
Kini Liam, Adryan, Craig, Noah, dan Reagen duduk bersama di ruang tamu. Noah sibuk membersihkan luka yang ada di wajah Reagen, sementara Liam dan Craig berbincang serius mengenai rencana pria itu yang ingin menikahi Zenaya.
"Anda tahu apa dampak psikologis yang didapat korban jika dinikahkan dengan pelaku?" tanya Liam serius.
"Saya paham. Namun, biar bagaimanapun mereka pernah bersama dan pernah saling mencintai. Jadi, tak ada salahnya jika anak saya bertanggung jawab dengan menikahi putri Anda. Apa lagi, keluarga Anda merupakan keluarga terpandang. Tolong, pikirkan ke depannya. Kita tak tahu apa yang terjadi pada Zenaya ke depannya." Craig menatap Liam tak kalah serius.
Liam memahami maksud Craig soal apa yang terjadi nanti. "Hal itu belum tentu terjadi, mereka hanya sekali melakukannya."
"Kita tidak pernah tahu. Anda seorang dokter, pasti lebih memahami hal seperti ini dibandingkan saya." Craig menimpali. Dia menatap kondisi kembali putra bungsunya yang terlihat meringis kesakitan. Noah sama sekali tidak berbelas kasih mengobati luka adiknya.
Liam memijat kepalanya yang terasa pening. Apa yang baru saja dikatakan Craig tidak sepenuhnya salah. Matanya kemudian memandang Reagen yang baru saja selesai diobati Noah. Wajah pria itu terlihat sedikit lebih baik dari pada sebelumnya.
Adryan sendiri hanya bisa bergeming. Dia ingin sekali menolak rencana Reagen. Adryan tak sudi melihat adik tercintanya bersanding dengan pria brengsek itu di atas pelaminan. Zaman sudah berubah modern, banyak pasangan yang menikah meski status mereka bukan lagi perjaka atau gadis, terlebih mereka tinggal di negara bebas seperti ini.
Adryan menghela napasnya. Entah mengapa, memikirkan hal tersebut membuat dia merasa seperti tak ubahnya pria brengsek yang menganggap remeh insiden ini.
...***...
Amanda, Jennia dan Krystal mengantar Zenaya ke kamarnya. Amanda bercerita
pada mereka, bahwa Zenaya tertabrak mobil saat kabur dari apartemen Reagen. Beruntung, lokasinya tak jauh dari rumah sakit, dan para penabrak yang terdiri dari beberapa pemuda-pemudi, bertanggung jawab dengan membawa gadis itu dalam keadaan tak sadarkan diri.
Liam tidak ingin memperpanjang masalah. Dia hanya meminta pada para remaja itu untuk menutup mulut mereka jika memang mengenal Zenaya.
Jennia mengelus lembut rambut Zenaya. "Maafkan Aunty, Zen," ujar wanita itu sekali lagi. Tangannya kemudian menggenggam lembut tangan Zenaya yang terasa dingin.
Zenaya tidak memberikan reaksi apa pun, selain air matanya yang masih terus mengalir. Batinnya terguncang. Melihat tangisan sang kakak membuat luka di hati Zenaya semakin berlubang. Belum lagi, kekhawatiran dirinya terhadap Liam dan Amanda. Dia merasa seperti telah menghancurkan keluarganya sendiri.
Beberapa saat kemudian, seorang maid datang ke kamar Zenaya. Liam meminta mereka untuk turun dan meninggalkan Zenaya bersama maid tersebut.
Bersama Jennia dan Krystal, Amanda turun menuju ruang tamu. Batinnya meringis kala melihat keadaan Reagen. Kendati Reagen telah menodai putrinya, tetapi untuk ikut membenci pria itu tidaklah bisa mengurangi kemarahan Amanda. Reagen juga sudah cukup mendapat pelajaran dari Adryan.
Amanda mendekati Reagen dan memegang pipinya yang bengkak dengan gerakan lembut. "Pasti sakit sekali," kata wanita itu.
__ADS_1
Reagen bergeming. Hatinya bergetar mengetahui sikap Amanda yang masih sudi memperlakukannya lembut. Reagen mengepalkan tangannya sekuat tenaga, menjaga agar air mata tak lagi keluar dari sana.
"Kompres air hangat saat di rumah nanti, dan oleskan Oparin Gel pada memarnya, tetapi jangan sampai terkena lukanya yang terbuka," pesan wanita itu pada Noah yang duduk di sisi lain Reagen.
Noah mengangguk dan berterima kasih.
Liam menginterupsi ketiganya. Dia memberitahu sang istri perihal rencana Reagen dan keluarganya.
Amanda mendengarkan penjelasan Craig sekali lagi dengan saksama. Wanita itu memahami maksud keluarga Walker. Apa lagi, keduanya memang saling mengenal. Itulah mengapa mereka berani mempersunting Zenaya.
