Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 68: Ingatan Reagen.


__ADS_3

Reagen dan Zenaya kini berada di dalam taksi. Keduanya sama sekali tidak berbicara satu patah kata pun selama dalam perjalanan.


Craig memang menyuruh sang putra dan menantunya untuk pulang dan beristirahat dahulu. Sebab kondisi Zenaya juga tidak memungkinkan untuk ikut menemani mereka di rumah sakit.


Sesampainya di apartemen, Reagen langsung masuk ke kamar mandi, sementara Zenaya merapikan koper milik pria itu. Dia meletakkan kembali pakaian sang suami yang masih bersih ke dalam lemari, sedangkan yang kotor dibawa ke laundry room.


Dahinya mengernyit ketika mendapati salah satu kemeja sang suami tercium bau parfum wanita yang sangat menyengat. Tak hanya di kemeja saja, jas, dan celana panjangnya pun memiliki bau yang sama.


Zenaya mencoba untuk tetap tenang. Dia tak ingin berspekulasi macam-macam hingga menyebabkan pertengkaran kembali terjadi. Itu sangat tidak mungkin, apa lagi kondisi keluarga sang suami sedang ditimpa musibah. Beban berat pasti tengah dipikul Reagen.


Zenaya akan menanyakannya secara baik-baik nanti.


Setelah membereskan seluruh pakaian Reagen, dia kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


...***...


"Rey," panggil Zenaya saat keduanya tengah menyantap makan malam dalam suasana yang tenang.


Ketenangan itulah yang sedikit mengusik hati Zenaya, sebab tak biasanya Reagen berdiam diri seperti ini. Dulu, sewaktu hubungan mereka belum membaik, keduanya memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan saling berdiam diri.


Namun, tidak demikian saat hubungan mereka membaik. Dia akan banyak bercerita soal perjalanan bisnisnya sembari sesekali berusaha menggoda sang istri.


"Ya." Reagen memasang senyum simpul.


"Bagaimana perjalanan bisnismu? Biasanya kau akan selalu menceritakannya padaku," ujar Zenaya.


Reagen terdiam sejenak. "Seperti biasanya saja." Jawab pria itu kemudian.


Zenaya mengangkat alisnya. Reagen seperti tak ingin membahas hal tersebut.


"Emm ... boleh aku menanyakan sesuatu?" Zenaya membuka suaranya lagi


"Apa?" Reagen balik bertanya sembari sibuk memotong daging yang ada di piringnya.


Zenaya berdeham, berusaha mencari-cari kalimat yang pas agar Reagen tidak tersinggung dengan pertanyaannya. "Aku mencium parfum wanita di setelan jasmu, dan itu jelas bukan parfumku."


Reagen menghentikan kegiatan memotong dagingnya. Wajah pria itu yang semula biasa-biasa saja, tiba-tiba berubah sedikit tegang.


Apa yang harus dia katakan?


"Rey." Zenaya memegang tangan sang suami dan menggenggamnya lembut.


"Itu parfum Eleanor, sekretarisku. Undangan pesta yang seharusnya dihadiri aku dan Noah berubah. Wanita itu menemaniku datang ke pesta untuk menggantikan Noah." Reagen menjelaskan dengan jujur, hanya sampai situ.


"Lalu, bagaimana bisa baunya sampai di seluruh pakaianmu?" tanya Zenaya sedikit penasaran.


"Aku terpaksa berdansa dengannya." Tak seperti sebelumnya, kali ini Reagen terdengar sangat hati-hati dalam berbicara.


"Ahh, begitu rupanya." Terdengar helaan napas dari mulut sang istri.


Reagen menatap Zenaya serius. "Kau tidak marah?" tanya pria itu.


Zenaya tertawa kecil. "Untuk apa? Kalian melakukan itu sebagai bentuk penghormatan kepada si pemilik acara, jadi aku tentu saja memahaminya."

__ADS_1


Mendengar hal tersebut, Reagen tanpa sadar mengeratkan pisau makannya.


Entah mengapa, dia jadi sedikit kesal mengetahui sikap Zenaya yang terbilang tidak mudah terpancing dengan sikap Lea.


Mengapa dia begitu saja menerima alasan klasik yang Reagen berikan? Apa wanita itu benar-benar telah mencintainya?


Memikirkan hal itu, Reagen sontak berdiri dari kursi makannya dan pergi meninggalkan Zenaya.


"Mau ke mana? Makanmu belum selesai," kata Zenaya bingung.


"Tidur." Jawab Reagen tanpa menoleh ke arah sang istri.


...***...


Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, tetapi Reagen sama sekali tidak dapat memejamkan matanya.


Ingatan tentang kejadian pada pagi itu masih terngiang-ngiang jelas di benaknya.


Reagen sebenarnya tak tahu apa yang sudah terjadi di antara dirinya dan Lea, saat memenuhi undangan pesta yang diadakan salah satu kolega Walker Group malam itu.


Dia hanya teringat, bahwa di malam pesta itu, Lea menawarkan dua sampai tiga gelas minuman beralkohol padanya.


Namun, entah bagaimana ceritanya, ketika pagi datang tiba-tiba mereka sudah ada di dalam sebuah kamar hotel yang sama dengan tubuh pol0s.


Saat Reagen mencoba meminta penjelasan, Lea dengan wajah bersimbah air mata menjawab, bahwa dia telah memaksanya melakukan hal tersebut, karena menganggap dirinya adalah Zenaya.


"Anda menodai saya dengan terus menyebut-nyebut nama istri Anda!" teriak Lea kala itu.


Lea juga mengancam akan mengatakan segalanya pada Zenaya jika pria itu tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Reagen sempat menolak tegas tawaran Lea, sebab dia benar-benar tidak dapat mengingat perbuatannya malam itu.


