
"Kau lupa siapa yang berhak atas dirimu?, dan posisimu ini menggantikan papamu. Kau ingat sekarang?. Bukan berarti dengan memuaskan aku semalam kau bisa membuatku lupa akan kesepakatan kita." Hendri sengaja tidak memberi ruang untuk mengelabuhinya, walau dia begitu suka dengan istrinya. Dia masih belum bisa percaya seutuhnya pada Raisha. Hendri sengaja mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan biar Raisha tau dimana posisinya sekarang.
Raisha memilih diam, hatinya sedikit terluka mendengar kata-kata yang keluar dari mulut suaminya. Walau hanya sedikit didalam hatinya Raisha berharap akan hubungannya dengan Hendri menjadi nyata. Tapi mungkin dia lupa kalau Hendri tak berniat serius. Jujur Raisha begitu lelah, tapi semua ini harus dia pikul seorang diri. Kalaulah dengan mengorbankan kebahagiaannya bisa membuat yang lain bahagia dia siap untuk berkorban seumur hidupnya.
Raisha keluar dari mobil tampa melihat ke arah Hendri. Wajahnya yang semula berseri-seri kini mulai redup lagi. Hendri langsung berangkat ke kantor, dia pun tak berkata apa-apa lagi melihat istrinya hanya diam. Ada perasaan bersalah sewaktu melihat Raisha tak menjawab perkataannya. Hendri juga bingung dengan perasaannya sendiri, dia merasa kalau sedang jatuh cinta tapi dia takut kalau Raisha tak membalas cintanya. Seharian di kantor dia tidak fokus pikirannya tertuju kepada Raisha. Kata-katanya yang menyakitkan itu terniang-niang terus dikepalanya.
"Apakah kata-kataku terlalu menyakitkan?" Hendri merasa serba salah. Dia mencoba memanggil Sendi asisten pribadinya. Orang yang begitu dipercayainya. Walaupun Sendi banyak bicara tapi kata-katanya akurat. Dia terkenal play boy, karyawan wanita di kantor ini semua didekatinya. Kadang ada juga yang menolak. Pokoknya dalam urusan cinta dia jagonya. Hendri memanggil Sendi untuk menanyakan kejadian yang dialaminya hari ini.
"Ada yang bisa saya bantu bos?" Sendi merasa bingung bos menyuruhnya buru-buru ke ruangan.
"Ada yang mau aku tanyakan"
"Apa itu bos?."
"Menurutmu kalau wanita diam saja kalau kita ajak ngomong itu kenapa ya?"
"Oh jadi nyonya lagi ngambek sama bos?"
"Kok kamu langsung tahu aku lagi ngomongin siapa?"
__ADS_1
"Haha...bos...bos...itu kan pertanyaan mendasar. Semua orang juga tau."
"Jadi menurutmu aku ini bodoh?"
"Lah saya gak bilang begitu bos, kan bos sendiri yang...,"
"Udah, itu gak penting. Sekarang kamu katakan apa yang mesti aku buat"
"Santai aja bos, ajak aja nyonya makan malam."
"Makan malam?"
"Ya, kalau begitu kamu pesan tempat buat nanti malam."
"Oke bos"
Sendi ingin tertawa melihat bosnya yang nampak bahagia setelah dia memberi saran untuk mengajak istrinya makan malam.
***
__ADS_1
Di kampus Raisha berjalan lesu, bagaimana pun dia harus menyelesaikan urusannya di kampus. Mengembalikan buku pustaka dan minta tanda tangan dosen pembimbingnya. Belum lagi sekripsinya harus segera dicetak. Syukur tidak banyak yang harus direvisi.
Di kantin ketiga sahabatnya telah menunggu. "Sa, kemana aja sih kita udah lama nunggu ni." Uti sudah tidak sabar mendengar cerita dari sahabatnya.
"Aku kerumah sakit dulu tadi"
"Siapa yang sakit?" Uti, Ike dan Risna bertanya berbarengan.
"Mamaku"
"Kenapa kamu gak kasi tau kita-kita?"
"Udah gak apa-apa kok, mama juga nanti sore udah boleh pulang"
"Trus kamu kok nampak bingung gitu sih Sa, ada masalah apa lagi?" Ike sedikit cemas melihat raut wajah Raisha yang tampak menyedihkan.
"Ada masalah lagi sama Mas Hendri?"
***
__ADS_1