Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 82 : Kesedihan Seorang Ibu.


__ADS_3

Sudah tiga hari Reagen berbaring di ruang ICU dalam keadaan koma. Adryan dan Bryan setia menemani pria itu di rumah sakit. Apa lagi Bryan sama sekali tidak meninggalkan rumah sakit barang sejengkal pun. Dia bahkan mengajukan cuti dadakan untuk sementara waktu demi menjaga Reagen. Untuk Natalie sendiri, dia memutuskan pergi ke Paris tadi pagi atas seizin Adryan. Kondisi Reagen yang memenuhi pikirannya, membuat Adryan tak ingin kembali berdebat dengan Natalie dan memilih mengabulkan keinginan kekasihnya tersebut. Wanita itu juga tidak bisa menunda-nunda kepergiannya lagi.


Sebelum pergi, Natalie sengaja menemani Bryan di rumah sakit sejak semalam, dan langsung berangkat ke bandara setelah Vanessa menjemputnya. Sementara Adryan menemui Natalie di bandara sebelum pergi ke Winston General Hospital, baru pada sore harinya pria itu pergi ke St. Maria Hospital.


Keduanya tengah sibuk mempertimbangkan saran Dokter Steven sejak kemarin untuk memberitahu keluarga Reagen. Mereka memang tidak boleh berpikiran buruk, tetapi setidaknya Dokter Steven tak ingin keluarganya memiliki penyesalan jika terjadi apa-apa pada Reagen.


" ... atau, bisa jadi kehadiran keluarga tercinta bisa mer4ngs4ng otak Mr. Walker agar terbangun dari tidurnya."


Itulah kata-kata yang terngiang di kepala Adryan dan juga Bryan.


"Aku setuju dengan Dokter Steven," kata Bryan jujur, "kita tidak bisa terus-terusan menyembunyikan hal ini. Persetan dengan keinginan Reagen, dia butuh keluarganya!" lanjut pria itu.


Adryan bergeming. Kakak ipar Reagen tersebut mengusap wajahnya frustrasi.


...***...


Menjelang tengah malam, Adryan baru tiba di rumah. Biasanya pada jam-jam segini seluruh keluarganya sudah tertidur lelap, tetapi ternyata sang ayah dan ibu masih berada di ruang tamu seperti sengaja tengah menunggu kedatangan dirinya.


"Papa dan Mama belum tidur?" tanya Adryan.


"Kami menunggumu, Ryan," jawab Liam. Wajah beliau tampak sangat serius. Dia pun menyuruh putra sulungnya untuk langsung duduk bersama mereka.


"Ada apa ini?" tanya Adryan dengan wajah keheranan.


"Papa dengar kau sering berkunjung ke St. Maria Hospital. Ada apa di sana, Ryan?" Tanpa basa-basi, Liam langsung mengajukan pertanyaan telak.


Adryan berusaha tidak terkejut saat mendengar pertanyaan yang diajukan sang ayah. "Hanya mengunjungi seorang teman, Pa," jawab pria itu. Dalam hati dia merasa heran, sebab setiap berkunjung ke sana, Adryan dan Natalie selalu berusaha menyembunyikan diri dengan memakai pakaian dan aksesoris tertutup.


"Teman mana yang membuatmu rajin mengunjunginya setiap hari?" Liam menuntut jawaban.


Adryan menghela napas pasrah. Semula dia masih menimbang-nimbang keputusan Bryan untuk memberitahu keluarga mereka, tetapi setelah Liam mengetahui rutinitas diam-diamnya, Adryan memutuskan untuk berkata jujur.


Suasana hening sejenak. Liam dan Amanda menunggu putra mereka berbicara.

__ADS_1


"Rey sedang sakit, Pa, Ma. Dia mengidap Astrocytoma stadium tiga, dan beberapa hari lalu baru menjalani Neuroendoskopi."


Liam dan Amanda membelalakan matanya. Amanda bahkan sampai menjatuhkan cangkir teh yang dia pegang di atas karpet.


"Sel tumornya sudah menyebar dan hanya dapat diangkat sebagian saja. Namun, setelah operasi kondisinya ternyata menurun, dan saat ini dia ...," Adryan mengubah posisi duduknya, "koma."


Amanda nyaris memekik, sedangkan Liam mematung seketika. Tebakannya bahwa sang putra lah yang tengah mengalami sesuatu, saat mendengar laporan dari teman sejawatnya yang merupakan manajer rumah sakit itu, ternyata salah besar. Bukan Adryan lah yang mengalami sesuatu, melainkan menantunya.


Amanda menahan diri sekuat tenaga agar tidak terisak. Adryan pun memohon pada kedua orang tuanya untuk tidak menceritakan hal ini kepada Zenaya, dan mereka pun setuju. Karena biar bagaimana pun, mereka harus menjaga kondisi Zenaya agar tidak terguncang.


...***...


Sementara itu, di kediaman keluarga Walker, Jennia dan Krystal terlihat menangis histeris.


