Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 55: Kekhawatiran.


__ADS_3

"Biar aku saja yang mengurus mobilmu. Kau selesaikan masalahmu dengan Zenaya," titah Bryan. Pria itu memandang tajam sahabatnya yang pagi-pagi sudah muncul kembali di rumahnya dengan alasan mobil.


Reagen bergeming.


Bryan berkacak pinggang saat Reagen tak juga bergerak dari sana.


Bryan masuk ke dalam rumahnya dan mengambil kunci mobil lain. Dia memberikan kunci mobil itu pada Reagen. "Pakai mobilku dulu. Pulanglah dan jangan membuat kekacauan lagi!"


...***...


Tahu bahwa Reagen mungkin tak akan pulang ke rumah, Zenaya memutuskan untuk memgunjungi rumah orang tuanya demi menenangkan pikiran.


"Sayang!" Amanda memeluk Zenaya begitu putrinya tiba di sana. Mereka masuk ke dalam rumah untuk menemui Liam dan Adryan yang juga sedang berada di sana.


"Mana Rey?" tanya Liam begitu melihat putrinya.


"Masih ada urusan, Pa. Jadi aku ke sini sendiri," jawab Zenaya sembari mengecup pipi Liam.


"Kalian baik-baik saja, kan?" Kali ini giliran Adryan yang membuka suaranya. "Kau terlihat sedikit pucat."


Mendengar perkataan Adryan, ketiga kompak menoleh ke arah Zenaya dan menatapnya intens.


Zenaya memutar kedua bola matanya. "Aku baik-baik saja. Jangan sedikit-sedikit mencurigai sesuatu. Apa lagi aku bukan pasien kalian," kata wanita itu merajuk.


Amanda tertawa kecil.


Namun tiba-tiba, Zenaya menatap Adryan dengan pandangan aneh selama beberapa detik, sebelum akhirnya mengeluarkan seringai jahil.


Melihat hal tersebut, Adryan mengerutkan keningnya. "Kenapa kau? Setiap kali memperlihatkan wajah seperti itu, kau pasti ingin menjahiliku, kan?" Adryan sontak memasang sikap waspada.


Zenaya menggeleng. "Tidak kenapa-kenapa. Aku hanya ingin Kakak menceritakan tentang gadis itu. Sudah sampai mana hubungan kalian?" tanyanya dengan raut wajah jenaka.


"Gadis? Kakakmu sedang dekat dengan seorang gadis?" Amanda menatap dua anaknya bergantian. Wajahnya terlihat sumringah.


Liam yang terbilang sedikit cuek soal urusan pribadi kedua anaknya, tiba-tiba jadi ikutan penasaran.


Maklum saja, sejak pulang ke tanah air putra sulungnya itu tak pernah terlihat ke mana-mana karena terlalu sibuk di rumah sakit. Memang, Amanda beberapa kali memergoki Adryan pergi keluar rumah, tetapi hanya sebentar. Jadi tak mungkin rasanya dia pergi kencan dalam waktu sesingkat itu.


Adryan pura-pura kembali fokus menatap layar ponsel, sembari menyeruput ice coffe-nya.


"Iya, Ma. Dengan seorang model terkenal, Natalie Atkinson. Dia merupakan teman seangkatanku di sekolah menengah atas."

__ADS_1


Perkataan Zenaya sukses membuat Adryan menyemburkan minumannya.


Wanita itu terbahak. Dia sengaja menekan beberapa kalimat terakhir.


"Ahh, yang Papa dengar, ayah gadis itu memang sedang menjalani rawat jalan di rumah sakit kita," ujar Liam.


"Benar." Jawab Zenaya.


Ketiganya kemudian menatap Adryan, menunggu pria igu bicara. Namun, Adryan malah pergi dari sana demi menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat.


"Kau berhutang cerita padaku!" teriak Zenaya begitu Adryan sampai di tengah-tengah anak tangga.


"Cerewet, tukang gosip!" balas Adryan jengkel. Mereka sudah dewasa, dan adiknya bahkan tengah hamil, tetapi bisa-bisanya dia masih senang saling meledek begini.


...***...


"Kau benar tidak ingin ikut kami, Sayang?" tanya Amanda sekali lagi. Wanita itu sedikit tak rela meninggalkan putri bungsunya.


"Tidak, Ma. Silakan berkencan sepuasnya, aku tak ingin menjadi pengganggu." Zenaya terkikik.