"Zenaya masih terguncang. Lebih baik kita bicarakan kembali nanti." Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Amanda. Semua keputusan akan dia serahkan pada Zenaya ketika kondisinya sudah jauh lebih baik.
Reagen dan keluarganya sangat mengerti. Mereka pun pamit dan berjanji akan kembali lagi nanti.
"Saya berharap dapat mendengar kabar baik dari Anda." Craig mengulurkan tangannya pada Liam.
Liam menerima jabatan tangan Craig dan anggota keluarganya. Namun tidak dengan Reagen. Ayah Zenaya itu bahkan enggan menatap wajah Reagen lebih lama. Sementara Adryan langsung pergi meninggalkan mereka tanpa mengatakan apa-apa.
...***...
Perlahan tapi pasti, kondisi Zenaya berangsur-angsur pulih. Tubuhnya kembali segar dan luka-luka tak lagi nampak di sana. Namun, meski pun begitu, dia masih harus memulihkan mentalnya.
Awalnya, Zenaya masih sering berteriak-teriak histeris setiap kali dia memejamkan matanya. Namun kini, dia sudah dapat tidur dengan nyenyak. Zenaya juga harus menaikkan bobot tubuhnya kembali. Hampir dua bulan pasca kejadian tersebut, dia sudah kehilangan berat badannya hampir sembilan kilogram.
Grace yang mengetahui kabar soal Zenaya pun, rajin mengunjungi wanita itu di rumah. Dia bahkan pernah menginap selama beberapa hari saat sang suami dinas keluar kota.
Awal tahu Grace selalu menangis setiap melihat kondisi Zenaya, tetapi sekarang dia sudah terlihat lebih tegar.
"Biar kubantu," Grace yang baru datang, langsung menghampiri Zenaya yang tengah sibuk mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.
"Kau tidak praktek?" tanya Zenaya.
"Ini masih pagi, aku masih punya waktu untuk mengganggumu," jawab Grace jenaka. Zenaya tersenyum.
__ADS_1
"Emily dan Alice sudah menghubungimu?" tanya Grace sembari mengeringkan rambut Zenaya dan menyisirnya.
"Sudah. Mereka berencana datang minggu depan."
Kedua sahabatnya yang lain juga sudah mengetahui insiden yang menimpa Zenaya, dari Grace. Mereka tentu saja terkejut, maka dari itu, sebisa mungkin Alice dan Emily akan menyempatkan diri untuk pulang ke sana demi melihat kondisi Zenaya, sekaligus mendengar cerita lengkapnya.
Sementara Reagen sama sekali tak terdengar kabarnya. Pria itu hilang bak ditelan bumi.
Reagen sebenarnya tidak menghilang. Dia hanya diasingkan Craig di suatu tempat demi merenungi kesalahannya. Dia juga tidak diperkenankan masuk kerja dulu sampai masalah ini selesai.
Di antara keluarga Walker, Jennia lah yang paling rajin menghubungi Amanda. Dia juga sudah beberapa kali mengunjungi Zenaya untuk melihat kondisinya.
Zenaya tidak dapat menolak kehadiran Jennia. Sejujurnya, dia malah merasa nyaman akan kebaikan hati wanita paruh baya itu. Terlebih, Jennia sama sekali tidak menuntutnya untuk menerima pinangan Reagen. Tak ada satu pun dari keluarga Reagen yang membahas pernikahan. Mereka begitu menghargai Zenaya dan menyerahkan semua keputusan padanya.
"Kau praktek sampai jam berapa, Grace?" tanya Zenaya lagi. Dia tak lupa mengucapkan terima kasih karena telah membantu mengeringkan rambut panjangnya.
"Jam 3 sore. Kenapa?" Grace bertanya balik.
"Aku ingin jalan-jalan keluar. Aku bosan di rumah. Besok, rencananya aku juga akan kembali bekerja," jawab Zenaya.
Grace mengernyit. "Kau belum pulih benar, Zen!" tukasnya.
"Aku sudah baik-baik saja. Ka Adryan pasti lelah memegang dua pekerjaan sekaligus."
Selama Zenaya sakit, Adryan memang merangkap sebagai manajer keuangan untuk sementara. Liam tak lupa membimbingnya. Pria itu belum sempat menemukan pengganti Zenaya.
Liam sebenarnya sudah melarang Zenaya untuk bekerja, tetapi Zenaya bersikeras menolak. Dia tak ingin terus terpenjara di rumah.
"Terserah kau saja." Grace mengangkat bahu. Berdebat dengan Zenaya tak akan menyelesaikan masalah.
Zenaya tersenyum dan memeluk Grace erat. "Kau sahabat terbaikku," ucapnya tulus.
"Kau pun." Grace membalas pelukan Zenaya sama eratnya.
__ADS_1