Semabuk apa pun dirinya, dia pasti akan langsung mengingat kejadian-kejadian yang sempat terlupakan, ketika telah sadar. Sama seperti halnya dengan Zenaya dulu.


Namun, untuk kejadian yang sekarang, hingga detik ini pun, Reagen sama sekali tidak dapat mengingatnya.


Mendengar penolakan Reagen, Lea tentu saja tidak tinggal diam. Dia tiba-tiba mengambil ponselnya dan memotret keadaan mereka. Saat Reagen mencoba merebut ponsel wanita itu, Lea malah nekat berteriak sembari berlari menuju pintu kamar hotel.


"Jika Anda berani menolak saya lagi, saya akan menyebarkan foto ini kepada seluruh penghuni kantor!"


Reagen refleks duduk dan mengacak rambutnya. Dia tentu tak boleh meremahkan ancaman Lea, apa lagi keluarganya sedang ditimpa musibah.


Reagen menoleh ke arah sang istri yang sudah tertidur pulas di sebelahnya. Perlahan, dia merengkuh tubuh istrinya sembari menggumamkan kata maaf berkali-kali.


...***...


Frans baru saja turun dari mobilnya, yang sengaja dia parkir di basement apartemen. Pria itu menutup kepalanya menggunakan jaket kupluk pemberian Joe, untuk menghindari orang-orang yang mungkin mengenal dirinya.


Jika sampai ketahuan, Frans mungkin saja tidak akan bisa pergi mencari Adam, temannya.


Sesampainya di apartemen, Frans segera mengambil pasport, kartu identitas lain, dan uang tunai yang memang dia simpan di sana. Tak lupa beberapa keperluan lain juga Frans masukkan ke dalam tas ransel besar milik Joe.


"Hei, Don, ini unit Tuan Frans, kan? Kenapa bisa terbuka?"

__ADS_1


"Coba kita periksa, Pak Felix!"


Suara dua orang yang tengah berbincang tiba-tiba tertangkap indera pendengaran Frans.


Frans yang terkejut bergegas menyembunyikan diri di balik lemari pajangan. Diam-diam, dia juga merusak sakelar lampu terlebih dahulu, agar orang-orang tersebut tidak dapat menyalakan lampu apartemennya.


"Oi, apa ada orang di dalam?" teriak salah seorang pria yang ternyata adalah security apartemen ini.


"Sakelar nya rusak, Pak Felix," ucap seorang security lain.


Keduanya menyalakan senter kecil dan menyoroti setiap sudut tempat.


Frans menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit, saat senter mulai bergulir ke arahnya.


"Apa jangan-jangan ada maling, Pak Felix?" tanya si security yang sepertinya masih berusia 20 tahunan itu.


"Ssstt! Jangan berisik, Don!" Security bernama Felix tersebut memberikan isyarat pada temannya untuk tidak berbicara. Dia melangkah memasuki kamar pribadi Frans, sementara yang satu melangkah menuju kamar mandi.


"Donnie, ada sesuatu yang mencurigakan tidak?" tanya Felix begitu mereka bertemu di ruang televisi.


"Tidak ada, Pak." Donnie menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya, kita harus melihat rekaman CCTV. Ayo, Pak!" ajak security muda itu. Keduanya pun pergi meninggalkan apartemen Frans dan menguncinya dari luar.


Frans keluar dari tempat persembunyiannya dengan raut wajah lega. Pria itu pun mempercepat urusannya dan bergegas keluar dari apartemen.


...***...


Saat tiba di ruang CCTV, Donnie meminta izin pada Felix untuk membeli minuman terlebih dahulu. Sementara itu, Felix memeriksa rekaman CCTV di depan unit Frans.


Keningnya berkerut ketika mendapati seorang pria misterius masuk ke dalam apartemen Frans dengan cara biasa. Bukan dengan membobol atau memanipulasi lubang kuncinya.


Tak lama kemudian, mereka tiba di sana dan ikut masuk ke dalam.


"Bersembunyi di mana dia?" gumam Felix saat tidak mendapati sosok pria itu keluar diam-diam. Dia bahkan baru keluar dari dalam sana saat dirinya dan Donnie keluar selang lima menit kemudian.


Namun, yang membuat Felix terkejut adalah sikap pria itu.


Tanpa membuka kupluknya, pria misterius itu menghadap CCTV dan mengangkat jari telunjuknya ke bibir, seolah tahu bahwa dia sedang melihatnya dari sana.


Felix mengulas senyum tipis.


"Bagaimana, Pak? Sudah lihat rekamannya?" tanya Donnie. Dia menyerahkan segelas kopi panas kepada Felix.


"Terima kasih," ucap Felix. "Tidak ada apa-apa. Mungkin pintunya tidak terkunci rapat, jadi gampang terbuka." Pria itu mengangkat kedua bahunya.


"Ahh, masa! Coba sini, aku lihat!" seru Donnie sembari duduk di sebelah Felix.


Saat Donnie hendak melihat rekaman CCTV, tiba-tiba Felix berseru, "Don, sepertinya Tuan James baru saja datang. Cepat temui! Dia, kan, hanya ingin dibantu olehmu."


Donnie melihat layar CCTV lain dan membenarkan perkataan Felix. "Ahh, menyusahkan saja. Sudah tahu tidak kuat mabuk, seharusnya jangan minum! Aku, kan, yang repot!" keluh Donnie keras-keras seraya berlari keluar ruangan.


Felix menggeleng-gelengkan kepalanya. Seulas senyum terpatri di wajah tua pria itu, sebelum akhirnya menghapus rekaman CCTV tersebut.

__ADS_1


"Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi syukurlah Anda baik-baik saja."


__ADS_2