Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 49: Sikap Alex.


__ADS_3

Akhir-akhir ini Zenaya selalu merasa aneh dan risih dengan sikap Alex. Padahal mereka berdua bekerja di lantai yang berbeda. Namun, ada saja hal yang membuat Zenaya harus berpapasan dengan pria itu hampir setiap saat. Belum lagi sikap Alex yang dirasa kelewat perhatian, seperti saat ini.


"Biar aku saja yang bawakan. Kau tidak boleh terlalu lelah, Zen" ujar Alex sembari mengambil tas Zenaya, dan dua map berkas dari tangan wanita itu tanpa menunggu persetujuan terlebih dahulu.


Zenaya bukan tak pernah menolak tawaran Alex. Wanita itu sudah terlalu lelah menghadapi sikap keras kepala Alex.


Jam pulang kerja Zenaya pun tak luput dari pengamatan Alex. Terlebih ketika mengetahui Zenaya selalu berangkat dan pulang seorang diri. Maklum, Reagen harus pergi ke luar kota selama beberapa hari bersama kakak iparnya, Noah.


Pria itu akan berusaha mengantar Zenaya pulang, meski jam prakteknya belum selesai.


"Jarak dari rumah sakit kemari tidak terlalu jauh, aku bisa kembali lagi tepat waktu."


Itulah jawaban yang selalu Alex berikan jika Zenaya menolak dengan alasan, pria itu tidak akan mendapatkan cukup waktu bila mengantarnya pulang.


Saking risih dan takutnya Zenaya dengan tingkah Alex, dia pernah bersembunyi di ruangan Grace dan menunggui sang sahabat hingga jam kerjanya selesai.


"Terima kasih, Lex," ucap Zenaya kaku, ketika mereka sudah sampai di depan ruangan wanita itu.


"Sama-sama, Zen. Kalau kau butuh sesuatu jangan sungkan untuk mengatakannya padaku. Aku akan selalu siap untukmu." Alex melempar senyum ramah.


Zenaya memaksakan diri tersenyum. "Selagi aku masih bisa sendiri, aku tak akan merepotkan orang lain," tolaknya halus.


Alex bergeming sesaat. "Jangan anggap aku orang lain, Zen. Ingat, kita ini berteman."


Zenaya hanya mampu terdiam. Ingin rasanya dia segera masuk ke dalam sana, tetapi tasnya masih berada di tangan Alex.


Melihat arah pandang Zenaya, Alex tersadar seketika. "Ahh, ini barang-barangmu." Pria itu memberikan tas dan berkas milik Zenaya.


"Sekali lagi terima kasih, Lex. Aku masuk dulu," Zenaya berpamitan dan bergegas masuk..


Alex terdiam di depan ruangan Zenaya sedikit lama. Wajah pria itu berubah dingin tatkala Zenaya masuk dan menutup pintu ruangan begitu saja, padahal dia masih berada di sana.


"Brengsek!" umpat Alex sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Zenaya meletakkan tas dan berkasnya di meja.


Tak berapa lama kemudian, suara ketukan terdengar.


Zenaya yang masih berdiri di depan mejanya kontan terkejut saat pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Dia pikir Alex dengan kurang ajar masuk ke dalam sana.


"Kenapa?" tanya Grace kebingungan saat mendapati Zenaya menghembuskan napas lega sembari mengelus dadanya. Wanita itu terlihat membawa sebuah plastik makanan.


"Aku pikir, Alex tadi," jawab Zenaya.


"Tadi aku memang berpapasan dengan pria itu. Kupikir dia baru saja visite di kelas VVIP atau President suite." Grace menyuruh Zenaya duduk bersamanya di sofa. Wanita itu membuka plastik makanan tersebut.


Semangkok bubur jagung buatannya tersaji di hadapan mereka. Kemarin Zenaya memang meminta dibuatkan bubur jagung oleh sahabat tercintanya.


"Terima kasih," ucap Zenaya sumringah. Ketakutannya yang tadi sempat hinggap seolah terhempas begitu saja, saat melihat bubur jagung tersebut.


"Hati-hati, masih panas," Grace memperingati wanita itu.


Zenaya menganggukan kepalanya. Sejak memasuki usia kehamilan ke-16, kebiasaan sarapan pagi wanita itu telah kembali sepenuhnya.


