Pengorbanan Raisha

Pengorbanan Raisha
malang sekali nasib anak itu


__ADS_3

"Karena bapak udah sembuh."


"Ya tapi gak sekarang bapak masih ada janji sama teman-teman bapak disana."


"Janji apa pak?"


"Udah kamu gak perlu tahu"


"Ya udah kita makan dulu ini, jangan asik ngomong".


Raisha tertawa melihat ayah dan anak kadang akur kadang berantem. Masih banyak yang belum dia ketahui tentang suaminya. Sebenarnya apa yang terjadi antara Mas Hendri dengan ibunya, dalam hati Raisha bertanya-tanya. Kenapa Mas Hendri begitu marah ketika bapak membicarakan ibunya."


***


Hendri masuk ke ruang kerjanya, ada banyak hal yang mesti dikerjakannya malam ini. Raisha memilih duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Baskoro yang melihat menantunya seorang diri disana ikut duduk di ruang tengah.

__ADS_1


"Bapak belum tidur?"


"Gak bisa tidur bapak, kasurnya empuk sekali."


"Haha...., bapak ada-ada saja"


"Serius, bapak pengen balek ke rumah sakit. Enak disana, banyak teman. Kalau jam-jam segini kami masih maen catur."


"Bapak mau maen catur?, biar Raisha temenin."


"Gak usah, bapak lagi gak pengen."


"Haha...,bapak kok ngomong gitu."


"Bapak serius, dia itu membosankan. Bapak aja gak suka ngomong sama dia. Abisnya asal bapak ajak ngomong, jawabnya satu-satu."

__ADS_1


Raisha hanya tersenyum mendengar ayah mertuanya membicarakan suaminya. Bagaimana dia harus mengatakan kalau pernikahan ini sebuah kesalahan. Bila mengingat alasan Hendri menikahinya, rasanya Raisha ingin menangis saja. Dia memilih melupakan itu semua saat ini. Dia sedang bahagia dan tak ingin mengingat yang telah lalu meski kedepannya pun dia belum tahu bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Hendri.


"Kamu cinta sama Hendri?"


"Bapak kok nanyak gitu?"


"Jawab dulu pertanyaan bapak?


Raisha hanya mengangguk, dia tak mungkin berbohong. Dia memang mencintai Hendri, kebersamaannya saat ini menimbulkan benih-benih cinta dihatinya.


Berjanjilah terus bersama dia, jangan pernah tinggalin anak bapak ya. Kasian dia, dari kecil hidup sendiri terlunta-lunta kasana kemari. Mata Baskoro berkaca-kaca tak kala mengingat anaknya hidup seorang diri sewaktu dia sakit dan dibawa ke rumah sakit jiwa.


Malang sekali nasib anak itu, waktu umurnya dua tahun ibunya meninggalkannya. Bukan sepenuhnya salah dia, bapak yang tidak bisa berbuat banyak untuk keluarga ini. Bapak yang berpenghasilan kecil, kadang ibunya terpaksa menahan lapar. Dia tak tahan dan memilih pergi meninggalkan Hendri dengan bapak. Sebenarnya yang salah disini bapak, gak becus menjadi kepala rumah tangga. Setelah kepergian ibunya bapak malah mabuk-mabukan. Bapak stres berat hingga dibawa ke rumah sakit jiwa. Hendri terlunta-lunta dijalanan. Kelaparan kedinginan seorang diri hingga dia bertemu dengan seorang yang sangat berjasa dalam hidupnya sampai sekarang. Dia bisa bersekolah dan bisa sukses seperti ini semua atas bimbingan orang itu.


Raisha hampir menangis mendengar cerita tentang suaminya. "Kasian Mas Hendri begitu sedih masa kecilnya. Dia sampai mencuri di toko nenek, jadi inilah sebabnya. Papa malah menghinanya waktu itu." Raisha membayangkan masa kecil Hendri begitu menyedihkan tak sebanding dengan masalah yang dilaluinya sekarang.

__ADS_1


Belum cukup dengan itu, dia malah dikhianati oleh kekasihnya. Namanya Yulis bapak ingat betul dia hampir menangis waktu itu. Dia merasa tak layak untuk dicintai, trauma masa lalu ditinggal pergi oleh wanita yang melahirkannya malah terulang lagi dengan penghianatan kekasihnya.


***


__ADS_2