Amanda tersenyum. Kendati Liam jarang di rumah karena sibuk bekerja, tetapi mereka selalu menyempatkan waktu pergi berduaan setiap akhir pekan. Zenaya tentu saja tak ingin mengganggu kegiatan rutin mereka tersebut.


"Baiklah, kami pergi, Sayang." Amanda mengecup lembut pipi Zenaya dan mengelus perut buncitnya. Begitu pun dengan Liam.


Zenaya mengangguk. "Papa tak perlu khawatir."


"Selamat bersenang-senang," ucap Adryan yang datang tiba-tiba dari belakang. Dia merangkul pundak sang adik.


"Jaga adikmu, Ryan," pesan Liam.


"Siap!"


Sepeninggal kedua orang tuanya, Adryan menatap Zenaya penuh tanya.


"Aku tahu yang kau pikirkan," ujar wanita itu sinis.


"Jadi?" Adryan mengangkat sebelah alisnya.


"Buatkan aku makanan enak, maka aku akan menceritakan segalanya." Zenaya memamerkan gigi-gigi putihnya pada sang kakak.


"Deal!"

__ADS_1


Mereka pun saling melempar tawa. Keputusan yang tepat untuk pulang ke rumah terlebih dahulu, karena dengan begini dia bisa sedikit melupakan masalahnya dengan Reagen.


Untuk masalah foto, wanita itu berniat akan menemui Alex saat masuk kerja nanti. Dia tak bisa membiarkan ini berlarut-larut.


...***...


Alex tertawa terbahak-bahak begitu mendengar laporan dari orang suruhannya, yang memang dia perintahkan untuk mengawasi Reagen dan Zenaya.


Tepat beberapa saat setelah Reagen menerima foto tersebut, pria itu terlihat keluar dari apartemen seorang diri, dan baru kembali hampir pagi dalam keadaan mabuk.


Sepasang suami istri itu sepertinya sedang bertengkar.


"Sudah kukatakan, aku tak akan pernah membiarkan kalian bahagia." Alex kembali tertawa. Kali ini dia tengah memikirkan rencana lain agar keduanya semakin saling menjauhkan diri, dengan begitu Alex akan lebih mudah masuk ke tengah-tengah Zenaya.


...***...


"Terima kasih sudah mengantarku pulang, Kak," ucap Zenaya sembari membuka seatbelt-nya. Adryan menawarkan diri untuk mengantar sang adik pulang saat mengetahui, bahwa Reagen sama sekali tidak datang menjemput. Zenaya memberi alasan kalau Reagen akan pulang larut malam.


"Sampaikan salamku padanya," pesan Adryan.


Zenaya mengangguk. Dia pun keluar dari mobil setelah mencium pipi sang kakak.


"Hati-hati di jalan." Zenaya melambaikan tangannya.


Adryan pun pergi meninggalkan apartemen sang adik.


Di sepanjang perjalanan pulang, pikiran Adryan kembali pada perkataan Zenaya sore tadi.


Rupanya, pria yang dicintai Natalie dan tak bisa dilupakan oleh wanita itu adalah Reagen, adik iparnya sendiri. Itu lah sebabnya Natalie pura-pura tidak mengetahui soal siapa dirinya, padahal jelas-jelas dia memiliki nama keluarga yang sama dengan Zenaya, dan juga telah melihat foto sang adik waktu itu.


Adryan mengeratkan pegangannya pada setir mobil. Secara tidak langsung Reagen telah menyakiti kedua gadis yang dia cintai.


"Aku akan membuatmu melupakan pria itu, Nat," gumam Adryan.


...***...


Apartemen masih sangat gelap saat Zenaya tiba di sana. Reagen tampaknya belum kembali sejak kepergiannya pagi tadi. Kekhawatiran melanda pikiran Zenaya, sebab pria itu sama sekali tidak bisa dihubungi.


Zenaya mencoba menghubungi ponsel sang suami, tetapi kali ini, ponsel pria itu malah dimatikan.


"Pergi ke mana kau sebenarnya?" Batin Zenaya. Wanita itu mulai menangis. Dia tak tahu harus menghubungi siapa, sebab dia juga tidak memiliki nomor ponsel teman-teman Reagen.

__ADS_1


Zenaya bisa saja meminta nomor Natalie pada Adryan, tetapi tidak mungkin dia lakukan, sebab nanti mereka akan ketahuan sedang bertengkar.


Wanita itu pun memutuskan untuk menunggu Reagen pulang.


__ADS_2