
Zenaya Auristella Winston. Gadis cantik bermata hazel yang lahir dari keluarga Winston. Sebagai anak bungsu, usia Zenaya hanya terpaut lima tahun di bawah sang kakak, Adryan Oliver Winston, yang kini tengah menyelesaikan pendidikan kuliahnya di luar kota.
Saat ini, Zenaya sendiri sedang menempuh pendidikan menengah atas di salah satu sekolah terbaik yang ada di Ibu kota. Nilai-nilainya terbilang cemerlang. Maka dari itu, sang ayah sangat berharap jika anak bungsunya tersebut juga bisa ikut mewarisi profesi keluarga mereka, seperti Adryan.
Empat generasi keluarga Winston hampir semuanya berkecimpung di dunia medis. Mereka bahkan memiliki rumah sakit swasta yang dibangun oleh kakek buyutnya, dan kini cukup terkenal di kalangan masyarakat. Rumah sakit tersebut sekarang dipegang penuh oleh Liam Chester Winston, sang ayah, yang merupakan seorang Dokter Bedah Onkologi ternama di sana. Sementara sang ibu, Amanda Caitlyn Winston, merupakan seorang mantan perawat senior, sebelum beliau mengalami kecelakaan hingga menyebabkan penurunan fungsi kerja pada kedua tangannya.
Zenaya bukan orang yang pandai bergaul. Di kelas, dia dikenal sebagai gadis pintar yang cukup tenang, dan lebih senang menghabiskan waktunya dengan membaca buku saat jam istirahat tiba. Kendati begitu, Zenaya memiliki tiga sahabat yang mau berbagi suka duka bersamanya.
Sifatnya yang sedikit tertutup membuat Zenaya tak banyak mengukir cerita di sekolah ini, selain hanya tentang persahabatannya, dan juga tentang salah satu lelaki yang telah menjadi teman sekelas Zenaya selama tiga tahun berturut-turut.
Dia adalah Reagen Aaron Walker, lelaki berperawakan tinggi menjulang dengan bola mata menawan berwarna cokelat.
Reagen merupakan sosok lelaki tampan dan pintar. Walau sekilas dia terlihat dingin, tetapi nyatanya tidak demikian. Reagen hanya tidak suka melibatkan diri lebih dalam dengan banyak orang. Berkat kepintaran yang dimilikinya pun, lelaki itu berhasil menempati posisi pertama sebagai juara umum di sekolah mereka. Jadi, wajar saja jika para siswi begitu mengidolakan dirinya.
Selama tiga tahun berturut-turut berada di kelas yang sama, Zenaya tak pernah sekali pun berkomunikasi dengan Reagen, atau sekadar bertukar sapa. Gadis itu terlalu malu untuk memulai mengakrabkan diri dengannya.
Sebenarnya, Zenaya pernah memiliki satu kesempatan emas, yaitu saat mereka digabungkan bersama dua orang lainnya, dalam satu kelompok belajar guna menyelesaikan tugas yang diberikan oleh sang guru. Namun, Reagen sama sekali tidak berminat memulai komunikasi dengannya. Lelaki itu hanya mau berbicara dengan Bryan, teman satu kelompok mereka, sekaligus sahabat kental Reagen sejak sekolah dasar.
Bagi Reagen, sosok Zenaya mungkin hanya orang asing yang tak pernah terlihat di matanya.
...***...
"Aw!" pekik Zenaya saat tubuhnya tanpa sengaja membentur dinding kelas akibat bertabrakan dengan seseorang.
Semula gadis itu hendak menegur si penabrak, tetapi mulutnya tiba-tiba kelu ketika melihat sosok Reagen berdiri di hadapannya.
Reagen melepas earphone-nya dan menatap Zenaya datar.
Mendapat tatapan demikian, Zenaya kontan tertunduk malu. " ... maaf," ucapnya canggung.
Reagen menaikkan sebelah alisnya. Di sini dia lah yang bersalah karena telah menabrak gadis itu, tetapi mengapa gadis itu yang malah meminta maaf padanya?
"Dasar aneh!" seru Reagen sembari berjalan menjauhi Zenaya.
Mendengar Reagen berkata demikian, Zenaya meringis nyaris menangis. Di hadapan lelaki yang disukainya, dia baru saja bertingkah seperti orang bodoh.
"Kenapa aku yang minta maaf, sih!" celetuk Zenaya dalam hati, sembari bergegas pergi meninggalkan ruang kelas yang masih sepi itu.
...***...
Suara teriakan para siswi memenuhi lapangan indoor sekolah. Seperti biasa, setiap jam istirahat tiba, beberapa dari mereka akan menghabiskan waktu di sana untuk melihat tim basket kesayangan sekolah sedang berlatih. Selain banyak menorehkan prestasi, rata-rata anggota tim basket memang memiliki paras dan karisma yang mampu memikat hati para siswi. Itulah mengapa, meski hanya sekadar latihan saja, ramainya nyaris sama seperti sebuah pertandingan.
Hal yang tak jauh berbeda terlihat pula pada Zenaya. Meski tanpa teriakan seperti gadis-gadis lain, binar mata Zenaya sudah cukup dapat diartikan, bahwa ia juga tengah terhipnotis pada sosok seorang lelaki yang tadi pagi menabraknya.
__ADS_1
Mendapati tingkah sahabat mereka yang demikian, Emily dan Grace sontak tertawa keras. Beruntung, tawa mereka tak mampu mengalahkan teriakan para gadis.
"Rey! Rey!" teriak Grace tiba-tiba. "Tanggung jawab Rey, ada seorang gadis yang terpesona dengan ket–" belum sempat Grace menyelesaikan perkataannya, dengan beringas Zenaya sudah membekap mulut gadis itu.
