Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 56: Fakta.


__ADS_3

Pertengkaran yang terjadi di antara Reagen dan Zenaya membuat hubungan mereka semakin merenggang. Kendati begitu, Reagen tidak tinggal diam. Dia meminta tolong pada Frans untuk mencari tahu identitas Alex, siapa keluarganya, dan dari mana dia berasal.


Reagen menutup lembaran kertas yang baru saja Frans berikan. Alex rupanya bukan dari keluarga sembarangan. Perusahaan farmasi yang dikelola keluarganya sukses besar. Prestasi pria itu di bidang kedokteran juga sangat cemerlang.


Kakeknya merupakan seorang pensiunan dokter spesialis terkenal di sana.


"Apa lagi yang kau tahu tentang pria itu, selain yang ada di sini?" tanya Reagen.


"Saya sempat menghubungi salah satu teman yang bertugas sebagai penyidik di sana. Pria bernama Alex itu ternyata memiliki satu catatan kriminal. Namun, ketika teman saya mencoba mengakses catatan kriminalnya, sistem otomatis memblokir si pengakses."


Reagen mengangkat sebelah alisnya.


"Saran saya, Anda harus berhati-hati, Pak," pesan Frans.


...***...


Alex baru saja hendak keluar dari ruangan untuk makan siang, ketika tiba-tiba Zenaya muncul dengan membawa lembaran foto.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun wanita itu melempar foto-foto tersebut ke atas meja Alex. "Apa maksudmu memberikan potongan foto ini pada suamiku?" tanya Zenaya dingin.


Alex mengambil selembar foto dan menatapnya. "Aku tidak mengerti," kata pria itu pura-pura tidak tahu. Dia mendorong kembali foto tersebut ke arah Zenaya.


"Aku tahu ini berasal darimu. Foto ini di ambil dari dashcam milikmu. Siapa lagi yang bisa memberikannya kalau bukan kau!" seru Zenaya sinis.


Alex tersenyum sinis. "Oke, oke, kalau memang itu dariku, lalu apa yang akan kau lakukan?"


Zenaya mengambil foto-foto tersebut dan mengeluarkan korek api yang memang sengaja dia bawa. Tanpa diduga, foto tersebut dibakar oleh Zenaya dan dihempaskan ke lantai.


"Apa yang kau lakukan, Zen? Itu foto berharga!" pekik Alex.


"Jauhi aku, dan jangan ganggu hidupku." Zenaya menatap Alex dingin, lalu pergi meninggalkan ruangan pria itu.


Alex mengepalkan tangannya. Pria itu membanting salah satu figura foto yang tergeletak di atas meja.


"Ancaman perempuan kecil sepertimu tak akan mempan untukku, Zen," ujar Alex sembari mengepalkan tangannya.


...***...

__ADS_1


Malam harinya, Bryan datang berkunjung ke kantor Reagen. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya tatkala mendapati Reagen masih sibuk berkutat dengan pekerjaan, alih-alih pulang ke rumah.


"Zenaya pasti sudah menunggumu di rumah," kata Bryan mengingatkan.


Reagen tak menghiraukan perkataan sahabatnya. Dia tetap fokus menatap layar laptopnya.


Bryan mendengkus kesal. Pria itu kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku, dan membuka salah satu file video sebelum memberikannya pada Reagen.


"Aku mendapatkan rekaman CCTV ini dari salah satu kenalanku," kata Bryan. Dia benar-benar membantu Reagen untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Zenaya dan pria bernama Alex tersebut.


Pekerjaannya sebagai pengacara memudahkan Bryan untuk meminta tolong pada beberapa kenalannya yang merupakan petugas kepolisian.


Reagen menerima ponsel Bryan.


"Video diambil dari beberapa kamera pengawas yang ada di sana." Bryan memulai pembicaraannya dengan serius.


"Awalnya mobil yang dikendarai pria itu berhenti di pinggir jalan. Tak berapa lama kemudian, Zenaya terlihat keluar dari dalam mobil dan kabur meninggalkan Alex. Namun, pria itu ternyata menahan tangan Zenaya, dan mendekap tubuhnya. Kau bisa lihat sendiri, dia bahkan hampir saja melecehkan istrimu," ujar Bryan ketika video menunjukkan Alex berusaha mencium Zenaya.


Reagen menonton video itu dengan raut wajah dingin. Tangannya terkepal kuat.


