Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 4 : Ciuman Pertama.


__ADS_3

Sejak kejadian pembullyan beberapa hari lalu, Reagen sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari Zenaya. Hampir setiap saat lelaki itu selalu berada di sampingnya selama di sekolah. Bahkan, jam istirahat pun Zenaya akan lebih banyak menghabiskan waktunya menemani Reagen berlatih basket.


Zenaya tak dapat menampik rasa bahagianya. Dia merasa sangat diistimewakan oleh Reagen. Keraguan akan perasaan Reagen yang semula hadir memenuhi relung hatinya kini sudah hilang tak berbekas.


Kecurigaan Alice, Grace, dan Emily pun berangsur-angsur menguap, setelah mereka melihat sendiri bagaimana Reagen memperlakukan Zenaya dengan baik. Mereka percaya bahwa perasaan lelaki itu memang benar adanya.


Mereka bertiga tahu benar bagaimana tulusnya perasaan Zenaya pada Reagen. dan setianya gadis itu menjaga hati selama bertahun-tahun hanya untuk menyukai Reagen seorang.


...***...


Zenaya baru saja keluar dari bilik toilet dan sekarang tengah mencuci tangannya di wastafel. Senyum sumringah selalu terpatri di wajah cantik gadis itu. Perhatian yang diberikan Reagen selama di sekolah membuat Zenaya merasa terlindungi. Tak ada lagi yang berani mengusik dirinya.


Tak hanya itu saja, Reagen juga tidak sungkan berkenalan dengan kedua orang tuanya saat bertandang ke rumah. Dia bahkan sudah dua kali diundang makan malam oleh sang ibu.


Hal yang selama ini terasa mustahil, kini benar-benar menjadi kenyataan.


Semoga saja hubungan ini bukan hanya sekadar cerita cinta remaja saja.


"Zenaya, kan?"


Panggilan seseorang membuyarkan lamunan Zenaya. Gadis itu segera mematikan kran airnya dan menoleh ke arah sumber suara. Dia sontak terkejut ketika mendapati Natalie berdiri tak jauh dari pintu masuk toilet dengan senyum ramah.


Zenaya mendadak canggung, terlebih ketika Natalie berjalan mendekatinya. Gadis bersurai cokelat itu kemudian mengulurkan tangannya pada Zenaya.


"Hei, aku Natalie," sapa Natalie ramah.


Zenaya menyambut hangat uluran tangan Natalie. Rasa canggung sedikit menguap dari dirinya begitu melihat senyum tulus gadis itu. "Zenaya," balasnya.


"Kau cantik sekali," puji Natalie kemudian. "Sebenarnya, aku ingin sekali menemui dan berkenalan denganmu, tetapi pria itu selalu saja mengekorimu ke mana-mana." Natalie tertawa.


Zenaya yang paham akan maksud Natalie sontak menyunggingkan senyumnya. Ternyata Natalie tak seperti yang dikatakan banyak orang. Dia itu cukup ramah saat berbicara.


"Kau pasti sudah mendengar kabar tentang hubungan kami berdua, kan?" tanya Natalie tiba-tiba.


Zenaya menganggukan kepalanya. "Ya." Jawab gadis itu singkat. "Maaf, jika hubungan pertemanan kalian sedikit merenggang karena–"


"Karena dia sibuk melindungimu?" Natalie meneruskan perkataan Zenaya.

__ADS_1


Zenaya terdiam dan mengangguk pelan.


Natalie kembali tertawa. "Tenang saja. Lagi pula, kejadian waktu itu memang sangat keterlaluan, jadi, sangat wajar apa bila Rey merasa khawatir padamu."


"Terima kasih atas pengertianmu, Natalie. Kau baik sekali," puji Zenaya.


"Sama-sama. Semoga kalian bahagia, ya? Jangan terlalu memikirkan nasibku. Aku dan Rey tidak sedekat yang orang-orang kira." Kali ini, Natalie memasang sebuah senyuman manis, yang entah mengapa terasa agak janggal di mata Zenaya.


Senyuman itu terlihat tak seperti sebelumnya, dan Zenaya merasa sangat tidak nyaman.


Gadis itu mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran buruk yang mulai berseliweran di kepalanya. Natalie memang memiliki garis wajah antagonis, yang pasti sangat mempengaruhi ekspresinya.


"Terima kasih, Natalie. Kuharap kau juga bisa berbahagia dengan pria pilihanmu," ucap Zenaya.


Natalie mengangguk dan pamit pada Zenaya. Dia pun pergi meninggalkan gadis itu.


"Pria pilihanku adalah dia, Zen! Kita lihat saja, akan bertahan sampai kapan senyum kebahagiaanmu itu," ucap Natalie dalam hati.


...***...