Selepas Adryan pergi, Bryan memutuskan meninggalkan rumah sakit untuk berkunjung ke rumah keluarga Reagen malam itu juga. Dia takut keberanian yang bersemayam dalam hatinya saat ini akan hilang jika harus menunda lebih lama lagi.


Pembicaraan mereka sempat terhenti seketika, saat Jennia tiba-tiba tak sadarkan diri. Beruntung, Noah yang berada di sebelah wanita itu dengan sigap menangkap tubuh sang ibu agar tidak membentur meja.


"Zenaya! Bagaimana dengan Zenaya?" tanya pria itu kemudian. Dia terlihat mengkhawatirkan kondisi menantu keduanya.


"Zenaya sama sekali belum mengetahui kabar ini, Uncle," jawab Bryan.


Craig menganggukkan kepalanya. Untuk saat ini Zenaya tak perlu tahu, apa lagi kondisi Reagen sedang seperti ini. Craig tidak dapat membayangkan apa yang terjadi pada menantunya tersebut jika dia sampai mengetahuinya. Minimal, mereka harus menunggu sampai Reagen membuka matanya.


...***...


Sepeninggal Bryan, Craig masuk ke dalam kamar untuk menemani Jennia yang masih belum sadarkan diri. Pria itu mengelus dan mengecup kening sang istri penuh perasaan.


Dia memahami kesedihan Jennia sebagai seorang ibu yang telah berjuang melahirkan, dan berperan banyak dalam membesarkan kedua putranya itu.


Terlebih, mereka baru saja bisa berkumpul kembali dengan Reagen setahun terakhir ini. Sebab selama 10 tahun pria itu meninggalkan keluarganya untuk menempuh pendidikan dan mengurus perusahaan di sana.


Ingatannya tiba-tiba melayang pada kejadian tempo hari, saat Reagen tiba-tiba memeluknya setelah dia mengajukan cuti. Pantas saja pelukan sang anak terasa berbeda kala itu, dan dia sama sekali tidak menyadari hal tersebut.

__ADS_1


Craig menarik napasnya yang mulai terasa sesak. Sebisa mungkin dia berusaha untuk tetap kuat menerima kabar buruk yang menimpa Reagen. Dia lah kepala keluarga di sini, itu artinya, dia yang harus menguatkan istri, anak, serta menantu-menantunya.


...***...


Bryan bangkit dari duduknya begitu melihat kedatangan keluarga Reagen dan keluarga Zenaya yang nyaris bersamaan.


Amanda langsung memeluk erat Jennia dan menguatkan besannya tersebut.


Mereka menatap Reagen yang masih terbaring di ruang ICU dari balik kaca transparan.


Dokter Steven datang menemui mereka beberapa saat kemudian. Beliau berkata bahwa keadaan Reagen sudah mulai menunjukan sedikit perkembangan. Reagen bahkan sempat merespon panggilan Bryan dengan menggerakkan ujung jari telunjuknya sekali.


Jennia memohon pada Dokter Steven untuk dapat melihat Reagen dari dekat.


"Silakan Nyonya, tapi hanya satu orang saja secara bergantian." Dokter Steven mempersilakan.


Craig membiarkan sang istri untuk mengambil giliran pertama.


Wanita itu masuk ke dalam ruang ICU. Dibantu salah seorang perawat yang ada di sana, Jennia memakai pakaian khusus berwarna hijau, sebelum diperbolehkan menghampiri Reagen di bilik perawatannya.


Jennia menutup mulutnya serapat mungkin, tatkala mendapati kondisi putra bungsunya yang dipasangi beberapa alat, seperti ventilator, infus, kateter, dan EKG.


Wanita itu mengusap kepala Reagen dengan sangat hati-hati, sembari berbisik lirih di telinga sang putra. "Bangun, Sayang, ini Mama. Jangan tidur terlalu lama. Banyak yang menunggumu di sini," ucapnya dengan suara bergetar.


Perawat yang ada di sana juga mengatakan hal yang sama dengan Steven, maka dari itu, Jennia terus membisikkan kata-kata penyemangat seraya memanggil-manggil nama Reagen.


Jennia berkali-kali menghapus air mata yang mengalir membasahi pipinya.


"Bangun, Sayang, istri dan anakmu menunggu. Kau tidak boleh meninggalkan kami, apa lagi meninggalkan anakmu yang belum terlahir ke dunia. Zenaya membutuhkanmu, Mama pun membutuhkanmu." Jennia mulai tak bisa menahan diri untuk tidak terisak-isak.


Tak kuat berpijak, wanita paruh baya itu berjongkok seraya berpegangan pada tepi ranjang Reagen. Dia tak henti-hentinya memanggil nama sang putra dengan suara tersendat-sendat.


Craig yang melihat dari luar hanya bisa terdiam. Setetes air mata keluar dari mata tuanya.

__ADS_1


__ADS_2