"Ya. Aku sudah berkali-kali menolaknya, tetapi dia seperti parasite yang selalu mengikutiku ke mana-mana," keluh Zenaya.


"Kau tahu, tadi dia bahkan memaksakan diri membawakan tas dan dua berkas milikku, dengan dalih agar aku tidak terlalu kelelahan." Zenaya meniup-niup bubur jagungnya terlebih dahulu sebelum kemudian memasukkannya ke dalam mulut.


"Kau sudah menceritakan hal ini pada Reagen?" tanya Grace lagi.


Zenaya kontan menggeleng. "Hubungan kami sudah baik-baik saja. Lagi pula dia sedang sibuk dengan pekerjaan, dan aku masih bisa menanganinya sendiri."


"Menangani bagaimana maksudmu? Dengan bersembunyi di ruanganku berjam-jam sampai jam kerjaku selesai." Grace memandang Zenaya dengan raut wajah mengejek.


Zenaya mendelik sinis.


Melihat mimik muka sahabatnya, Grace tertawa kecil. "Kuharap Alex tidak memiliki niat buruk, Zen. Rasanya bodoh sekali bila pria itu berusaha mengambil hatimu, padahal jelas-jelas kau membawa perut buncit ini ke mana-mana." Wanita itu mengelus lembut perut buncit sahabatnya.

__ADS_1


Grace memang sangat memperhatikan dan menyayangi bayi Zenaya. Wanita itu bahkan sudah membelikan beberapa pasang baju bayi unisex yang lucu-lucu. Maklum, selama satu tahun berumah tangga Grace dan Vian belum dikaruniai seorang anak. Mereka menundanya karena Grace harus mengambil pendidikan spesialis terlebih dahulu.


"Aku pun mengharapkan hal yang sama. Sejujurnya dia adalah pria yang baik." Zenaya menghembuskan napasnya. Tiba-tiba perasaan rindu pada sang suami menggelitik relung hati wanita itu.


...***...


"Zen!" panggil Alex saat Zenaya melangkah menghampiri taksi pesanannya yang baru saja datang.


Pria itu berlari tergesa-gesa sampai di hadapan Zenaya. "Kau mau pulang?" tanya pria itu.


"Iya, Lex. Aku pulang dulu ya? Sampai jumpa." Zenaya membuka pintu taksi dan bersiap masuk ke dalam sana.


Namun, tiba-tiba Alex mengambil alih pintu tersebut, dan meminta maaf pada sang supir taksi sebelum akhirnya menutup pintu.


"Lex!" pekik Zenaya.


"Akan lebih baik bila kau pulang bersamaku. Lagi pula kita bertetangga, kan?" ujar pria itu kemudian.


"Aku bisa pulang sendiri, Lex. Please," ucap Zenaya sedikit kesal. Wanita itu berusaha mengontrol emosinya yang mulai meluap.


Alex memasang raut wajah sedih. "Kau pasti takut dengan sikapku yang seperti ini ya?" kata pria itu tiba-tiba.


"Aku tahu, mungkin sikapku selama beberapa hari ini memang sangat menyebalkan. Namun, yang harus kau tahu, Zen, aku sama sekali tidak memiliki niat jahat selain hanya ingin berteman baik denganmu."


"Kau adalah teman pertamaku di sini. Kebaikanmu waktu itu juga masih terus kuingat." Alex tertunduk.


Zenaya gamam. Perkataan Alex menyentil perasaannya. Menurut informasi yang dia dapatkan dari Grace, pria itu memang tidak terlalu akrab dengan orang lain. Dia merupakan dokter yang baik, tetapi tak pandai bergaul.


"Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin menjaga jarak demi menghargai kepercayaan yang diberikan suamiku, Lex. Begitu pula sebaliknya."


Samar-samar Alex terlihat kesal. Zenaya selalu saja menyebut-nyebut suami ketika bersama dengannya. "Aku berjanji ini akan jadi yang terakhir, jadi ... please, Zen,"


Tak ingin merasa tertekan dengan keadaan ini, Zenaya pun akhirnya memutuskan mengabulkan permintaan Alex. Lagi pula dia merasa sia-sia saja berdebat dengan pria keras kepala itu.

__ADS_1


"Baiklah."


Mendengar jawaban Zenaya, Alex mengangkat kepalanya. "Kalau begitu kita pergi sekarang,"


__ADS_2