Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 38 : Pertemuan Alex dan Zenaya.


__ADS_3

"Maaf, aku tak bisa mengantarmu pagi ini," ucap Reagen menyesal. Pria itu harus berangkat lebih pagi karena dia akan pergi keluar kota bersama Craig. Subuh tadi, sang ayah meneleponnya dan meminta Reagen untuk menyusul ke bandara.


"Tidak apa-apa. Sampaikan salamku pada Papa," kata Zenaya.


Reagen tersenyum sumringah. Zenaya kini tak lagi bersikap dingin dan mau menanggapi setiap perkataannya.


Reagen bersimpuh di hadapan perut sang istri dan menciumnya lembut. "Daddy akan pulang lusa. Jadi, jangan merepotkan Mommy ya?" pesan pria itu sembari mengelus perut Zenaya.


Zenaya tengah menahan diri untuk tidak melarikan diri. Walau dia sudah beberapa hari menjalani hidup layaknya sepasang suami istri normal, tetapi Zenaya masih kerap bersikap canggung.


Reagen kemudian beralih pada Zenaya dan mengecup lembut keningnya.


"Aku mencintaimu," ucap Reagen sembari berbalik pergi. Pria itu tak perlu menunggu jawaban Zenaya. Dia mau berusaha menjalani biduk rumah tangga yang normal saja sudah cukup membawa kesenangan di hati Reagen.


Zenaya mengikuti Reagen dari belakang, hendak mengantarnya sampai pintu. Namun, langkah kaki wanita itu tiba-tiba terhenti saat Reagen berbalik menghadapnya lagi.


"Jangan menghindariku," kata sang suami dengan raut wajah bersungguh-sungguh.


"Menghindar ken–"


Belum sempat Zenaya menyelesaikan pertanyaannya, Reagen sudah memagut mesra bibir wanita itu.


Tangan Zenaya refleks mendorong dada Reagen. Kendati kehidupan keduanya berangsur-angsur normal, tetapi mereka sama sekali belum pernah melakukan kontak fisik.


Sebenarnya, Reagen lah yang sekuat tenaga menahan diri. Namun kali ini dia tidak akan menahannya lagi. Dua hari mereka tidak akan bertemu dan Reagen ingin meninggalkan kenangan manis untuk dia bawa dalam perjalanan dinas ini.


Reagen tidak mengindahkan pemberontakan Zenaya. Pria itu malah menyesap lembut bibir sang istri beberapa kali sebelum melepaskannya.


"Kau–"


"Sudah kubilang jangan menghindariku, kan?" Reagen tersenyum seraya menempelkan dahinya pada dahi Zenaya.


Wajah Zenaya sontak merah padam. Entah mengapa, suara Reagen kini terdengar sangat seksi di telinganya.


Debaran jantung Zenaya mulai menggila. Apa lagi saat Reagen kembali memagutnya mesra.


Kali ini pria itu bahkan dengan berani meminta Zenaya membuka mulutnya, tetapi Zenaya malah semakin merapatkan bibirnya.


Mengetahui hal tersebut, Reagen tidak kehilangan akal. Dia membelai lembut belakang leher sang istri, sembari mendekap tubuhnya semakin erat hingga membuat wanita itu terkejut.


Zenaya refleks membuka mulutnya.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Reagen langsung membelit lidah sang istri dan bermain-main di sana.


Pers3tan dengan keterlambatan pesawat. Dia rela dimaki-maki sang ayah asal bisa berlama-lama seperti ini.


...***...


Zenaya terduduk lemas di kursi makan. Wanita itu tengah berusaha meredam debaran jantungnya yang masih saja menggila, padahal Reagen sudah pergi setengah jam yang lalu. Entah berapa lama mereka akan tetap seperti itu jika sang ayah mertua tidak kembali menelepon suaminya.


"Kumohon, berhentilah berdebar! Biarkan aku fokus melakukan sesuatu!" pinta Zenaya dalam hati.


...***...


Alex yang sudah berpakaian rapi sekarang tengah menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya sendiri.


Tak butuh waktu lama setangkup sandwich tuna kalengan sudah tersaji di meja. Namun suara dering pada ponselnya yang berada di ujung meja menggagalkan gigitan pertama pria itu.


"Halo,"

__ADS_1


"Dokter Alex, seorang pasien gawat darurat berusia 13 tahun mengalami hipoksia. Saturasi oksigennya di bawah 80."


Alex membanting sandwich-nya ke atas piring. "Lakukan analisis gas darah. Rontgen sinar-X pada bagian thorax untuk mengetahui masalah pada paru dan jantung. Aku akan segera ke sana."


"Baik!"


Tanpa pikir panjang, pria itu segera meninggalkan unit apartemen tanpa memakan sarapan paginya.


...***...


Zenaya tiba di lobby apartemen. Setelah berhasil menenangkan diri, wanita itu bergegas berangkat ke kantor.


Dia meminta tolong salah seorang security untuk dipanggilkan taksi sesampainya di sana. Biasanya beberapa taksi terlihat mangkal di depan apartemennya hampir setiap saat. Namun dia tidak melihatnya kali ini.


Security yang dimintai tolong oleh Zenaya langsung memesan sebuah taksi melalui telepon.


Zenaya dipersilakan duduk di sofa selagi menunggu.


Tak sampai sepuluh menit kemudian, taksi yang dipesan pun tiba.