CCTV yang berada tepat di seberang jalan menangkap jelas bagaimana Zenaya menangis sesenggukan sembari sesekali mengintip ke arah jalanan, memeriksa apakah pria brengsek itu mengikuti dirinya atau tidak.


Sorot mata Reagen berubah sendu. Perasaan bersalah menghampiri benak pria itu. Tak bisa terbayangkan seperti apa ketakutan Zenaya saat itu, dan apa yang terjadi jika dia tak menemukan dirinya di sana.


Reagen juga menyesal karena lebih mementingkan egonya. Padahal sang istri beberapa kali ingin mencoba menjelaskan, tetapi dia sama sekali enggan mendengarkan.


"Tak ada alasan menyakitkan dibalik keinginanku malam itu. Harusnya kau tahu bagaimana kesulitanku menghilangkan trauma ini. Aku hanya tak ingin terus-terusan terjebak di dalamnya ... dan, semestinya kau bisa memahami itu."


Reagen masih mengingat perkataan Zenaya semalam, saat wanita itu mencoba menjelaskannya kembali. Namun, dia malah meninggalkannya sendirian di sofa.


Selama mereka bertengkar, Zenaya sama sekali tidak tidur di ranjang yang sama dengannya, dan Reagen tidak peduli akan hal tersebut.


"Kau berusaha membuatnya kembali mencintaimu. Namun, ketika perasaan itu telah kembali, mengapa kau tidak mempercayainya?" Bryan melipat kedua tangannya.


Perkataan Bryan sontak menampar telak hati Reagen. Tanpa pikir panjang dia bangkit dari kursi dan memeluk sahabatnya erat. "Thanks, bro," ucapnya tulus.


...***...

__ADS_1


"Cari tahu siapa yang coba mengaksesnya dan singkirkan!" seru Alex dingin, sebelum akhirnya menutup sambungan telepon.


Pria itu kemudian membanting ponselnya ke dinding hingga hancur berantakan.


Seorang teman baru saja mengabari pria itu, bahwa ada seseorang yang sedang berusaha mencari tahu catatan kriminalnya.


Alex sudah dapat menebak jika itu semua pasti perbuatan Reagen. Dia memang harus berhati-hati dengan keluarga Walker. Mereka memiliki sedikit power dan tidak bisa diremehkan.


"Brengsek!" umpat Alex.


...***...


Reagen tiba di rumah pukul sembilan malam. Keningnya berkerut ketika mendapati apartemen dalam keadaan gelap gulita. Saat tidur mereka memang biasa mematikan seluruh lampu, tetapi, sepertinya masih terlalu dini untuk Zenaya tidur.


Saat Reagen melangkahkan kaki menuju saklar lampu, samar-samar dia bisa mendengar suara rintihan seorang wanita.


Pria itu terkejut ketika mendapati Zenaya duduk tak berdaya di lantai dapur. Wanita itu menyandarkan dahinya di pintu kulkas, sementara tangan kanannya terlihat memegangi perut. Pecahan gelas juga nampak berserakan tepat di sebelah kaki Zenaya.


Reagen bergegas lari menghampiri wanita itu. "Zen, ada apa? Kau bisa dengar aku?" tanya Reagen khawatir.


"Perutku kram," ucap Zenaya lirih. Keringat dingin mengucur deras dari keningnya.


"Kita ke rumah sakit!" kata Reagen sembari bersiap mengangkat tubuh sang istri.


Saat tangannya disisipkan ke paha belakang Zenaya, tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang basah.


Mata Reagen kontan terbelalak begitu melihat tangan dan lengannya terdapat banyak bercak darah yang berasal dari tubuh Zenaya.


Tubuh pria itu mendadak dingin. Jantungnya berdegup tak karuan. Dengan sigap, Reagen mengangkat tubuh Zenaya dan berlari keluar dari apartemen secepat mungkin.


Beberapa orang security yang melihat Reagen berlari seraya menggendong Zenaya di lobby, lantas menawarkan diri untuk mengantar mereka.


Menggunakan mobil miliknya, salah seorang security muda membantu sepasang suami istri itu pergi ke rumah sakit.


Kepala Zenaya terkulai di pangkuan Reagen dengan mata terpejam.


"Maafkan aku," ucap Reagen lirih. Pria itu menempelkan dahinya pada dahi sang istri. "Kumohon, maafkan aku."

__ADS_1


__ADS_2