubungan yang berawal dari sebuah kebencian. Apa sekarang dia sudah bisa percaya dengan istrinya?, apa benar dia mencintai istrinya atau hanya sebuah obsesi sesaat.


Raisha dan Bik Inah sudah menata makanan dimeja. Hendri dan ayahnya sudah berada dimeja makan.


Ayo pak dimakan, Raisha menaruh nasi dipiring ayah mertuanya. Baskoro bingung mengingat pembicaraannya dengan Hendri tadi, apa begitu sulit melupakan Yulis dan menggantikan dengan wanita sebaik ini?. Baskoro geleng-geleng kepala, apa yang ada dipikiran anaknya. Baskoro tahu Hendri pernah patah hati dengan seorang wanita, kala itu Baskoro sudah tinggal di rumah sakit. Meski dokter masih memfonisnya gila tapi Baskoro masih bisa mengingat kejadian hari itu, Hendri mendatanginya. Dia bercerita kepada ayahnya meski dia tahu tak ada gunanya bercerita dengan orang gila, tapi hari itu Hendri sedang teramat sedih dan menumpahkan segalanya kepada ayahnya. Dia melamun seharian di rumah sakit dan berbicara seorang diri disana. Dia terus mengatakan kalau Yulis menghianatinya kepada ayahnya meski dia tahu kalau perbuatannya sia-sia toh ayahnya tidah akan mengerti dia sedang terganggu kejiwaannya.


"Bapak kok bengong aja, ayo dimakan." Hendri menyuruh ayahnya untuk segera makan.


"Enak sekali ya apa ini nak Raisha sendiri yang masak?"


"Iya, bapak suka?"


"Kalau begini bapak bisa betah disini."


"Ya bapak jangan kembali lagi kesana"


"Kamu kenapa ngelarang terus bapak balik kesana?

__ADS_1


***


__ADS_2