"Taksinya sudah datang, Nyonya Walker," ujar security itu.


"Terima kasih, Pak." Zenaya bangkit dari duduknya dan menghampiri sang security. Tak lupa dia menyelipkan selembar uang pecahan tertinggi ke dalam saku seragamnya.


Security yang sudah berusia cukup tua itu menerimanya dengan canggung. "Terima kasih, Nyonya,"


"Saya yang berterima kasih." Zenaya tersenyum.


Security itu pun membukakan pintu taksi untuk Zenaya.


Zenaya masuk ke dalam taksi. Namun, bersamaan dengan itu, seorang pria tiba-tiba masuk ke dalam taksinya melalui pintu lain tanpa permisi.


Zenaya terkesiap, begitu pula dengan pria asing tersebut.


Zenaya tersenyum simpul. "Jika memang mendesak, silakan duluan saja," kata Zenaya sembari bersiap keluar dari taksi.


"Tidak, tidak! Taksi ini milikmu." Sergah pria itu . "Apa taksi yang akan datang akan lama?" tanyanya kemudian, sambil sesekali melihat jam tangan miliknya.


"Tak sampai sepuluh menit." Jawab Zenaya.


Raut wajah pria itu semakin gelisah. "Sepertinya tak akan sempat," gumamnya dengan suara cukup kecil.


Zenaya yang mendengar gumaman si pria lantas bertanya, "Ke mana tujuan Anda? Jika kita searah, kita bisa berangkat bersama."


"Winston General Hospital. Ada pasien gawat darurat pagi ini." Jawabnya lugas.


"Wah, kebetulan, tujuanku juga ke sana!" sahut Zenaya.


"Oh, ya?" Ia nampak senang mendengar perkataan Zenaya.


"Kalau begitu, kita bisa berangkat bersama." Zenaya mengulas senyum ramah.


"Ahh, terima kasih banyak. Aku berhutang budi padamu."


"Tidak masalah." Zenaya pun meminta supir taksi untuk menjalankan mobilnya.


Di dalam taksi mereka berbincang-bincang sedikit. Pria asing tersebut ternyata adalah seorang dokter anak baru yang sudah satu minggu berada di rumah sakit keluarganya. Perusahaan milik keluarga pria itu bahkan mengadakan kontrak kerja sama dengan Winston General Hospital.


Zenaya mengangguk-anggukan kepalanya. Wanita itu tentu saja tahu akan hal tersebut, mengingat dirinya lah yang mengurus keuangan rumah sakit.

__ADS_1


"Kau sendiri, dokter apa Nona Zen?" tanya Alex penasaran.


Zenaya tertawa kecil seraya menggeleng pelan. "Aku bukan dokter. Aku salah satu staf di sana."


"Ahh, siapa namamu?"


"Zenaya."


Mendengar nama tersebut, dada Alex bergemuruh seketika. Kepingan-kepingan masa lalu yang masih tampak jelas dalam ingatannya sontak terangkat keluar.


Matanya memandangi Zenaya dalam-dalam, mencoba mencari setitik jejak yang mungkin tertinggal dalam wajah wanita itu, dan dia menemukannya pada bola mata milik Zenaya.


Sorot mata Zenaya masih tetap sama meski puluhan tahun telah berlalu.


Zenaya yang merasa sedikit risih ditatap sedemikian rupa akhirnya kembali bersuara. "Maaf, dok, apa ada yang salah dengan saya?"


Alex kontan tersadar. Pria itu menggelengkan-gelengkan kepalanya. "Ahh, maafkan kelancangan saya. Saya hanya teringat akan sesuatu," kata Alex. "Namamu mengingatkanku pada seorang gadis yang aku kenal dulu."


"Namaku memang pasaran." Zenaya tertawa kecil.


"No, No, namamu indah," puji Alex.


"Terima kasih," ucap Zenaya.


Keduanya pun melanjutkan obrolan ringan hingga tidak terasa taksi sudah berhenti di depan lobby rumah sakit.


Sebagai balasan akan kebaikan Zenaya, Alex bersikeras membayarkan ongkos taksi penuh. "Anggap saja ini tanda perkenalan dariku,"


Zenaya mau tidak mau menerimanya. Mereka pun ke luar bersama dari dalam taksi.


"Kalau begitu, salam kenal sekali lagi, Zenaya. Kuharap kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan." Alex mengulurkan tangan kanannya pada Zenaya. Mereka menempati lantai berbeda. Zenaya berada di lantai lima, sedangkan Alex berada di lantai dua.


"Ya. Terima kasih sekali lagi atas ongkos taksinya, Alex." Zenaya menyambut uluran tangan Alex. Mereka bersepakat untuk saling memanggil nama saja.


"Tidak masalah."


Wanita itu memohon diri untuk pergi ke dalam terlebih dahulu, meninggalkan Alex yang masih menatapnya dari sana.


"Akhirnya aku bertemu dengan, Zen," ucap pria itu sembari memasang senyum lembut.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Note:


Hipoksia*** adalah kondisi kekurangan oksigen dalam sel dan jaringan tubuh, sehingga fungsi normalnya mengalami gangguan. 

__ADS_1


Hipoksia merupakan kondisi berbahaya karena dapat mengganggu fungsi otak, hati, dan organ lainnya.


Thorax \= Dada.


__ADS_2