Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 60: Rumor Frans.


__ADS_3

[Selamat pagi, Pak. Maaf, saya baru bisa memberi kabar pada Anda hari ini.


Ada urusan penting mendadak yang harus saya selesaikan secepatnya. Oleh sebab itu, saya tidak sempat berpamitan dengan Anda.


Saya juga tidak bisa memastikan kapan akan kembali ke sini.]


Reagen mengernyitkan dahinya begitu membaca pesan singkat yang dikirimkan Frans, sekretaris pribadinya.


Pria itu menilik dengan saksama pesan singkat dari Frans sekali lagi, dengan raut wajah keheranan. Pasalnya, sekretaris sekaligus orang kepercayaannya itu jarang sekali mengirimkan pesan singkat, selain hanya untuk mengirimkan beberapa dokumen penting. Selebihnya, Frans akan langsung memghubungi Reagen melalui sambungan telepon.


Frans merupakan pria yang memiliki sopan santun. Maka dari itu, sebisa mungkin dia tidak akan menggunakan pesan singkat jika sedang berkomunikasi dengan atasannya tersebut.


Penasaran akan pesan yang dikirimkan Frans, Reagen memutuskan untuk menghubunginya.


Reagen kontan mengangkat sebelah alis, ketika mendapati Frans menolak panggilan telepon darinya, setelah berbunyi sebanyak tiga kali.


[Maaf, Pak, saya tidak bisa menerima telepon Anda, sebab saya sedang sedikit sibuk sekarang.


Sinyal di tempat ini juga sangat susah. Jadi, saya akan sering menonaktifkan ponsel saya.


Saya akan kembali menghubungi Anda nanti. Terima kasih.]


Frans kembali mengirimkan pesan singkat yang kali ini terlihat sangat aneh. Sesibuk apa pun kegiatannya di luar sana, Frans akan selalu mengutamakan dirinya terlebih dahulu.


"Sesibuk apa dia sampai tidak bisa dihubungi," gumam Reagen kesal.


Tak ingin berspekulasi macam-macam, Reagen memutuskan menghubungi seseorang untuk diminta pertolongan.


...***...


Selama berhari-hari Frans sama sekali tidak bisa dihubungi. Dia juga tidak memberi kabar lagi sejak terakhir kali mengirim pesan, hingga tiba-tiba, sebuah surat pengunduram diri datang ke atas meja Reagen.


Reagen terperanjat. Itu merupakan surat pengunduran diri dari Frans. Dia mengatakan akan memulai hidup baru bersama seorang wanita di tempat yang kini dia tinggali. Pria itu juga telah bekerja di sebuah perusahaan kecil di sana.


Frans meminta maaf atas sikapnya yang terbilang sangat tidak sopan, dan dia juga meminta Reagen untuk tidak mengkhawatirkan hidupnya.


Kabar berita soal pengunduran diri Frans yang tiba-tiba langsung menyebar seantero kantor Walker Group.


Rumor-rumor sumbang bahkan diciptakan orang-orang tak bertanggung jawab agar semakin panas. Seperti pertikaian antara pria itu dengan para petinggi Walker Group, terutama Reagen. Penggelapan dana yang sengaja ditutup-tutupi para pejabat tertinggi. Hingga yang paling mencengangkan, adalah rumor perselingkuhan antara dirinya dan Krystal, istri Noah.

__ADS_1


Krystal yang saat ini sedang mengandung 5 minggu bahkan diberitakan hamil karena hasil perbuatan Frans.


Saking emosinya akan rumor tersebut, Noah mengultimatum siapa pun yang tertangkap basah membicarakan istrinya, agar dipecat secara tidak hormat, tanpa pandang bulu.


"Brengsek! Cari tahu siapa yang sudah menyebarkan rumor tak beradab seperti itu!" Noah membanting ponselnya ke atas meja.


"Yang benar saja! Istrimu sama sekali tidak pernah berbincang-bincang dengan Frans. Berpapasan pun saat sedang bersamaku atau dirimu. Jadi, bagaimana mungkin rumor tersebut bisa mengudara ke permukaan!" seru Noah marah.


"Maafkan aku, karena hal ini Kak Krystal sampai harus terlibat," ujar Reagen yang tengah duduk di sofa.


"Bukan kau yang seharusnya minta maaf, tetapi para penggosip biadab itu." Noah memandang dingin sebuah figura foto berisi potret keluarga kecilnya. Pria itu mengelus foto sang istri penuh cinta.