Emily tertawa-tawa sembari memukul punggung Grace. "Dasar gila!"
"Jahil banget sih, kamu!" seru Zenaya marah.
Grace bergumam tak jelas, sebab mulutnya masih dibekap oleh Zenaya. Gadis itu memberi Zenaya isyarat untuk melepaskan dirinya terlebih dahulu.
"Maaf," ucap Grace terengah. Sedetik kemudian, ia kembali tertawa sama kerasnya dengan Emily.
"Habis, setiap kali menatapnya, kau seperti orang bodoh. Sadar tidak sih, kalau ekspresimu barusan itu sangat lucu?" Grace mengecilkan suara tawanya. Gadis itu sama sekali tidak takut akan tatapan tajam Zenaya.
Zenaya seketika mengendurkan tatapan matanya pada sang sahabat. "Serius?" tanya gadis itu panik.
"Lah, tidak sadar rupanya," timpal Emily.
Zenaya kontan meringis. Matanya kemudian menatap lagi ke arah Reagen yang sedang menggiring bola. Hanya dalam hitungan detik saja, lelaki itu sukses mencetak gol kembali.
Suara riuh dari para siswi yang meneriaki nama Reagen membuat Zenaya ikut merasakan euforia. Namun, itu tak berlangsung lama. Natalie, gadis popular yang tengah dekat dengan Reagen, tiba-tiba memasuki lapangan basket sembari membawa minuman dan juga selembar handuk. Gadis itu membantu Reagen mengelap peluh di dahinya. Tak sedikit dari para siswi mengeluh terang-terangan ketika melihat adegan romantis itu.
Natalie Atkinson, merupakan anak dari pemilik yayasan sekolah ini. Sejak duduk di bangku menengah pertama, gadis bermata biru itu sudah terjun di dunia modeling. Kedekatannya dengan Reagen selama setahun terakhir ini, sudah menjadi rahasia umum di kalangan sekolah.
"Tidak usah kecewa begitu. Ayo, lebih baik kita menyusul Alice ke perpustakaan." Tepukan Grace menyadarkan lamunan Zenaya. Ketiganya pun pergi meninggalkan kursi penonton.
"Kau pasti lelah, kan? Istirahat dulu saja, aku membawa bekal makan siang." Natalie menarik tangan Reagen ke tepi lapangan. Reagen pun memberi isyarat pada anggota timnya untuk beristirahat sejenak. Mata lelaki itu tanpa sengaja melirik ke arah tribun penonton, tepat di mana Zenaya duduk bersama kedua temannya. Gadis itu terlihat berdiri dan keluar dari sana.
"Rey, kau melamun?" tanya Natalie.
Reagen tersadar lalu menggelengkan kepalanya. "Ayo," ajak lelaki itu sembari membalas genggaman tangan Natalie.
...***...
"Rey!" panggil Bryan, sahabat kental Reagen. "Ayo, kita kumpul bersama anak-anak?" ajak lelaki itu sembari merangkul bahu sahabatnya. Mereka bersama beberapa siswa popular lainnya memang senang berkumpul di rooftop sekolah. Bahkan, berkat bantuan Natalie, salah seorang teman mereka diberi izin untuk membuat ruangan khusus di sana.
"Aku ingin langsung pulang ke rumah." Reagen mempercepat langkahnya. Bryan yang masih merangkul bahu lelaki itu, kontan saja berjalan terseok-seok demi mengimbangi langkah kaki Reagen. Maklum, perbedaan tinggi badan mereka cukup signifikan. Reagen memiliki tinggi badan 182 centimeter, sementara Bryan hanya 171 centimeter.
"Kau ... ok, kan?" tanya Bryan sembari melepas rangkulannya.
"Hanya lelah." Jawab Reagen tanpa minat. Akhir-akhir ini, lelaki itu memang sangat sibuk berlatih basket untuk mempersiapkan pertandingan antar sekolah, yang akan diadakan minggu depan.
"Ya sudah, hati-hati di jalan, bro!" Bryan melempar senyum dan menepuk pundak sahabatnya itu.
__ADS_1
"Hmm ...." Reagen membenarkan posisi ranselnya, sebelum berbelok menuju tempat parkir yang letaknya tak jauh dari gerbang sekolah.
Bryan memperhatikan Reagen dari jauh. Dia yang telah lama mengenal Reagen tentu saja memaklumi sifatnya tersebut. Butuh usaha keras setiap kali mengajak lelaki itu berkumpul, dan ini bukanlah satu-satunya ajakan Bryan yang gagal.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Karya baru telah datang. Semoga kalian suka dengan novel baru saya ini.
Sebagian besar naskah di novel ini sudah saya buat sejak tahun 2019, hanya nama-nama MC-nya dan latar belakang cerita ini saja yang sempat berubah-ubah.
Mohon untuk menghargai dan bijak dalam menyikapi isinya. Mungkin saja ke depannya akan ada hal-hal yang sekiranya kurang sesuai dengan apa yang kakak-kakak inginkan.
Maaf juga jika tulisan saya masih kurang rapi atau kurang enak dibaca. Saya selalu berusaha memperbaikinya.
Akhir kata, saya ucapkan terima kasih banyak bagi Kakak-kakak yang sudah senantiasa menunggu cerita-cerita dari saya.
Jangan lupa untuk favoritkan cerita ini, like, komen, rate, vote dan gift sebanyak-banyaknya ya, Kakak-kakak.
__ADS_1
Saya mencintai kalian, 😘❤️❤️