
Sebenarnya Hendri tidak ingin mengingat mantan kekasihnya lagi. Tapi Raisha seperti belum puas dengan jawabannya.
Hendri bangkit dari tidurnya dia memilih duduk di balkon. Dia begitu terganggu dengan pembicaraan mengenai Yulis, dia ingin menghindari Raisha agar tak membahas tentang mantannya lagi. Raisha bangun dan menyusul Hendri di balkon
"Apa kau masih mencintainya?"
"Itu tak penting?" Hendri ingin mengakhiri pembicaraan yang membuatnya marah.
"Bahkan kamu tak bisa menjawabnya." Raisha terus memancing kemarahan Hendri, dia masih beluh puas dengan jawaban dari suaminya. Dia juga bingung dengan sikapnya yang begitu penasaran dengan masa lalu suaminya. Dia tak sadar sedang diliputi rasa cemburu yang demikian besar.
"Aku mengajakmu buru-buru pulang karena tak ingin berada satu ruangan dengan dia. Kau puas sekarang?"
"Ternyata benar dugaanku, kau masih sangat mencintainya?"
__ADS_1
"Kau cemburu?"
Raisha terkejut mendengar Hendri menyebutnya cemburu, dia terdiam dan tak bisa menjawab. Dia menimbang-nimbang pertanyaan Hendri kepadanya. Apa benar dia sedang cemburu?, kalau pun iya, rasanya tak salah dia sedikit cemburu. Hendri suaminya kini dan sudah sewajarnya dia menanyakan siapa wanita yang bersama suaminya tadi.
Raisha memilih diam, dia bahkan tak mampu memandang mata suaminya. Dia merasa tak pantas untuk cemburu. Pernikahan ini tak sama dengan pernikahan yang dijalani oleh orang lain.
"Maaf, sepertinya aku berlebihan, orang sepertimu tak mungkin memiliki perasaan demikian. Kau lebih suka uang, mana mungkin tahu arti kata cemburu" Hendri sengaja mengejek Raisha, sebenarnya dia kecewa dengan sikap istrinya yang tampak biasa saja tak menanggapi pertanyaannya. Dia berharap Raisha cemburu dan marah kepadanya tapi kenyataannya Raisha hanya diam tak mampu menjawab.
"Keadaan yang seperti apa yang kau inginkan?"
"Berhenti memikirkan wanita itu, karena kau milikku sekarang" Raisha tak sadar meneriaki kata-kata tersebut kepada Hendri. Dia juga ikut terkejut dengan ucapannya sendiri, dia tak bisa percaya bisa bicara seperti itu di depan suaminya. Bagaimana kini dia menghadapi Hendri, dia bahkan sangat malu telah berkata seperti itu, mungkin karena dia sedang benar-benar marah dan cemburu hingga dia keceplosan lebih tepatnya. Raisha terdiam dan sangat bingung sekarang dia ingin segera menghilang bagaimana cara dia menetralkan kecanggungan yang sedang terjadi disini.
Hendri pun tak kalah terkejutnya mendengar penuturan Raisha. Dia tercengang, perasaan senang memenuhi hatinya. Dia tak tahu harus berkata apa. Dia terdiam dan terus memandangi istrinya. Raisha yang dipandangi Hendri begitu semakin salah tingkah.
__ADS_1
"Apa kali ini aku terlihat m*r*h*n?" Raisha bertanya pada dirinya sendiri. Mengakui dirinya cemburu membuatnya terlihat bodoh. Yang terjadi malah sebaliknya Hendri menciumnya, Raisha terkejut menerima ciuman yang mendadak.
Hendri melepaskan ciumannya ketika melihat Raisha hampir kehabisan nafas.
"Kalau begitu jangan biarkan orang lain merebutku dari tanganmu" Hendri sengaja menggoda Raisha, ini jawaban dari pernyataan istrinya tadi.
Raisha semakin merasa malu, rasanya dia ingin punya kekuatan menghilang. Agar bisa kabur dari suasana yang canggung ini.
"Kau mau kemana, kita belum selesai. Bagaimana kalau kita lanjutkan di ranjang" Sambil mengedipkan mata Hendri memberi isyarat pada istrinya agar bersiap-siap malam ini.
"Kau sudah mendapatkan banyak hadiah hari ini, sekarang giliranku meminta hadiah darimu" Sampai diranjangpun Hendri masi menggoda Raisha.
***
__ADS_1