Dia sudah mengingatkan Krystal untuk tidak datang ke kantor terlebih dahulu. Noah tidak ingin sang istri sampai mengetahui berita tersebut, demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Terlebih dia tengah hamil muda.


Reagen memahami kemarahan sang kakak. Sebagai seorang suami, dia sudah pasti memiliki kewajiban untuk menjaga harga diri istrinya. Oleh sebab itu, sebisa mungkin Reagen akan membantu meredam rumor-rumor biadab tersebut.


...***...


Reagen tiba di rumah tepat ketika Zenaya baru saja meletakkan lauk terakhirnya.


Wanita itu menghampiri sang suami dan membantunya membuka sepatu. Tak lupa, dia juga menaruh jas pria itu di ruang laundry.


"Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu," ujar Zenaya.


Wajah Zenaya memerah seketika. Sudah beberapa hari terakhir ini sang suami mulai memanggilnya dengan sebutan demikian.


Semula Zenaya menolak panggilan yang disematkan Reagen, tetapi pria itu malah terus-terusan menerornya dengan sebutan tersebut, hampir setiap lima menit.


Namun, untuk sebaliknya, Zenaya masih belum terbiasa. Reagen pun tidak keberatan.


"Jangan memerah seperti itu," kata Reagen tiba-tiba. Wajahnya seperti tengah menahan sesuatu.


"Kenapa?" tanya Zenaya keheranan.


"Karena kau bisa memancing diriku."


Jawaban Reagen membuat Zenaya sukses melarikan diri meninggalkannya.


Reagen tertawa kecil. Dia pun pergi menuju kamar mandi sembari bersenandung.

__ADS_1


...***...


Selepas mandi, sepasang suami istri itu menyantap makan malam yang sudah Zenaya siapkan.


"Sebaiknya kau duduk diam di sofa saja!" ketus Zenaya. Wajahnya kini tengah menyiratkan kemarahan.


"Kenapa? Aku hanya ingin membantumu," kata Reagen tanpa dosa, sembari menyandarkan dagunya di pucuk kepala sang istri.


Zenaya mendongak, menatap suaminya sinis. Wanita itu terlihat sangat kesal mendengar perkataan pria itu.


Bagaimana tidak. Saat ini, Zenaya sedang sibuk mencuci piring bekas makan malam mereka, tetapi Reagen dengan santainya malah memeluk wanita itu dari belakang.


Alih-alih membantu sang istri mencuci piring, seperti yang baru saja dia katakan, Reagen malah lebih terlihat seperti pengganggu.


Dengan bersusah payah, Zenaya akhirnya berhasil menyelesaikan piring terakhir mereka.


"Sudah selesai?" tanya Reagen polos.


"Kau tentu sudah melihatnya, jadi buat apa bertanya!" seru Zenaya ketus.


Reagen tertawa kecil. "Hanya basa-basi saja," sahut pria itu usil.


Wanita itu kemudian memberontak. "Lepaskan, aku ingin berganti pakaian. Lihat! Bajuku basah gara-gara kau!" Zenaya mencubit dress dibagian dadanya yang basah.


Melihat itu, Reagen bergeming. Dia pun melepaskan sang istri dan membiarkannya pergi.


Namun, saat Zenaya baru sampai di depan lemari, dengan sigap Reagen memeluk kembali wanita itu dari belakang.


Zenaya bisa melihat jelas sosok sang suami dari pantulan kaca lemari.


Embusan hangat Reagen menggelitik telinga Zenaya seketika. Apa lagi, ketika sang suami dengan lembut mulai mengecupi seluruh leher wanita itu.


Kedua tangannya yang bebas bahkan mulai merambat, mengelus perut Zenaya yang semakin membuncit.


"Kau sangat cantik," ucap Reagen di sela-sela kecupannya.


"Tubuhku semakin bulat!" Zenaya memicing, menatap Reagen melalui kaca.


Perkataan Zenaya barusan kontan Reagen tertawa kecil sejenak. "Aku tidak keberatan."

__ADS_1


Reagen melepas pelukannya dan mendorong lembut tubuh sang istri hingga bersandar di lemari.


"Aku mencintaimu," ucap Reagen seiring dengan ciuman panas yang dia daratkan di bibir, leher dan dada Zenaya.


__ADS_2