Seperti biasa, Reagen akan selalu menyempatkan waktu mengantar Zenaya pulang ke rumah.


"Tidak apa-apa, aku hanya tak ingin kejadian waktu itu terulang lagi," jawab Reagen tersenyum.


"Itu sebelum mereka benar-bemar mengetahui hubungan kita. Sekarang, kau lihat sendiri, kan, tak ada yang berani mengusikku lagi." Zenaya menatap Reagen lembut. Gadis itu merasa tak enak jika harus terus merepotkan Reagen l, sebab akhir-akhir ini kegiatan lelaki itu sangat banyak. Zenaya tak ingin menambah beban lagi.


Reagen terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengiyakan permintaan Zenaya. "Di sekolah kau harus tetap berada di dekatku. Mengerti?"


Zenaya mengangguk. Senyum manis terpatri di wajah cantiknya.


"Kalau begitu, aku masuk dulu. Hati-hati di jalan." Zenaya berpamitan dan keluar dari mobil Reagen.


Reagen kemudian memperhatikan Zenaya yang berdiri di depan gerbang. Gadis itu terlihat menekan tombol interkom yang berada di sana. Raut wajahnya mendadak dingin, tak seramah seperti sebelumnya. Seraya menatap tajam Zenaya, Reagen mencengkram kuat setir mobilnya.


"****!" umpat Reagen sebelum keluar dari mobil dan menghampiri Zenaya.


"Ada apa?" tanya Zenaya saat mendapati Reagen belum juga pergi dari sana.

__ADS_1


Bukannya menjawab, lelaki itu malah semakin mendekatkan diri pada Zenaya. Wajah Reagen yang selalu minim ekspresi membuat Zenaya tidak menyadari, bahwa dia sedang menahan kekesalannya.


Gerbang besar rumah Zenaya terbuka. Sebelum gadis itu benar-benar masuk ke dalam, Reagen dengan cepat menarik tangannya dan mengecup lembut bibir Zenaya.


Mendapat perlakuan tiba-tiba seperti itu, Zenaya jelas terkejut. Gadis itu kontan terpaku dengan bola mata nyaris keluar dari tempatnya.


"Aku ... mencintaimu, Zenaya," ucap Reagen sembari tertunduk.


Zenaya masih terdiam. Bibirnya yang baru saja disentuh oleh Reagen mendadak kebas. Kendati itu hanyalah sebuah kecupan singkat, tetapi tetap saja mampu membuat hati Zenaya terombang-ambing.


"Ciuman pertamaku!" jerit Zenaya dalam hati.


Melihat reaksi Zenaya yang sangat aneh membuat Reagen khawatir juga. Dia takut gadis itu tiba-tiba pingsan atau menjerit-jerit bak orang gila.


"Zen, maaf jika aku lancang," kata Reagen.


Zenaya mengangguk kaku.


Samar-sama Reagen menghela napas lega saat Zenaya merespon perkataannya.


"Aku pulang dulu." Tak ingin berlama-lama di sana, Reagen bergegas pergi. Namun, tanpa disangka Zenaya menangkap pergelangan tangannya.


Kali ini Reagen yang terkejut, karena Zenaya tiba-tiba mendaratkan sebuah kecupan manis di pipinya.


"Hati-hati di jalan," pesan gadis itu sebelum melesat masuk ke dalam rumah. Dia sudah tak bisa menahan malunya lebih lama lagi jika terus berada di sana.


Wajah Reagen berubah datar. Tanpa sepengetahuan Zenaya, dia menghapus jejak jejak gadis itu di pipi dan bibirnya.


"Sialan!"


...***...


Leon, Zack, dan Xander tertawa terbahak-bahak selepas menonton video rekaman dari dashcam milik Reagen. Mereka sama sekali tidak menyangka, lelaki itu akan sangat mudah menuruti semua kemauan mereka.


"Ternyata semudah ini menundukkan lelaki seperti Reagen," ujar Leon sinis. Di tangannya terdapat sebuah kunci mobil yang sedari tadi dia mainkan.


"Kira-kira bagaimana reaksi Natalie saat melihat ini?" Xander kembali tertawa.

__ADS_1


"Ahh, kalau Natalie, kita sudah pasti dapat menebak bagaimana reaksinya. Memang kalian tidak penasaran dengan reaksi gadis bernama Zenaya itu, jika tahu bahwa semua yang Rey tunjukan hanyalah kepalsuan belaka?" Zack ikut bersuara.


Xander berdiri. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam kantong celana. "Betul juga. Sayang sekali kita tidak bisa melakukannya. Aku tak mau mengambil resiko atas kemarahan Rey. Sudah pasti dia tidak akan tinggal diam jika kita membeberkan semuanya pada Zenaya."


__ADS_2